Feature

Deg-degan meski Hanya 15 Menit di Subway

Cerita Diaspora di AS di Tengah Sentimen Asian Hate

Zafran Akhmadery Arif (tengah)

Meski khawatir, sejumlah WNI di AS tetap berkegiatan seperti biasa tanpa harus mengamuflasekan diri. Ada yang bersama komunitas ”membalasnya” dengan kebaikan.

Reporter: DINDA JUWITA-ZALZILATUL HIKMIA
Editor: Jamil Qasim

MALAM itu, perjalanan pulang Steffie Gabriela tak seperti hari-hari biasanya. Sulit baginya tak deg-degan selama berada di subway. Jarak dari Queens, rumah teman yang disinggahinya malam itu, ke rumahnya di Brooklyn yang sama-sama berada di New York, Amerika Serikat, memang bisa ditempuh 15 menit saja. Tapi, saat itu terasa begitu lama.

Advertisement

Maklum, kondisi sedang tak kondusif. Ada sentimen Asian Hate berupa tindak kekerasan kepada warga keturunan Asia di sejumlah kota di AS. Beberapa hari sebelumnya, dua remaja diaspora RI menjadi sasaran pemukulan di Stasiun SEPTA City Hall, Philadelphia.

BERKEGIATAN SEPERTI BIASA: Meski agak khawatir dengan sentimen Asian Hate, Steffie Gabriela tak lantas menutup diri.

”Belakangan, memang sempat worried sejak ada kasus di Phily (Philadelphia) karena we never know kan. Tapi, sejauh ini saya juga tak lantas menutup diri,” ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos dari Jakarta pada Minggu (18/4).

Sentimen Asian Hate itu akhirnya memang berdampak pada aktivitas banyak warga Asia dan keturunannya di AS. Beberapa bahkan benar-benar mengamuflase dirinya dengan memakai kacamata, masker, atau topi agar ciri fisiknya menjadi samar.

Steffie memilih untuk tak melakukannya. Lagi pula, dia menyebut bahwa sebenarnya masih banyak warga AS yang toleran dan proaktif menggagas aksi sosial untuk memerangi rasisme. ”Di sini juga banyak warga yang start GoFundMe untuk memberikan donasi dan membantu orang-orang yang takut saat di perjalanan untuk dibayar akomodasinya menggunakan Uber atau Lyft,” ungkap alumnus New York University tersebut.

Sebagai seorang yang cukup vokal menyuarakan isu kesetaraan gender dan human rights dalam keseharian, Steffie tentu tak hanya duduk berpangku tangan. Dia sering terlibat langsung dalam aksi-aksi sosial. Salah satu aksi yang diikutinya adalah Black Lives Matter yang berlangsung masif di Negeri Paman Sam. ”Saat rally Stop Asian Hate, saya tak bisa hadir karena harus menjalani vaksinasi,” katanya.

Hampir lima tahun tinggal di AS dan kini harus hidup di tengah sentimen rasisme, Steffie tak keder. Perempuan kelahiran Jakarta itu memahami bahwa rasisme tak hanya terjadi di AS, tapi juga di berbagai belahan dunia lain. Dia juga tak lantas homesick dan ngotot pulang kampung ke tanah air. ”If I go karena Asian Hate ini, it’s like cuma satu titik di antara semua masalah di AS,” ucap perempuan yang menyelesaikan studi sarjana strata 1 di Universitas Indonesia tersebut.

Zafran Akhmadery Arif sependapat. Diaspora yang kini menempuh studi matematika terapan di Washington State University itu menyatakan bahwa persoalan rasisme tak hanya terjadi baru-baru ini. Meski begitu, tak ada kecemasan tersendiri yang dirasakannya. Masifnya dukungan dari lingkungan sekitar cukup membuatnya ayem.

”Isu rasisme memang ada, tapi lebih banyak yang melindungi daripada memberikan rasisme. (AS) adalah rumah. Isu rasisme di mana pun akan selalu ada. Di AS atau Indonesia pun ada,” jelasnya kemarin (19/4).

Sebagai seorang muslim, pemuda 21 tahun itu juga proaktif memberikan penjelasan kepada rekan-rekan terdekatnya jika ada yang menanyakan hal-hal terkait dengan keyakinannya. Mantan presiden Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) Pullman, Washington, tersebut merasa mendapat dukungan yang luar biasa meski merupakan minoritas.

”Di kampus saya, justru circle-nya tidak suka dengan penindasan atau perundungan. Yang ketahuan melakukan bullying atau rasisme malah yang dijauhi society di sini,” kata lulusan International Islamic Boarding School, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, tersebut.

Di sisi lain, Bernadethe tak bisa menyembunyikan kegalauannya. Banyaknya aksi rasisme yang terjadi belakangan membuatnya tak habis pikir. Apalagi, korban didominasi kaum sepuh yang tak kuasa melawan.

”Kebanyakan menyerang orang tua. Ada yang didorong, dijambak, macam-macam. Sempat baca berita bahwa ada kejadian serupa. Lokasinya nggak jauh dari rumah, hanya beberapa blok,” ungkapnya kepada Jawa Pos Kamis (8/4).

Yang membuat Anti –sapaan akrab Bernadethe– makin sedih, setelah melakukan aksi jahatnya, pelaku nyelonong begitu saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Korban yang merupakan seorang perempuan keturunan Asia ditinggal begitu saja setelah rambutnya menjadi sasaran penjambakan.

”Saat beritanya muncul, disebutkan bahwa di CCTV terlihat victim-nya jatuh, pelakunya pergi gitu aja. I think ada mental health problem itu pelakunya,” ucap perempuan yang telah delapan tahun tinggal di Brooklyn, New York, tersebut.

Tak berbeda dengan cerita Steffie dan Zafran, Anti menyebut bahwa sejatinya banyak dukungan yang diberikan warga. Dukungan itu bukan hanya dari sesama warga keturunan Asia. Warga kulit putih dan ras lain yang ditemuinya juga sangat toleran.

Dia juga mengapresiasi KJRI yang terus merangkul warga diaspora RI di sana. KJRI pun menyediakan hotline yang bisa dihubungi jika ada warga yang mendapatkan serangan.

Meningkatnya kasus kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia di Amerika Serikat ini memang langsung ditanggapi serius oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Apalagi setelah kasus dua WNI yang menjadi korban beberapa waktu lalu.

Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah mengungkapkan, perwakilan Indonesia di AS telah meningkatkan upaya perlindungan terhadap 142 ribu WNI di sana. Upaya itu dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya, mengeluarkan imbauan kepada WNI agar lebih waspada dan berhati-hati hingga sosialisasi knowing your rights (ketahui hak-hakmu). ”Perwakilan RI juga terus lakukan komunikasi dengan simpul-simpul masyarakat dan mahasiswa Indonesia di AS,” terangnya.

Selain itu, KJRI sudah menindaklanjuti laporan WNI korban kekerasan kepada kepolisian. KJRI New York diketahui telah menghubungi kantor wali kota Philadelphia untuk menyampaikan masalah perundungan terhadap dua WNI beberapa waktu lalu. ”WNI juga diminta segera melapor ke kantor kepolisian terdekat atau menghubungi perwakilan RI bila menjadi korban pelecehan atau kekerasan bermotif rasial,” tuturnya.

Selain langkah tersebut, lanjut dia, Kemenlu melalui Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa telah melakukan pembicaraan dengan Acting Assistant Secretary of State for East Asian and Pacific Affairs Kemenlu AS Sung Kim. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia meminta perhatian otoritas AS atas perlindungan dan keselamatan WNI di sana.

Menurut Anti, meski banyak orang Asia yang mendapatkan perundungan, mereka tak lantas membenci. Anti menceritakan bahwa banyak diaspora RI dan komunitas masyarakat yang ”membalasnya” dengan melakukan kebaikan. ”Biasanya, dalam satu wilayah itu justru ada komunitas sendiri. Mereka itu sering sekali bagi-bagi sembako atau mengadakan kegiatan sosial lainnya. Sembakonya nggak hanya dibagikan ke yang sesama komunitas, tapi juga ke warga lingkungan sekitar,” jelas perempuan asal Jakarta tersebut. (*)