headline

April, Rata-Rata 35 Warga Batam Terpapar Covid-19 Tiap Hari

Walikota Batam Rudi saat memimpin rapat penanggulangan bahaya covid di alun alun Batamcenter, Selasa (4/5/2021). (f.humas Pemko Batam)

batampos.id – Perkembangan kasus Covid-19 di Batam, empat bulan terakhir mencapai rekor tertinggi, terutama di bulan April. Berdasarkan data sejak empat bulan terakhir jumlah kasus sudah bertambah mencapai 1.774. Kepala Bidang Kesehatan, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam, Didi Kusmarjadi menyebutkan Januari jumlah kasus 5.625 dan di April naik menjadi 7.399 kasus.

BACA JUGA: 61 PMI yang Dikarantina di Rusunawa BP dan Pemko Batam Terkonfirmasi Positif Covid-19

“Peningkatan selama bulan April mencapai 1.079 kasus dengan rata-rata kasus mencapai 35 orang per hari. Ini merupakan rekor tertinggi sejak awal pertama kali ditemukan,” sebutnya.

Advertisement

Untuk penyebab meningkatkan kasus ini, diasumsikan melemahnya Protkes, meningkatnya mobilisasi, adanya peningkatan aktivitas yang menyebabkan kerumunan masyarakat, serta adanya mutasi virus Covid-19 yang menular lebih cepat dari varian sebelumnya.

“Jadi sementara itulah penyebab meningkatnya angka kasus. Makanya perlu pengawasan dan kesadaran yang lebih tinggi untuk menekan angka kasus,” imbuhnya.

Didi menegaskan mobilisasi dan meningkatnya aktivitas yang menyebabkan kerumunan menjadi penyebab meningkatnya penyebaran kasus. Karena berdasarkan hasil survei dari tim pusat, Kepri termasuk wilayah dengan tingkat kepatuhan yang cukup tinggi yaitu 90 persen.

Saat ini Batam secara nasional masih berada di zona oranye. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan adalah pemberlakuan pembatasan berskala mikro, penutupan rumah ibadah, melakukan isolasi mandiri, dan melakukan tracing dengan kontak erat. Ini adalah beberapa tindakan yang dilakukan pemerintah daerah, ketika berada dalam zona oranye.

“Untuk itu, mobilisasi penduduk dan pembatasan aktivitas yang menyebabkan kerumunan harus ditekan. Agar kasus bisa ditekan,” ujarnya.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi meminta pelaksanaan ibadah di rumah ibadah harus menerapkan dan memperhatikan Protkes. Kapasitas tempat ibadah hanya boleh terisi 50 persen dari daya tampung. Panitia atau pengurus rumah ibadah juga diminta mengatur jarak ketika beribadah.

“Semua harus diatur. Jangan sampai ada klaster rumah ibadah. Begitu juga aktivitas yang menimbulkan keramaian, nanti tim akan turun untuk menindak pelanggaran seperti ini. Saya minta semua pihak mau membantu pemerintah dalam mengendalikan Covid-19 ini,” ungkapnya.

Sementara untuk pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri, Rudi mengungkapkan tetap diperbolehkan digelar. Pelaksanaan diutamakan digelar di lapangan. Seluruh panitia masjid diminta mencari lapangan yang bisa digunakan untuk salat id nanti.

”Sementara itu dulu solusinya. Nanti kalau ada kendala kita carikan lagi solusinya. Yang penting kenyamanan umat terjamin, jangan sampai ada kegiatan yang membahayakan umat,” tambahnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Zulkarnain Umar mengatakan sejauh ini untuk rumah ibadah masih berpedoman pada protokol kesehatan. Pelaksanaan ibadah juga masih sesuai dengan aturan yang sudah dikeluarkan.

“Kalau untuk masker semua pakai. Untuk jarak memang kemarin ada laporan yang tidak menerapkan jarak, tapi kami sudah ingatkan kembali melalui pengurus masjid,” ujarnya.

Untuk pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri diimbau untuk digelar di lapangan. Hingga kini pihaknya melalui petugas yang ada di KUA masing-masing kecamatan masih mendata lokasi dan titik pelaksanaan salat Idul Fitri. “Tiap tahun titik salat mencapai 600 lebih. Kalau tahun ini masih belum tahu. Karena kami fokuskan salat di lapangan,” tutupnya. (*)

Reporter : YULITAVIA
Editor : tunggul