Ekonomi & Bisnis

Bumi Semakin Rusak, Ekosistem Mulai Terganggu Akibat Aktivitas Industri

Aksi kelompok Ecological Observation and Wetlands Conversation (Ecoton) saat melakukan uji sampel limbah busa di dekat Rumah Pompa Tambak Wedi kemarin (18/3). Anggota Ecoton juga mengajak masyarakat untuk menjaga kualitas air di Surabaya. (Dok. Ahmad Khusaini / Jawa Pos)

batampos.id – Kerusakan bumi semakin memprihatinkan. Ekosistem bumi pun mulai terganggu, salah satunya dengan aktivitas industri.

Aktivitas industri yang mengganggu ekosistem adalah limbah yang dihasilkan. Bukan hanya berbahaya bagi manusia, tapi juga bagi hewan dan tumbuhan, termasuk ekosistem alam yang menunjang kehidupan mereka apabila tidak dikelola dan diolah dengan benar.

Lantas, dibuang kemana limbah-limbah ini agar tak merusak alam? Mungkinkah dimusnahkan? Atau bisakah kita olah hingga aman bagi lingkungan?

Advertisement

Untuk itu, Manager Humas PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) Arum Pusposari menyampaikan, untuk mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan limbah industri yang dikenal dengan sebutan B3 (bahan beracun dan berbahaya), pihaknya pun menggandeng insan pers dalam Lomba Karya Jurnalistik Lingkungan PPLI 2021. Harapannya dengan ini, masyarakat dapat lebih memahami pengelolaan limbah B3.

Adapun, pelaksanaan lomba dimulai dari 1 Mei sampai 1 Juni 2021. “Publik dan dunia usaha butuh diedukasi tentang bahayanya limbah B3 dan wajib tahu bagaimana memperlakukan limbah tersebut, agar aman bagi lingkungan,” jelas Arum dalam siaran tertulisnya, Senin (3/5).

Melalui momentum ini, masyarakat akan mendapatkan banyak informasi yang benar dan baik soal limbah B3 serta bagaimana proses penanganannya sesuai aturan. Tema yang diusung adalah “Menjaga Nusantara Melalui Penanganan Limbah Industri Bahan Beracun dan Berbahaya Secara Terintegrasi”.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 8.000 spesies tumbuhan dan 2.215 spesies hewan yang sudah teridentifikasi. Spesies hewan terdiri dari 515 mamalia, 60 reptil, 1.519 burung, dan 121 kupu-kupu.

Besarnya keanekaragaman hayati Indonesia terkait erat dengan kondisi iklim dan kondisi fisik daerahnya. Maka dari itu, lomba ini diadakan selaras dengan semangat untuk melindungi alam Indonesia yang notabene memiliki keragaman hayati luar biasa.

BACA JUGA: Meningkatnya Jumlah Paus Terdampar, Ancam Ekosistem Bumi

“Tugas kita semua untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka. Jika alam rusak oleh limbah, maka keragaman hayati di Indonesia tinggal menjadi dongeng pengantar tidur,” imbuhnya.

Apalagi pada 22 Mei mendatang, dunia akan merayakan Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati 2021. Dengan langkah ini, diharapkan manusia serta industri lebih sadar akan pengelolaan limbah.

“Tanggal 22 Mei itu hari Keragaman Hayati. Karenanya kita mengingatkan dan mengajak semua pihak ikut peduli menjaganya untuk masa depan anak cucu kita,” tutup Arum. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung