Zetizen

Ciptakan Sejarah dengan Kembangkan Desa

Batampos.id – PERKEMBANGAN teknologi dan informasi nggak cuma berdampak positif, tapi juga berdampak negatif. Nggak pandang umur, siapa aja bisa terpapar dampak negatif tersebut. Nah, cara paling efektif untuk menghindarinya adalah mengalihkan fokus dan perhatian pada kegiatan lain. Hal itulah yang diterapkan Achmad Irfandi, seorang pemuda asal Sidoarjo, untuk mendirikan Kampung Lali Gadget (KLG).

KLG
GUBUK BACA: Irfandi dan anak-anak Kampung Lali Gadget menerima donasi buku dalam rangka kegiatan donasi 1.000 buku di bulan Literasi Rotary.

Menurut pengamatannya, saat ini orang-orang cenderung nggak peduli dengan lingkungan sekitar karena lebih fokus pada layar gadget mereka. Interaksi sosial secara nyata pun berkurang karena tergantikan media sosial. Nggak heran kalau akhirnya anak-anak muda sekarang lebih hafal tren di medsos daripada kearifan budaya lokal. Padahal, sebagai generasi penerus bangsa, kita perlu memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk menjaganya.

”Sejak kenal gadget, orang-orang jadi zombi pemburu wifi. Yang paling memprihatinkan itu anak-anak. Mereka tidak lagi bermain layangan maupun kelereng, tapi malah pergi ke warkop untuk cari wifi buat game online. Dan itu tanpa pengawasan orang tua,’’ ucap Irfandi. Apalagi, saat pandemi, banyak orang tua yang membebaskan anak-anak untuk mengakses gadget dengan dalih belajar online. Irfandi khawatir kalau hal-hal buruk di internet ditiru mereka.

Advertisement
RHAPSODY: Foto atas, anak-anak KLG belajar make up dan pantomim bersama seorang seniman bernama Agung Ridwan. Setiap pekan anak-anak KLG diajak bermain permainan tradisional untuk mengurangi penggunaan gadget. Salah satu permainan tradisional di gubuk dolanan adalah wayang. Selain bermain, mereka berlatih menjadi dalang untuk persiapan event festival dongeng.

Oleh karena itu, Irfandi termotivasi memprakarsai KLG. Dibangun pada 2018, KLG bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap gadget dengan menyediakan gubuk baca dan gubuk kebun. KLG sengaja di-setting sederhana (gubuk) agar anak-anak terbiasa beraktivitas dan menikmati suasana sederhana desa. Di dua arena tersebut, mereka juga bisa bermain permainan tradisional, mulai egrang, bakiak raksasa, panahan, sampai kelereng.

Sayang, hidup nggak selamanya mulus. ”Banyak sekali tantangan dan hambatan. Tetapi, tantangan yang sangat besar justru perkembangan teknologi itu sendiri. Sebab, masyarakat jadi berlomba meningkatkan kualitas teknologi dan gaya hidup modern. Sehingga hal-hal berbau kesederhanaan, kehidupan desa, dan kearifan lokal makin ditinggalkan,’’ jelas pemuda yang dijuluki Matarsoek oleh teman-temannya itu.

Achmad Irfandi FOR ZETIZEN

Hambatan lain seperti fasilitas minim, keterbatasan dana, dan sulit mengedukasi orang tua nggak bikin semangat Irfandi luntur. Dia tetap memperjuangkan KLG dengan menjaring relasi seluas-luasnya. And finally, perjuangannya terbayar! Kampung Lali Gadget jadi kado besar untuk kemajuan Desa Pagerngumbuk, Wonoayu. Hal yang paling membanggakan adalah keterlibatan semua elemen masyarakat, mulai anak-anak sampai orang dewasa.

Achmad Irfandi FOR ZETIZEN

Tiga tahun KLG berdiri, banyak sekali dampak positif yang ikut dirasakan masyarakat. Terlebih dalam segi edukasi dan ekonomi. Buktinya, ada sepuluh UMKM yang keuntungannya meningkat setiap ada event KLG. Selain itu, masyarakat mulai teredukasi bahwa kearifan lokal desa mampu melejit meski tanpa anggaran besar. Anak-anak desa juga bahagia saat KLG bikin acara. Sebagai suatu inovasi yang nggak lahir dari pemerintah, KLG diharapkan bisa jadi role model program dengan dampak nyata.

Nah, selain mengelola KLG, Irfandi sibuk berwirausaha membuat produk udeng khas Sidoarjo. Tujuannya, tentu untuk mengenalkan kearifan lokal, khususnya kepada anak muda. Sebagai penutup, Irfandi berpesan agar kita sebagai remaja nggak begitu saja melupakan sejarah. Justru kita wajib menciptakan sejarah. ”Media sosial hanya mempermudah. Jangan terjebak pada eksistensi. Kita juga harus mengabadikan diri pada aksi!’’ pungkasnya. (arm/c12/rat)

Achmad Irfandi FOR ZETIZEN
KLG: Foto atas, Irfandi bersama anak-anak Desa Pagerngumbuk saat kunjungan dari Universitas Islam Negeri Surabaya. Untuk mengisi waktu liburan, anak-anak KLG belajar menggoreng kerupuk dengan pasir. Aktivitas menggoreng kerupuk wedi ini bertujuan mengenalkan sejarah pengolahan makanan kepada anak-anak.

 

KECEPATAN arus informasi di internet kadang bikin kita takut kudet. Alhasil, kita lebih banyak berhadapan dengan layar digital. Padahal, terus-menerus melihat layar bisa memberikan pengaruh buruk bagi mental dan fisik kita. Nah, inilah cara digital detox! (arm/c12/rat)

Saat ini kita nggak bisa sepenuhnya terlepas dari layar HP dan laptop. Namun, pasti ada kok waktu di mana kita nggak memerlukannya. Nah, saat itulah waktu yang tepat untuk detoksifikasi kecil dari pengaruh perangkat digital yang bisa berpengaruh pada kesehatan kita.

Biar nggak bingung antara waktu penggunaan perangkat digital dan detoks, buatlah jadwal! Atur waktu, kapan kita memakai dan menjauhi perangkat tersebut. Misalnya, menjauhkan diri saat makan, tidur, dan berinteraksi dengan orang lain. Atau, bisa juga pakai metode twenty-twenty. Yakni, 20 menit menatap layar dan 20 menit mengalihkan pandangan untuk melihat objek lain.

Waktu ingin istirahat, pernah nggak sih ke-distract sama bunyi notifikasi? Berawal dari satu notifikasi, eh, jadi keterusan buka aplikasi lain. Kita bisa menghindari gangguan semacam itu dengan mematikan notifikasi lho. Selain itu, background warna-warni ternyata bisa jadi gangguan! Sebab, warna yang menarik bikin kita tertarik buka HP. Hahaha.

Kalau akhir pekan, coba ”buang” dulu gadgetnya. Sebab, akhir pekan kan waktu berkumpul bersama keluarga, melakukan kegiatan outdoor, ataupun hang out sama teman-teman. Percayalah, menikmati alam bisa meningkatkan mood dan menciptakan kebahagiaan.

ZETS OF THE DAY

“Lupakan Gadget Sejenak Yukkk”

Reporter : Diella Marfika Tama
Editor : Agnes Dhamayanti

SEIRING berkembangnya teknologi, gadget menjadi item yang tak pernah tertinggalkan. Padahal, ketergantungan gadget bisa berdampak buruk lho bagi kesehatan mental dan fisik kita. Maka dari itu, diperlukan untuk kita mengisi waktu luang seperti weekend dengan hal-hal yang bermanfaat. Seperti quality time dengan keluarga atau teman, melakukan hobi, dll. Kira-kira seperti apa sih weekend bermanfaat versi teman millenial kita? Yuk kita simak! (*)

F. Dok. Pribadi

Fathimiyah Al Farra
Pendidikan Matematika Universitas Riau
Instagram : @fa.farraaa

Jika kita kaitkan dengan bulan Ramadan pastinya banyak banget manfaat yang kita lakukan tanpa gadget, misalnya saja mengaji dan menunaikan salat sunah. Untuk anak muda sekarang yang berpuasa dan yang tidak, mungkin bisa melakukan kegiatan masak bersama dan dibagikan ke orang membutuhkan, ini pasti seru banget dan rasa lelah gak akan terasa karena dilakukan bersama, itung itung juga dapat pahala yang berlimpah dan menjalin silaturahmi dengan toleransi sesama umat beragama, jadi semua orang khususnya remaja pasti bisa melakukan ini. Terus juga dengan suasana Ramadan bisa juga ngabuburit barengan dengan menaati protokol kesehatan tentunya. Atau mungkin bisa masak-masak bareng tetangga. Apapun halnya banyak juga yang bisa kita lakukan selagi itu hal positif. Mungkin juga olahraga dan sebagainya. (*)

F. Dok. Pribadi

Riyadhul Jannah
STIT Hidayatullah Batam
Instagram: @r_jannah23

Waktu yang sangat dinantikan setiap orang dari berbagai kalangan termasuk anak sekolah dan orang dewasa. Karena weekend adalah waktu istirahat setelah melakukan aktivitas beruntun selama berhari-hari baik di sekolah maupun di tempat kerja. Nah, untuk hari libur, banyak waktu luang yang akhirnya dihabiskan untuk scroll sosmed di gadget dengan bluelight yang ternyata berdampak negatif bagi kesehatan. Daripada akhirnya sakit karena gadget, banyak banget hal bermanfaat yang bisa temen-temen lakukan tanpa gadget. Ngumpul bareng keluarga, nyobain resep masakan baru, main game tradisional seperti selodor, kasti, dan olahraga lainnya bareng temen kompleks. Dijamin lebih seru dehh. Kan kasian kalo matanya harus terus dipaksa melihat layar. (*)

F. Dok. Pribadi

Abdul Naser Parinduri
SMA Negeri 2 Tualang
Instagram: @abdulnsrp

Banyak aktivitas yang dapat kita lakukan. Tentunya kegiatan itu harus produktif, seperti kita mulai dari bangun pagi, dan berolahraga pagi seperti jogging atau bersepeda pagi. lalu kita bisa melakukan quality time dengan keluarga seperti mengobrol santai sambil minum teh ataupun menonton bareng keluarga. Selanjutnya kita juga bisa beraktivitas bersama teman dengan melakukan hobi yang sama, seperti melakukan hobi olahraga bareng contohnya bermain futsal, basket, berenang, dan olahraga lain yang kalian sukai.

Hal lain juga yang dapat dilakukan bareng teman-teman milenial bisa dengan jalan-jalan seperti jajan di street food, dan nongkrong tapi tentunya nongkrong yang bermanfaat dengan membahas suatu topik permasalahan yang sedang hangat yang berhubungan dengan milenial, tentunya tanpa gadget. Ya , buat jurnal sambil nongkrong asik juga tuh, produktif sekali. Serta wisata alam, mengunjungi museum, bermain wahana seru, dan masih banyak lagi. (*)