Feature

200 Jam Kelas di Bali, Berkiprah di Batam

Mengenal Joanna Margaretha, Guru Yoga Termuda

Joanna menunjukkan sertifikat kelas yoga 200 jam yang ia pelajari selama di Bali. (Chahaya Simanjuntak/Batam Pos)

Usianya baru 19 tahun. Tidak seperti teman seusianya yang kini kuliah atau sekedar nongkrong dan berkumpul dengan teman-teman sepantaran menghabiskan waktu. Joanna Margaretha jauh dari kesan itu. Dia punya banyak mimpi besar. Satu mimpi besar itu kini diraihnya, yakni menjadi yogi pada usia kurang dari 20 tahun.

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK
Editor : MOHAMMAD TAHANG

HARI belum terang, tapi perempuan yang akrab disapa Nona itu sudah bangun dari tidurnya. Ia pun mempersiapkan diri, mandi, mengganti baju tidur ke baju senam, sarapan pagi, lalu berangkat mengajar yoga dari rumahnya dari Perumahan Citra Kota Mas ke Dynamix Studio, studio yoga milik ibunya di Batam Center.

Advertisement
JOANNA memberikan pelajaran kelas yoga di studio Dynamix Yoga di kawasan Batam Center, beberapa waktu lalu. (Chahaya Simanjuntak/Batam Pos)

”Tiga kali seminggu saya mengajar yoga. Senin dan Rabu pukul 08.00 WIB, sedangkan Jumat ngajar pukul 17.15 WIB,” ujar Joanna ketika ditemui di Batam Center beberapa waktu lalu.

Saat mengajar, dengan ramah ia menyapa para muridnya. Dia memosisikan matrasnya persis di tengah para muridnya, membelakangi dinding kaca, lalu mulai mengambil posisi duduk bersila sempurna dan mulai dengan pemanasan dengan meditasi.

Para muridnya, yang usianya jauh di atas usianya pun mengikuti. Duduk di atas matras, kedua kaki saling terkait, lalu mengikuti gerakan yoga darinya, diikuti alunan suara musik lembut yang menenangkan. Dengan suara lembut, Nona mengajak muridnya supaya bernafas, menghirup dan mengeluarkan dari hidung.

Ada yang unik. Nona masih berusia 19 tahun, tapi para muridnya adalah usia-usia yang sepantaran dengan om, tante, atau bahkan kakek dan neneknya.

”Murid saya itu tidak ada yang sepantaran saya. Usianya jauh di atas saya. Ada yang usia 63 tahun, 56, 41 tahun, 39 tahun, dan usia 30-an juga. Itu jelas tantangan bagi saya selain mengajar online juga,” ungkapnya.

Usai mengajar yoga selama 1,5 jam dalam setiap kali pertemuan, kakak dari Gita dan Patrick ini pun turun dari studio di lantai dua menuju kafe kecil di lantai satu. Kepada koran ini, ia mengungkapkan telah lima tahun berkenalan dengan yoga. Tepatnya pada 2015 lalu.

”Tidak sengaja. Waktu itu mama sakit saraf terjepit lalu mengambil kelas yoga untuk penyembuhan. Satu tahun mama yoga, saraf terjepitnya sembuh dan terus latihan yoga. Lalu mama mengajak Nona ikut yoga karena yoga itu bagus katanya. Nona ikut saja. Eh cocok,” kenangnya.

Nona pun rutin latihan yoga. Segala jenis pergerakan yoga mulai ia kuasai satu per satu. Karena kelas yoga ini, dia jadi mengenal tubuhnya. Ternyata dia dianugerahi badan yang fleksibel.

”Yoga itu kan memanfaatkan kelenturan tubuh. Ternyata itu salah satu bless yang aku terima. Back-bends pose yang menurut orang lain sulit dan sakit, saya malah menikmati setiap gerakannya,” ungkapnya.

Dua tahun berjalan, dia pun menghentikan sementara latihan yoganya. Dia mengikuti kelas pertukaran pelajar ke Meksiko, selama satu tahun penuh mewakili SMA Yos Sudarso, tempat ia menuntut ilmu kala itu.

”Selama di Meksiko, saya belajar studi kawasan, membuka mata kita bahwa ternyata dunia ini luas, ada ragam budaya dan banyak hal yang tadinya kita tak tahu menjadi tahu,” jelasnya.

Apakah selama di Meksiko, ada waktu tertentu untuk latihan yoga? ”Tidak. Namun kalau ada jadwal traveling mengunjungi objek wisata di negara itu, saya kadang pose yoga,” ujarnya tertawa sambil menunjukkan salah satu fotonya yang kayang di objek wisata alam di Meksiko.

Nona kembali ke Indonesia pada 2018. Saat itu ia tak lantas langsung latihan yoga. Terlebih dulu ia mengulang kembali kelas yang ia tinggalkan selama pertukaran pelajar.

”Nah, pulang dari Meksiko, berat badanku naik 10 kilogram. Nggak bisa dibiarin. Sehabis jadwal sekolah, saya putuskan untuk kembali beryoga dan diet makanan tentunya. Supaya semangat, jadwal yoga saya bareng dengan jadwal yoga mama,” ungkapnya dengan tawa lepas.

Joanna pun rutin beryoga kembali. Sudah tak terbilang manfaat yoga yang ia terima. Ia merasa kini lebih sehat, bentuk tubuh yang proporsional, serta manajemen emosi yang ia bisa kontrol. Menguasai banyak gerakan yoga, ia pun membatin, kenapa tak jadi guru yoga saja?

Joanna merupakan putri pertama dari pasangan Palembang-Karo, Mulyadi dan Ripka Sembiring. Dia mengisahkan, ibunya dulu adalah seorang hotelier senior di Kepri. Saat karirnya menanjak, justru memilih banting setir dan menjadi guru yoga. Demikian juga Joanna, yang akhirnya mengikuti jejak sang ibu menjadi guru yoga.

”Tidak ada yang tahu masa depan. Dulu nggak pernah terpikirkan akan menjadi apa saya di dewasa nanti. Let it flow saja. Kaya mama, dulu ikut yoga karena sakit, eh nyatanya malah jadi guru yoga dan punya studio yoga sendiri. Rencana Tuhan itu kita tak tahu, Jalan-Nya bukan jalan kita, tapi baik adanya buat kita,” ungkapnya bijak.

Namun, menjadi guru yoga bukanlah hal yang mudah untuk dia dapatkan. Ia harus mengorbankan banyak waktu, materi, dan juga harus belajar disiplin, serta mengorbankan jadwal keberangkatannya untuk kuliah ke Jerman.

Untuk menjadi guru yoga, Joanna harus mengambil pelatihan sertifikasi 200 jam yoga di Udana Yoga, Pranava Yoga Studio di Bali. Di sana ia mengikuti pemuridan, latihan yoga selama delapan jam setiap hari. Berbagai jenis pelajaran tentang yoga yang ia ikuti yakni asana, pranayama, meditasi, anatomi yoga, filosofi, chakra body, the five koshas, belajar metodologi, the art of adjustment, yoga nidra, kryas, anatomi of subtle body, nadhis, body lab and analysis, hingga public speaking.

Dari pelatihan itu, Joanna menyadari bahwa ternyata yoga itu penyatuan diri yang menghubungkan fisik, mental, dan spiritual melalui gerakan tubuh dan lewat pernafasan.
”Yoga itu holistik. Menyatukan jiwa spiritual dan jiwa universal kita. Memberikan ketenangan batin. Dan yang paling berasa itu, kita dapat mengontrol emosi dari dalam, menerima jiwa dan tubuh kita apa adanya. Sepenuhnya. Baik saat mengajar maupun saat untuk diri sendiri,” ungkap Joanna bijak.

Begitu lulus 200 jam kelas di Bali, Joanna pun langsung berkiprah di Batam. Dia langsung mendaftar sebagai guru yoga di studio milik ibunya di Dynamix Yoga, Kompleks Batam Center Square, belakang Holland Bakery di Batam Center. Dalam mengajar kelas, kepada para muridnya ia mengajarkan tahapan meditasi, stretching, warming up, dan yoga flow, pendinginan, pranayama (pernafasan), lalu savasana (closing).

Sebagai guru baru dengan murid yang usianya jauh di atasnya, Joanna mengaku punya tantangan yang berat. Secara usia dia harus hormat pada murid-muridnya. Dalam menentukan gerakan, ia sempurna tapi muridnya kadang tak bisa mencapainya.

”Saya harus mengerti murid-muridku. Saya harus paham karakter mereka satu per satu. Apakah mereka kecapean? apakah aku ngajarnya terlalu keras? Kadang kalau mereka sudah memberikan sign bahwa tak mampu untuk mencapai gerakan yoga tertentu yang ajarkan, saya selalu siapkan opsi yang gampang untuk diikuti,” ungkapnya.

”Saya tak boleh egois sama diri sendiri. Mereka harus diperhatikan juga. Mereka sudah membayar saya untuk kelas ini dan saya harus mengajar mereka dengan hati juga. Semua butuh proses, saya butuh penyesuaian juga untuk mereka,” tambahnya.

Dengan mengajar yoga ini, Joanna mengaku memahi tiga karakter para muridnya. Yakni yang pertama ada murid yang bisa mengikuti yoga dengan melihat dan mendengar baru paham.

”Yang kedua karakter hanya dengan melihat yogi saja, muridnya langsung bisa mengikuti, sedangkan yang ketiga, hanya dengan mendengar saja tanpa melihat yogi, bisa menguasai gerakan. Dengan tiga karakter ini saya belajar dan harus tahu kelemahan murid-muridku dimana dan bagaimana saya menyelesaikannya terhadap mereka,” jelasnya.

Menjadi guru yoga bukan cita-cita final Joanna. Dia masih punya mimpi besar, yakni mengikuti Ausbildung, beasiswa kuliah sambil bekerja di Jerman. Saat ini, selain mengajar yoga, waktunya pun ia isi dengan les Bahasa Jerman dan persiapan ujian Goethe tersebut pada Juni mendatang. ”Doakan tahun ini bisa berangkat,” ungkapnya.

Meskipun yoga pada awalnya merupakan arahan dari sang ibu yang mengajarkan bahwa dalam hidup, seorang perempuan tidak boleh melupakan kodratnya dan wajib punya life skill, tapi kemauan dari diri Joanna-lah yang mengantarkannya hingga akhirnya menjadi guru yoga termuda di Batam atau bahkan di Indonesia saat ini.

“One day, saya ingin buka cabang Dynamix Yoga di Jerman. Berharap alam semesta dan Tuhan memberijalan,” tutupnya penuh harap. (*)