Nasional

Ramai-ramai Tinggalkan Batam

Jelang Larangan Mudik 6-17 Mei, Pintu Keluar Dijaga Ketat

Calon penumpang antre saat melakukan check-in di pintu keberangkatan Bandara Hang Nadim Batam, Senin (3/5). Menjelang lebaran Idulfitri 1442 arus penumpang di bandara mulai padat.(Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Menjelang larangan mudik yang berlaku mulai 6-17 Mei mendatang, warga mulai ramai-ramai meninggalkan Batam. Bukan karena Covid-19 yang makin mengganas, tapi memanfaatkan waktu tersisa sebelum semua jalur bepergian (mudik) ditutup total.

Kondisi ini terlihat di Bandara Hang Nadim Batam yang arus penumpangnya membeludak. Dalam 3 hari terakhir ini saja, ada 14 ribu warga meninggalkan Batam melalui bandara. Sedangkan yang datang hanya 8.000 orang.

”Memang tiga hari lalu (29-30 April dan 1 Mei) penumpang di bandara ramai. Penumpang yang berangkat lebih banyak daripada yang datang,” ujar General Manajer Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim Batam, Benny Syahroni, Senin (3/5).

Advertisement

Benny menjelaskan, untuk 29 April tercatat ada 4.683 orang yang berangkat dari Batam, sedangkan yang datang hanya 2.863 orang. Kemudian pada 30 April, ada 5.877 orang berangkat dan yang datang hanya 3.680 orang. Sedangkan pada 1 Mei, tercatat ada 4.537 orang yang berangkat meninggalkan Batam dan 2.635 orang yang datang. Belum termasuk keberangkan 2-3 Mei.

Benny menambahkan, meski penumpang membeludak melalui bandara, pihaknya tetap memperketat protokol kesehatan (protkes). Dan para penumpang bisa menjalani rapid test antigen maupun Ge-Nose dengan tertib, serta jadwal penerbangan tetap normal. ”Tidak ada masalah, seluruhnya aman dan lancar. Kita tetap utamakan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Benny menegaskan, pada masa peniadaan mudik dari 6-17 Mei nanti seluruh aktivitas di Bandara Hang Nadim akan tetap normal. Termasuk kegiatan penerbangan logistik. ”Tidak ada penutupan (bandara, red). Perubahan sampai sekarang hanya pemberlakuan masa penggunaan PCR (polymerase chain reaction) saja,” imbuhnya.

Siapkan Tim Monitoring Besar-besaran

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menghadiri rapat koordinasi bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terkait peningkatan disiplin penerapan protkes, Senin (3/5).

Calon penumpang melakukan pemeriksaan GeNose di Bandara Hang Nadim Batam, Senin (3/5). GeNose merupakan salah satu syarat kesehatan yang bebas covid -19 bagi penumpang yang akan melakukan penerbangan. (Cecep Mulyana/Batam Pos)

Kepri masuk dalam salah satu provinsi dengan peningkatan kasus yang cukup siginifikan. Berdasarkan data jumlah pertumbuhan kasus dua kali lipat bila dibandingkan dengan jumlah pasien yang sembuh.

”Lima provinsi ini diminta untuk menindaklanjuti paparan yang disampaikan narasumber, tadi dari Kemenhub meminta larangan mudik ini benar-benar diawasi. Jangan sampai mobilisasi penduduk ini menimbulkan peningkatan kasus nantinya,” ujarnya usai menghadiri rapat melalui Zoom bersama di Lantai IV Gedung Pemko Batam, kemarin.

Amsakar menjelaskan, berdasarkan hasil rapat tersebut beberapa hal yang harus dilakukan, di antaranya mengendalikan penyebaran Covid-19, meningkatkan pengawasan yang lebih ekstra. Untuk itu tim monitoring akan turun malam ini dalam skala yang lebih besar.

”Perlu memang peningkatan. Karena semakin ke sini angka kasus ini cukup mengkhawatirkan. Monitoring besar-besaran perlu dilakukan untuk meningkatkan kembali kesadaran akan protokol kesehatan ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika angka kasus terus bergerak, maka dikhawatirkan ketersediaan ruang perawatan, tenaga medis, dan lainnya tidak sanggup menampung. Untuk itu perlu langkah pencegahan guna mengendalikan penyebaran. ”Daerah diminta meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan penyebaran. Selama ini kita sudah jalankan. Namun perlu lagi upaya yang lebih,” tuturnya.

Kedua, mengontrol dan mengawasi aturan larangan mudik yang sudah dikeluarkan pemerintah. Belakangan ini terjadi perubahan tren penyebaran Covid-19. Mobilisasi tanpa kepatuhan menerapkan protkes bisa menyebabkan angka kasus naik. Untuk itu, pejabat daerah diminta untuk benar-benar mengawasi terkait larangan ini.

”TNI dan Polri dan kami semua diminta awasi betul. Jangan sampai lalai memastikan aturan ini berjalan dengan baik,” sebutnya.

Tidak saja itu, Batam juga mulai kembali memberlakukan pembatasan berskala mikro yang bisa membantu pemerintah dalam mengawasi mobilisasi masyarakat di tingkat RT/RW. Termasuk jika ada kasus, tim terpadu bisa langsung melakukan tracing dengan bantuan perangkat RT setempat.

Meskipun menurut paparan Menteri Kesehatan Indonesia termasuk negara yang bertahan menghadapi Covid-19, terjadinya “tsunami” Covid-19 di India harus menjadi pelajaran semua negara. Batam saat ini juga menjadi pintu masuk kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Singapura dan Malaysia. Adanya mutasi virus menjadi warning atau peringatan bagi pemerintah daerah untuk benar-benar mengawasi kepulangan PMI ini.

”Proses penanganan PMI ini harus sesuai protap (prosedur tetap) yang sudah ditentukan. Jangan sampai kecolongan, mereka yang datang harus mengikuti aturan,” terangnya.

Larangan mudik dari pemerintah jadi perhatian serius aparat kepolisian di Kepolisian Sektor Keamanan Kawasan Pelabuhan (Polsek KKP) Batam. Polsek KKP mengimbau masyarakat untuk menunda mudik jelang Hari Raya Idulfitri 1442 H. Imbauan ini ada yang disampaikan langsung kepada masyarakat dan juga melalui spanduk yang dipasang di tempat-tempat strategis di pelabuhan. Spanduk-spanduk dengan tulisan imbauan tunda mudik ini dipasang.

Kapolsek Kawasan Pelabuhan Batam, AKP Budi Hartono, mengatakan, tujuan pemasangan spanduk imbauan tunda mudik ini untuk mengingatkan kembali masyarakat yang akan berencana mudik agar menundanya terlebih dahulu di masa pandemi Covid-ini.

Selain itu, Kapolsek juga menyampaikan bahwa personel Polsek Kawasan Pelabuhan Batam saat berpatroli di setiap pelabuhan juga selalu menyosialisasikan protkes pencegah Covid-19 kepada warga khususnya yang beraktivitas di pelabuhan.

”Harapannya masyarakat mematuhi aturan protokol kesehatan terutama tinda mudik. Ini penting demi memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19,” ujar Budi. (*)

Reporter: YOFI YUHENDRI
YULITAVIA
EUSEBIUS SARA
Editor : MOHAMMAD TAHANG