Covid-19

Lacak Varian Baru B117 di Batam

Kematian Meningkat, Sepekan 31 Warga Batam Meninggal akibat Covid-19

Petugas kesehatan melakukan vaksinasi Covid-19 kepada pegawai tenant DC Mall, Rabu (2/6). Pemerintah terus gencar melakukan vaksinasi untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran Covid-19. Hingga kemarin kasus positif sudah mencapai 9.369 orang dan angka kematian juga terus meningkat. (Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Kasus kematian akibat Covid-19 di Batam semakin mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, angka kematian setelah terpapar Covid-19 di Kota Batam mencapai 31 orang. Terbanyak pada Senin (31/5) lalu sebanyak 11 orang dan Selasa (1/6) sembilan orang.

Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Batam, tercatat 31 orang meninggal dunia akibat Covid-19 terhitung sejak 26 Mei hingga 1 Juni 2021. Angka ini tertinggi sejak virus corona pertama kali menyerang Batam.

”Jika dibandingkan periode tahun ini, (kasus kematian, red) ada banyak peningkatan dari tahun lalu,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Covid-19 Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, di Sekupang, Rabu (2/6).

Disebutkannya, tidak hanya kasus kematian yang meningkat, kasus terkonfirmasi positif sepanjang 2021 ini juga terus mengalami peningkatan. Bahkan, angka positif sudah mencapai 9.369 orang atau hampir di angka 10 ribu warga Batam yang terpapar corona.

”Kenaikannya memang sangat luar biasa dan ini tentu harus menjadi perhatian serius kita semua. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus lebih patuh protokol kesehatan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam itu.

Disinggung mengenai tingginya angka kematian sejak sepekan terkahir, diakuinya karena tingginya jumlah kasus yang masuk. Selain itu, ada juga karena pelaporan dari rumah sakit yang terlambat atau rumah sakit telat melaporkan ke tim gugus tugas. ”Seimbang penambahan kasus dan kasus kematian akibat Covid-19 Batam,” tuturnya.

Ditambahkan Didi, korban yang meninggal akibat Covid-19 sebagian besar adalah mereka yang bergejala. Namun begitu, ada juga pasien meninggal tidak bergejala.

Ditanya mengenai apakah karena adanya temuan virus corona varian baru? Didi mengatakan, yang bisa menentukan hanya Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI.

Sebab, kata Didi, sampel pasien yang meninggal dikirim ke Litbangkes untuk diteliti penyebab kematiannya apakah karena varian virus baru atau sebaliknya. ”Kita tetap kirim sampel (ke (Litbangkes, red), namun hasilnya belum keluar. Yang jelas pada saat meninggal itu mereka bergejala,” bebernya.

Khusus varian baru, Didi mengatakan, gejala baru ada, tapi belum bisa dipastikan itu merupakan varian baru. ”Jika merujuk kriteria epidemiologi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan sama semua. Hanya saja, karena ada penyakit penyerta gejala yang ditimbulkan lebih berat,” jelasnya.

Berdasarkan hasil epidemiologi disebutkan, untuk gejala suspect masih seputar hilang indra penciuman, pengecapan, demam, batuk, ISPA, hingga penurunan kesadaran. Gejala ini, lanjutnya, bisa dirasakan lebih berat, apabila pasien memiliki penyakit penyerta. Sehingga menyebabkan risiko kematian lebih tinggi.

”Mungkin kalau bergejala tanpa penyakit penyerta risiko kematian relatif rendah. Namun karena ada penyakit penyerta daya bertahan tidak bisa diprediksi,” sebutnya.

Sejak ada temuan virus B117, beberapa waktu lalu, terjadi peningkatan penyebaran virus. Virus lebih cepat menyebar, meskipun belum bisa dipastikan penyebabnya. ”Apakah memang karena varian baru kita belum tahu. Namun yang jelas akibat adanya penyakit penyerta dan bergejala yang lebih berat dari sebelumnya, risiko kematian menjadi lebih tinggi,” ujarnya.

Didi menjelaskan, pasca-adanya penemuan varian baru ini, memang ada kekhawatiran terkait penyebaran virus di Batam. Untuk itu, masyarakat jangan abai terhadap protokol kesehatan (protkes), dan menerapkan 5M (memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas dan interaksi) baik di rumah maupun di luar ruangan.

”Virus ini lebih cepat menyebar, itu saja. Sehingga lebih banyak pasien Covid-19. Namun kalau penyebab kematian yang cukup tinggi sampai saat ini, belum bisa dikonfirmasi apakah itu akibat virus varian baru atau tidak. Intinya masyarakat harus tingkatkan kewaspadaan dan protkes,” tegasnya.

Adapun usia korban meninggal paling banyak kisaran 46 tahun sampai 55 tahun (57 orang). Sedangkan di posisi kedua terbanyak di usia 56 tahun sampai 65 tahun (47 orang), usia 36-45 tahun (36 orang), dan di atas 65 tahun (26 orang). Sementara usia 26 sampai 35 tahun tercatat 12 orang, dan 0 sampai 5 tahun tercatat 3 orang. ”Untuk kecamatan mana yang paling banyak belum kita catat,” ujarnya.

Namun begitu, berdasarkan data Tim Gugus Tugas Covid-19 Batam, kemarin, mencatat Kecamatan Batam Kota masih menjadi wilayah dengan penyumbang korban meninggal tertinggi akibat Covid-19. Tercatat sampai kemarin korban meninggal di Batam Kota sebanyak 56 orang. Selanjutnya, Kecamatan Sekupang 26 orang dan Lubukbaja 25 orang, serta Bengkong 19 orang.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Provinsi Kepri per 2 Juni 2021, angka kematian akibat Covid-19 di Kota Batam kembali bertambah sebanyak lima orang. Sedangkan se-Provinsi Kepri total delapan orang meninggal dunia. Rinciannya, selain lima warga Batam, ada satu orang di Kota Tanjungpinang, satu orang di Kabupaten Karimun, dan satu orang di Kabupaten Kepulauan Anambas. Hingga kemarin sudah 392 orang di Kepri meninggal dunia akibat terpapar virus corona.

Kasus terkonfirmasi positif juga terjadi peningkatan. Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Provinsi Kepri, kemarin mencatat terdapat penambahan 351 orang yang terkonfirmasi positif. Yakni 133 orang di Kabupaten Karimun, 124 orang di Kota Batam, 60 orang di Kota Tanjungpinang, 23 orang di Kabupaten Bintan, 10 orang di Kab. Kepulauan Anambas, dan satu orang di Kabupaten Lingga.

Sementara itu pasien sembuh juga mengalami peningkatan signifikan. Tercatat sebanyak 379 orang warga Kepri sembuh dari paparan Covid-19. Rinciannya, 192 orang di Kota Batam, 58 orang di Kota Tanjungpinang, 48 orang di Kabupaten Natuna, 36 orang di Kab. Kepulauan Anambas, 19 orang di Kabupaten Karimun, 13 orang di Kabupaten Bintan, dan 13 orang di Kabupaten Lingga.

Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau TS Arif Fadillah kembali menyebutkan rendahnya disiplin masyarakat menjalankan protkes menjadi pemicu terus meningkatkan kasus positif. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar terus meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protkesehatan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat.

Sementara itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Batam, terus menyortir sampel Covid-19 yang masuk sepanjang Mei hingga saat ini guna memastikan sejauh mana penyebaran B117, varian terbaru Covid-19 di Batam dan Kepri.

Hasil sortiran ini, nantinya akan diperiksa lagi bersama Litbangkes demi memastikan hasil yang sebenarnya. Sejauh ini baru satu orang yang terdeteksi terpapar Covid-19 varian terbaru tersebut dan itu hasil sortiran sampel April 2021.

”Untuk Mei sampai Juni ini masih kita kumpulkan. Setelah mencukupi nanti kita kirim ke Litbangkes. Untuk bulan April ke bawah sudah selesai. Ada satu orang yang terkonfirmasi positif varian B117,” ujar Kepala BTKLPP Batam, Budi Santosa, kemarin.

Dijelaskan Budi, penyortiran sampel Covid-19 demi memastikan apakah ada atau tidaknya varian B117 ini berdasarkan sejumlah kriteria yang ditetapkan oleh laboratorium. Tidak semua sampel masuk diambil untuk diteliti lebih lanjut, namun hanya sampel-sampel dengan ciri-ciri tertentu yang mengarah ke varian B117.

”Tidak semua, makanya proses pemilihan (sortir) ini juga sedikit memakan waktu. Nanti kalau sudah banyak, baru kita kirim ke Litbangkes,” katanya. Untuk jumlah sampel yang masuk saat ini masih kisaran 500 hingga 600 sampel per hari.

Karimun Mengganas, 133 Kasus Baru

Di tempat terpisah, laporan dari Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karimun, Rabu (2/6) kembali terjadi ledakan kasus positif terpapar Covid-19 yang cukup banyak. Yakni, 133 kasus baru, satu di antaranya meninggal dunia.

“Memang benar telah terjadi lonjakan kasus yang cukup signifikan sebanyak 133 kasus. Dan di dalamnya termasuk laporan warga yang meninggal dunia,” ujar juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karimun, Rachmadi, kepada Batam Pos, kemarin.

Banyaknya tambahan kasus positif karena jumlah sampel swab PCR yang diperiksa juga banyak dan sudah beberapa lebih dari satu minggu dikirim ke BTKLPP Batam. Sebagai informasi, katanya, tambahan 133 kasus baru positif terpapar Covid-19 ini belum semuanya dari sampel yang dikirimkan ke BTKLPP Batam.

Artinya, kata Rachmadi, sampel yang dikirimkan sebelumya itu totalnya ada 600 sampel swab PCR. Dengan rincian, pertama 400 sampel yang sudah lebih sepekan dikirim dan kemudian pada Selasa (1/6) lalu dikirim lagi 200 sampel.

“Dan, untuk hasil hari ini (kemarin, red) yang kita publikasikan belum semuanya. Melainkan baru 232 sampel swab PCR. Artinya, masih ada 368 sampel lagi yang kita tunggu. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan bertambah sampel swab PCR. Sebab, dari tambahan 133 positif, tim tenaga kesehatan dari masing-masing Puskesmas akan kembali turun ke lapangan melaklukan tracing atau penjejakan terhadap orang-orang yang kontak erat untuk melakukan swab PCR lagi dan kemudian sampelnya kita kirim lagi,” paparnya.

Dikatakannya, selain ada tambahan 133 kasus positif baru, laporan pasien sembuh juga lumayan banyak. Ada 19 orang. Dengan demikian, komulatif kasus Covid-19 di Kabupaten Karimun dari tahun lalu sampai saat ini sebanyak 1.383 kasus. Sedangkan kasus aktif positif menjadi 483. Kemudian, yang menjalani perawatan baik di rumah sakit umum, rumah sakit swasta, dan klinik, puskesmas, serta di sekolah ada 151 orang. Selebihnya, 332 orang masih isolasi mandiri di rumah.

Sementara itu, Kepala BTKLPP Batam, Budi Santosa, memastikan pemeriksaan sampel Covid-19 dari Kabupaten Karimun rampung dalam dua hari ini. Ini disampaikan Budi menanggapi adanya statemen dari Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karimun, Rachmadi, sebelumnya yang mengaku tengah menunggu hasil swab 600 sampel dari Karimun.

”Yang dari Karimun tidak ada kendala. Dua hari selesai dan hari ketiga sudah bisa kami kirim balik hasilnya. Sampel (dari Karimun, red) yang masuk jarang lebih dari 100 sampel. Paling 50 sampel saja. Itu bisa kita kerjakan dalam dua hari,” ujar Budi.

BTKLPP Batam, sebut Budi, memang kebanjiran sampel belakangan ini, namun tidak berdampak dengan proses pemeriksaan lab karena petugas dan peralatan masih mampu melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing.

”Yang masyarakat umum agak lama karena ada instruksi dari gubernur dan wali kota Batam untuk mendahului sampel PMI demi mencegah berbagai hal yang tak diinginkan, termasuk masuknya varian baru. Yang masyarakat umum tetap dilayani setelah selesai dengan PMI. Tidak ada masalah sejauh ini,” katanya.

Terpisah, Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana, mengatakan, proses perbaikan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib (RSUD RAT) Tanjungpinang. Menurutnya, perbaikan tersebut akan membantu percepatan proses uji lab bagi suspect Covid-19 di Pulau Bintan.

“Kerusakan alat PCR pendeteksi virus corona di RSUP RAT Tanjungpinang yang rusak telah diperbaiki dan saat ini sudah beroperasi penuh. Bahkan, sudah seminggu lalu baiknya,” ujar Tjetjep, di Tanjungpinang, kemarin.

Ia juga menjelaskan, dengan telah diperbaikinya alat PCR yang rusak tersebut, maka sekarang sudah bisa tes PCR lagi di RSUP RAT Tanjungpinang. Ia berharap tidak ada lagi hambatan. Sehingga bisa mempercepat proses konfirmasi positif atau negatif Covid-19.

Dalam upaya untuk mempercepat testing ini, Pemprov Kepri baru-baru ini telah mendapatkan bantuan alat antigen dari pusat sebanyak 25.000. Alat antigen itu akan didistribusikan ke seluruh daerah di Kepri. “Komitmen kita jelas bagaimana menekan penyebaran Covid-19 dan secepatnya memulihkan kondisi daerah. Serta mengembalikan pemulihan ekonomi daerah,” tegas Tjetjep.

Sementara itu, Kepala Dinkes Provinsi Kepri, Bisri, mengatakan, sebagai langkah antisipasi kerusakan alat tersebut, pihaknya sudah menggunakan metode rapid test antigen untuk melakukan proses tracing dan testing virus Covid-19 di Kota Tanjungpinang. “Kita sudah dapat persetujuan dari Kemenkes untuk menggunakan rapid antigen untuk testing dan tracing virus Covid di Pinang,” ujarnya.

Bisri mengatakan, penggunaan metode rapid test antigen disediakan gratis. Namun, dengan catatan hanya untuk kepentingan penelusuran kontak. Sedangkan untuk perjalanan transportasi, tidak gratis. Itu dilakukan secara mandiri (berbayar) di klinik atau di rumah sakit. Selain itu, pihaknya juga tengah menggesa perbaikan alat tes PCR di RSUD RAT.

“Kita masih menunggu teknisi dari Jakarta. Jadi, saat ini, belum dapat menerima pemeriksaan sampel Covid-19 dengan metode PCR sampai waktu yang tidak ditentukan,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Harian Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri, TS Arif Fadillah, mendesak Pemko Tanjungpinang untuk turut mandiri dalam hal penanganan Covid-19. Menurut Sekda, Pemko Tanjungpinang tidak cukup jika hanya bergantung dengan alat PCR yang ada di RSUD RAT Tanjungpinang.

“Semua kabupaten/kota kita dorong untuk mandiri dalam penanganan Covid-19. Kita berharap semua daerah sudah dilengkapi dengan alat PCR, termasuk Kota Tanjungpinang. Meskipun saat ini sudah ada PCR di RSUD RAT,” ujar Arif.

APBD Hanya Tanggung Konsumsi

Soal biaya konsumsi pasien Covid-19, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Batam, Mochamat Mustofa, menegaskan, tidak ada anggaran dalam APBD Kota Batam tahun 2021 untuk penanganan pasien Covid-19. Dimana, anggaran untuk penanganan pasien Covid-19 ditanggung melalui APBN.

”Yang saya tahu, siapapun pasien Covid ditanggung oleh negara. Karena di penjabaran APBD sampai hari ini itu tidak ada untuk pasien Covid,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam APBD 2021 ada ketersediaan anggaran sebesar Rp 100 miliar lebih yang difungsikan untuk warga terdampak Covid. Bukan untuk penanganan pasien Covid. ”Untuk terdampak itu, contohnya pembagian sembako. Yang tahun lalu belum terlaksana itu,” katanya.

Anggota Fraksi PKS itu melanjutkan, jika penanganan pasien Covid ditanggung oleh APBD, tentunya tidak akan cukup. Untuk itu, penanganan pasien Covid ditanggung oleh anggaran di Kementerian Kesehatan yang mempunyai anggaran lebih besar.

”APBD kita hanya membantu untuk yang kecil-kecil. Seperti biaya konsumsi atau biaya untuk orang yang di Asrama Haji. Tapi kalau pasien Covid maka itu pakai anggaran Kementerian Kesehatan,” jelasnya.

Adapun biaya konsumsi untuk yang sedang isolasi atau pasien Covid itu menggunakan dana tak terduga. Adapun nilai dana tak terduga di APBD, Mustofa mengaku tidak mengingatnya. ”Kalau untuk nilainya tak terlalu ingat, tapi yang jelas itu ada,” imbuhnya. (*)

Reporter : RENGGA YULIANDRA
EUSEBIUS SARA
SANDI PRAMOSINTO
JAILANI
YULITAVIA
EGGI IDRIANSYAH
Editor : MOHAMMAD TAHANG