Opini

Vaksin vs Mutan

Batampos.id – KENYATAAN bahwa sudah lebih dari 1 miliar dosis vaksin Covid-19 disuntikkan kepada manusia di berbagai negara di seluruh dunia sungguh menggembirakan. Memang masih ada kesenjangan yang besar antarnegara. Namun, saat ini kita sedang menapak di jalan yang relatif tepat.

Ada beberapa pertanyaan dan penghalang dalam kaitan dengan vaksinasi massal ini. Salah satu di antaranya menyangkut virus mutan. Laporan tentang mutan datang dari banyak negara dan memang sangat perlu diwaspadai atau bahkan ditakuti.

Mutasi virus sebagaimana makhluk hidup lain akan senantiasa terjadi dan tidak mungkin dihindari. Masih untung kemampuan mutasi virus SARS-CoV-2 relatif tidak seganas virus influenza, apalagi virus HIV. Ibaratnya, virus Covid-19 ini masih relatif bayi. Sekalipun demikian, virus asli yang diidentifikasi di Wuhan praktis sudah tidak lagi didapatkan di dunia dan berganti dengan virus mutan alias yang sudah mengalami pergantian sekuen genetik yang bervariasi.

Advertisement

Secara internasional, mutasi virus ini membuat penggolongan menjadi lebih rumit dan hingga saat ini berbagai kesepakatan telah dicapai dalam hal identifikasi dan penamaan. Mutan yang diwaspadai dikategorikan sebagai variant of interest (VOI). Jika VOI dibarengi dengan peningkatan kemampuan transmisi atau keganasan atau mengakibatkan khasiat vaksin menurun, kategori meningkat menjadi variant of concern (VOC).

Beberapa mutan yang paling terkenal saat ini adalah B117 (Inggris), B1351 (Afrika Selatan), dan P1 (Brasil). Belakangan muncul virus dari India, B1617, dengan mutasi ganda yang dianggap berbahaya di dalamnya.

Antibodi yang diperoleh seorang pasien ketika sembuh dari infeksi SARS-CoV-2 tidak semuanya sanggup bertahan menghadapi mutan. Sejauh ini telah dilaporkan beberapa kasus infeksi ulang pada kelompok mantan penderita di berbagai negara. Mutan juga mampu membuat uji diagnostik memberikan hasil palsu jika gen yang diuji mengalami mutasi.

Para peneliti dan produsen vaksin Covid-19 sudah menaruh perhatian khusus terhadap para mutan, bahkan sejak uji klinis pertama dilakukan. Pfizer, misalnya, adalah salah satu yang langsung menguji varian mutan baru dengan vaksin miliknya di kesempatan pertama. Mereka mendapatkan bahwa varian B117 dan P1 masih bisa ditanggulangi. Adapun untuk B1351, vaksin masih bisa digunakan sekalipun kemampuannya jauh lebih rendah dibandingkan menghadapi virus ”asli”.

Syarat efikasi 50 persen dari WHO adalah batas terendah. Jika vaksin masih mampu berfungsi di atas batas tersebut, kita boleh tetap yakin akan kemampuannya. Berdasar hasil penelitian tersebut, Pfizer tidak mengubah desain awal untuk program di AS dan negara lain. Pfizer menyiapkan vaksin baru yang dimodifikasi untuk persiapan vaksin ulangan atau boster.

Vaksin mRA lain milik Moderna memberikan hasil yang setara dengan milik Pfizer. Vaksin efektif untuk varian Inggris dan Brasil, namun kehilangan banyak kekuatan menghadapi varian Afrika Selatan (hingga 6–8 kali lipat) sekalipun masih dalam batas yang bisa diterima.

Vaksin berbasis virus adeno yang juga ada di Indonesia, milik Oxford/AstraZeneca, bertahan baik menghadapi varian Inggris, tapi rontok di Afrika Selatan. Hal ini membuat pemerintah Afrika Selatan membatalkan pemesanan vaksin Oxford dan menggantinya dengan vaksin berbasis serupa milik J&J dari AS.

Vaksin rekombinan milik Novavax Amerika Serikat dan dua vaksin inaktif dari Tiongkok (Sinovac dan Sinopharm) relatif senasib dan tidak berbeda jauh dengan vaksin lain. Jika data vaksin mRNA lebih diperoleh dari pengujian di laboratorium, data vaksin lain didapat dari uji klinis di lokasi pusat mutasi. Alhasil, dari penelitian pada sebagian besar vaksin yang telah diuji menghadapi para mutan, musuh terbesar masih varian B1351 dari Afrika Selatan.

Sementara itu, virus mutan dari India yang belakangan ramai dibicarakan (B1617) belum banyak diuji oleh 14 vaksin yang telah mendapat izin edar di berbagai negara. Laporan awal di media masa menyatakan, vaksin inaktif milik India sendiri masih efektif dan tidak akan diganti dalam waktu dekat.

Virus mutan Afrika Selatan mungkin belum ada di negara kita. Varian India sudah didapatkan di sekitar Jakarta, namun dalam jumlah yang sangat sedikit. Kemampuan melakukan identifikasi genetik di Indonesia saat ini sedang ditingkatkan secara bermakna sehingga dalam waktu beberapa saat ke depan kita akan terus memperbarui data varian yang ada di tanah air. Dari data tersebut bisa diprediksi pula kekuatan vaksin serta tindakan penanggulangan yang dibutuhkan.

Sebagian besar dari seratus lebih vaksin yang masih dalam uji klinis fase I-II-III di dunia saat ini sudah memperhitungkan kemampuan vaksin masing-masing menghadapi para mutan. Ini tak mungkin dihindari karena kegagalan menghadapi mutan akan langsung terlihat pada data efikasi. Padahal, efikasi adalah penilaian utama lulus tidaknya sebuah vaksin.

Situasi uji klinis sekarang memang jauh berbeda dengan tahun lalu saat virus mutan relatif terbatas. Vaksin Merah Putih pun sangat memperhatikan para mutan ini. Mengubah desain vaksin memerlukan waktu. Hanya vaksin mRNA yang mampu diubah dalam waktu relatif cepat. Itu berarti, bagi kandidat vaksin lainnya, antisipasi sejak awal adalah salah satu kunci terpenting. Apalagi karena mutasi ini praktis tidak mungkin berhenti. Varian berikutnya, sesuai dengan kodrat mutasi, akan lebih berbahaya dalam berbagai aspek. Pertarungan melawan virus SARS-CoV-2 tampaknya masih akan berlangsung dan mungkin memerlukan waktu panjang. (*)

Oleh : Dominicus Husada, Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unair/RSUD dr Soetomo, Anggota Tim Peneliti Vaksin Covid-19 Unair.