Feature

Kami Ikhlas, tapi Semoga Jenazahnya Bisa Ditemukan…

Kolam Ikan, Upacara Ngedetin, dan Kaus Kiriman

Prosesi upacara ngedetin Mayor Laut Anumerta I Gede Kartika di Celukan Bawang, Buleleng (26/4). (F. EKA PRASETYA JAWA POS/RADAR BALI)

Tak ada lagi akhir pekan bersama antara Serda Harmanto dan putri kecilnya. Hilang sudah harapan keluarga di Medan bertemu Serda Hendro Purwoto pada Lebaran ini. Dan, Kapten I Gede Kartika pergi ”berpatroli selamanya” meninggalkan istri yang tengah hamil anak kedua.

Reporter: GALIH W – EKA P – ZULFIKAR R – FACHRIL S
Editor: MOHAMMAD TAHANG

”AYAH, kapan pulang?”

Advertisement

Kabar KRI Nanggala-402 hilang kontak baru saja sampai ke kediaman Serda Ttu Harmanto di Desa Tumapel, Gresik, Jawa Timur. Eli Lailatul Afifah, sang istri, seketika histeris dan berusaha mengontak sang suami. Tapi, nomor tak bisa dihubungi.

Di tengah kepanikan itu, Aqiyla Puspa Wardhani, putri kedua pasangan Harmanto-Eli, diam-diam mengambil ponsel. Dan, terkirimlah pesan lewat WhatsApp di atas.

Pada saat yang tak terpaut jauh, di Banjar Dinas Lebu Gede, Karangasem, Bali, I Wayan Darmanta sangat terkejut ketika membaca berita yang masuk ke WhatsApp terkait hilang kontaknya KRI Nanggala pada Rabu (21/4) pekan lalu itu. Ada nama keponakannya di daftar kru: Kapten Laut (P) I Gede Kartika.

”Saya langsung hubungi adik saya (orangtua Gede) di Gorontalo dan benar Gede ikut di dalamnya,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Bali (grup Batam Pos).

Ribuan kilometer dari Karangasem, kakak-adik, Joko Purwono-Ririn Purwanti, langsung teringat janji sang adik, Serda Lis Hendro Purwoto, untuk pulang Lebaran ini begitu mendengar kabar dari perairan utara Bali itu.

”Sejak menikah, Hendro belum pernah mudik ke Medan,” kata Ririn kepada Sumut Pos (grup Batam Pos) yang menemuinya di Jalan Mangaan IV, Lorong Rahayu, Gang Rahayu 4, Kelurahan Mabar, Kota Medan, Sumatera Utara. ”Dia janji bawa istri dan anaknya Lebaran ini,” timpal Joko.

Masih ada semen tersisa. Bangunan kolam ikan di depan teras kediaman Harmanto itu memang belum selesai.

”Mau dilanjutin, tapi kok badan capek semua. Besok berangkat layar,” tutur Mujiono, ketua RT 10, RW 05, Desa Tumapel, menirukan Harmanto dari cerita yang didengarnya.

Harmanto, kenang Mujiono, memang sosok yang nyaris tak bisa diam. Selalu ada yang dia kerjakan ketika berada di rumah saat lepas tugas.

Kalau tidak utak-atik motor sang istri, ya motor anak pertamanya, Fajar Pratama Putra, yang duduk di kelas XI SMA, yang digarap. Bahkan, renovasi rumah pun dikerjakan sendiri.

Tapi, sesibuk dan selelah apa pun, Harmanto juga selalu menyisihkan waktu untuk tiga anaknya. ”Tiap pulang dinas, ayahnya anak-anak itu pasti menyempatkan waktu untuk sekadar bermain dan ngobrol bersama anak-anak. Tiap mau tugas juga selalu mengajak si kecil (Amanda Zhafirah Widyanata) ke mana saja yang dia mau saat akhir pekan,” tutur Eli kepada Jawa Pos (grup Batam Pos).

Harmanto dan Eli dikaruniai anak-anak yang berprestasi di sekolah. Fajar rutin juara kelas. Begitu pula sang adik, Aqiyla. Amanda masih duduk di bangku TK.

I Gede Kartika juga putra kebanggaan keluarga. Dia putra Bali kelahiran Gorontalo setelah ayah-ibunya, I Nengah Renes dan Ni Wayan Sudarmi, bertransmigrasi ke provinsi yang dulu bagian dari Sulawesi Utara tersebut sana sekitar 30 tahun silam.

Gede Kartika adalah salah seorang lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut (AAL) di angkatannya yang dilantik Presiden (saat itu) Susilo Bambang Yudhoyono pada 2010. ”Saya sebenarnya ditelepon ketika itu diminta ikut hadir. Sayangnya, saya sedang berhalangan karena ada kegiatan di desa,” kata I Wayan Darmanta, kakak sepupu ayahanda Gede Kartika.

Meski lahir dan besar di Gorontalo, hubungan Gede Kartika dengan keluarga besar di Bali masih terjalin erat. Darmanta menuturkan, keponakannya tersebut selalu mengabari tiap akan menggelar latihan.

Menjadi prajurit TNI-AL memang cita-cita suami Ni Made Suandari itu sejak kecil. Karena itu, begitu tamat SMA di Gorontalo, Gede Kartika yang setelah berkeluarga bermukim di kawasan Cerme, Gresik, ikut seleksi AAL dan diterima.

Salah satu ambisinya adalah berlayar bersama kapal latih KRI Dewa Ruci. Impian itu akhirnya tercapai. Begitu dinyatakan lulus Akademi Angkatan Laut (AAL), dia berkesempatan berlayar bersama kapal latih tersebut.

Gede Kartika dan istri, kata Darmanta, dikaruniai seorang putra berusia 4 tahun. Kini sang istri juga tengah hamil anak kedua.

Pada sehari setelah Nanggala hilang kontak, keluarga di Karangasem langsung menggelar persembahyangan. Keluarga melakukan ritual nunas baos atau memohon petunjuk secara niskala melalui perantara penekun spiritual (balian).

”Dari hasil nunas baos itu katanya ada ikan besar yang menabrak kapal. Kembali lagi, inilah kepercayaan, ini hasil secara niskala. Tapi, kami berharap yang terbaik,” terang Darmanta.

Joko Purwono kini juga hanya bisa memandangi baju kaus kiriman adiknya, Hendro Purwoto. Dua pekan sebelum musibah dialami Nanggala, dia sempat melakukan video call dengan adiknya yang tinggal di kawasan Menganti, Gresik, tersebut.

Ketika itu Hendro bilang akan pergi berlayar untuk latihan perang. ”Waktu saya video call itu, keponakan saya juga pas di Surabaya dan jumpai dia (korban). Pas keponakan saya pulang, dititipi baju kaus. Ini baju kenangan terakhir dari almarhum adik saya,” tutur Joko dengan nada pelan sambil menunjukkan bajunya.

Selain Kapten Gede Kartika serta Serda Harmanto dan Serda Hendro, tiga prajurit TNI-AL yang menjadi kru Nanggala juga bermukim di Gresik. Mereka adalah Kapten Yohanes Heri, Letda Adhi Laksmono, serta Serda Lis Syahwi Mapala.

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menyebut mereka sebagai patriot. Yani juga mengajak warga di kabupaten yang dipimpinnya berdoa untuk mereka. ”Semoga amal ibadah putra-putra terbaik bangsa Indonesia yang telah gugur dalam musibah KRI Nanggala-402 diterima Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan,” ujarnya.

Di Buleleng, Bali, pada Senin (26/4) pekan lalu, keluarga Kapten Gede Kartika juga menggelar upacara ngedetin di Pelabuhan Celukan Bawang. Ritual itu berselang sehari setelah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan bahwa seluruh kru KRI Nanggala gugur. Nanggala on eternal patrol (berpatroli selamanya).

”Adik saya (ayah Gede Kartika) sudah di Surabaya. Dia memasrahkan upacara keagamaan kepada keluarga di Karangasem,” kata I Wayan Darmanta.

Ritual itu dilangsungkan di Pura Swagina Bhuana Merta, Desa Adat Celukan Bawang. Di sana, keluarga melangsungkan upacara matur piuning dengan dipimpin rohaniwan setempat. Baru setelah itu, keluarga melakukan upacara ngedetin atau memanggil arwah Kapten I Gede Artika untuk disemayamkan di rumah duka di Desa Lokasari, Kecamatan Sidemen, Karangasem.

Selanjutnya, keluarga juga melarung sarana banten di sekitar Pelabuhan Celukan Bawang. Keluarga menaiki perahu yang disediakan tim SAR, menuju sekitar 40 meter arah utara dermaga.

”Sesuai dengan kepercayaan kami, Hindu Bali, lewat ritual ini kami memohon kepada Batara Baruna memunculkan jenazah keponakan kami ke permukaan. Syukur-syukur bila ada keajaiban keponakan kami ini selamat,” kata Darmanta.

Salat gaib dan tahlilan juga diadakan di kediaman keluarga besar Serda Hendro di Medan. ”Kami ikhlas dengan duka ini. Kami hanya berharap jenazah adik kami bisa ditemukan biar kami bisa melihat kuburannya,” ucap Joko di hadapan kerabatnya.

Eli dan tiga anaknya juga berusaha ikhlas atas kepergian Serda Harmanto. Dan, mungkin Aqiyla, si juara kelas itu, sekarang baru mengerti mengapa ayahnya tak pernah menjawab pertanyaan kapan dia pulang. (*)