Bintan-Pinang

Sambut Muhibah Budaya Festival Jalur Rempah, BPNB Kepri akan Perkenalkan Budaya hingga Perayaan Pantun

Rapat koordinasi dengan pemda, dinas terkait, komunitas dan media persiapan sambut muhibah budaya festival jalur rempah, Rabu (21/4/2021). (f.Peri Irawan/batampos.id)

batampos.id– Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan meminta dukungan Pemprov Kepri melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) untuk menyukseskan pelayaran muhibah budaya dan festival jalur rempah yang akan sampai digelar September 2021 mendatang.

BACA JUGA: 

Gunawan menjelaskan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan menjadi salah satu titik penting persinggahan pelayaran muhibah menggunakan kapal legendaris KRI Dewaruci yang akan berlayar dari Banda Neira pada 17 Agustus 2021 dan tiba di Kepri pada 14 September 2021 mendatang.

Advertisement

“Jadi pada 14 September kapal milik TNI AL itu akan bersandar di pelabuhan Fasharkan Mentigi Tanjung Uban. Membawa awak kapal sekitar 50 orang dan peserta hasil seleksi dari 34 Provinsi di Indonesia membawa misi budaya,” kata Gunawan, Rabu (21/4/2021) kemarin.

Gunawan menjelaskan program pelayaran muhibah budaya dan festival jalur rempah itu diharapkan dapat menjadi tempat pertemuan pelaku budaya lintas daerah, wahana diplomasi, serta kampanye untuk mengangkat kembali sejarah peradaban nusantara dan kearifan lokal. “Ada lima pilar festivalnya, ada festival seni, kuliner, ramuan, historia, dan fashion,” ujar Gunawan.

Menurut Gunawan, rempah-rempah itu bisa menggerakkan semua pihak seperti pertanian, makanan, fashion sehingga diharapkan bisa disukseskan oleh semua pihak.

Sementara itu, Kepala BPNB Kepri Toto Sucipto menyebutkan pihaknya sudah mempersiapkan serangkaian acara untuk menyambut peserta pelayaran muhibah budaya dan festival jalur rempah saat tiba di Kepri, seperti kegiatan jelajah jalur rempah di Sungai Carang. “Kita ingin peserta mengenali sejarah, terutama di hulu riau ini termasuk cerita tentang Lancang Kuning. Apakah memang nyata atau mitos, akan kita teliti lebih lanjut,” ungkap Toto.

Selain itu, lanjut Toto juga ada festival budaya untuk para komunitas, pameran kemaritiman, pameran warisan budaya tak benda (WBTB), hingga cerita-cerita sejarah melayu di Pulau Penyengat. “Kita juga ingin ada perayaan pantun, kita ingin masyarakat tahu kalau pantun sudah diwariskan sebagai budaya dunia, kita semua berkewajiban melestarikan itu,” tambahnya. (*)

Reporter: Peri Irawan
editor: tunggul