Ekonomi & Bisnis

Jumlah Investor di Pasar Modal Mencapai 1,9 Juta pada Masa Pandemi

ILUSTRASI. Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9). Pada September 2020, pasar sering mengalami crash sehingga harga saham terdiskon. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

batampos.id – Berdasarkan data dari The Central Depository and Book Entry Settlement System (C-BEST) pada Januari 2021 jumlah investor di pasar modal telah mencapai 1,9 juta. Investasi saham di tengah pandemi makin diminati oleh masyarakat.

Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan, angka tersebut meningkat dari sebelum masa pandemi yang mencapai 1,1 juta. “Ada Covid-19 bukannya turun malah naik 1,9 juta,” ujarnya secara virtual, Selasa (27/4).

Sementara, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah ekuitas investor retail pun meningkat 5 kali lipat, yaitu sebanyak 250 ribu per hari. “Jadi, jika dibandingkan dengan Januari tahun lalu meningkat 5 kali lipat,” ungkapnya.

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, Founder & CEO Emtrade Ellen May juga mengatakan, peningkatan jumlah investor pada masa pandemi dimulai sejak Maret 2020. Namun, peningkatan tersebut lantaran adanya saham yang valuasinya mengalami penurunan sehingga menjadi waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi.

BACA JUGA: Deposito dan Reksadana Saham Investasi Alternatif

Menurutnya, pada bulan Maret dan September 2020 sedang terjadi crash di pasar saham sehingga banyak saham yang valuasinya terdiskon sama seperti tahun 2008. “Dan itu menjadi kesempatan yang bagus untuk kita berinvestasi, bahkan sekarang pun belum terlambat,” ungkapnya.

Meskipun demikian, Ellen mengungkapkan untuk pemula yang ingin berinvestasi di aset investasi beresiko tinggi tersebut, maka harus mempelajari seluk beluk ilmu mulai secara fundamental maupun secara teknikal. Hal itu untuk mengantisipasi kerugian akibat dari pergerakan fluktuasi harga.

“Mungkin kalau untuk pemula secara teknikal lebih praktis karena untuk fundamental banyak sekali faktor yang harus dipelajari. Tapi kalau belum paham keduanya dan ingin mencoba, mungkin ilmu yang harus dipelajari adalah manajemen risiko atau manajemen portofolio,” pungkasnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung