Feature

11 Kali ’’Bunga Desa,” Ribuan Permasalahan Tertangani

Ngantor di Desa, Cara Bupati Banyuwangi Jemput Bola Beragam Urusan Warga

Ipuk Fiestiandani menyerahkan salinan dokumen kependudukan kepada sejumlah penyandang tunanetra di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Banyuwangi (27/5).

Warga melapor langsung ke Bupati Ipuk Fiestiandani, mulai soal infrastruktur, dokumen kependudukan, insentif guru ngaji, sampai anak yang sulit mendapatkan sekolah. Ribuan permasalahan tertangani hanya dalam 11 kali ngantor di desa sejauh ini.

Reporter: JP Group
Editor: Jamil Qasim

RAUT muka Supiyati sontak semringah. Cucunya, Irmawati, akhirnya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

Advertisement

’’Terima kasih, terima kasih Bu Ipuk. Cucu saya akhirnya bisa sekolah,” tuturnya.

Ipuk yang dimaksud nenek warga Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, tersebut adalah Ipuk Fiestiandani. Pada Kamis pekan lalu (27/5), bupati Banyuwangi itu bersama jajaran terkait mengunjungi kediaman Supiyati dan berkoordinasi dengan cepat untuk membantu sang cucu.

Karena gangguan penglihatan yang dialami Irmawati, gadis 16 tahun itu agak telat melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. Setelah berbincang beberapa saat, Ipuk lantas menginstruksi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno dan jajaran untuk memfasilitasi pendaftaran Irma di SMP terdekat. Setelah melakukan cek zonasi, Irma lantas didaftarkan di SMP Negeri 3 Muncar melalui jalur afirmasi. Irma pun dinyatakan diterima di sekolah tersebut.

Termasuk di Desa Kumendung, sejak dilantik pada akhir Februari lalu hingga akhir Mei ini sudah sebelas kali Ipuk menghelat program Bunga Desa alias Bupati Ngantor di Desa. Desa Bayu, Kecamatan Songgon, adalah titik start program tersebut.

Menurut Ipuk, Bunga Desa adalah cara yang dia lakukan bersama Wakil Bupati Sugirah untuk menjemput bola berbagai urusan warga. Di setiap desa, urusan warga dibagi menjadi dua kategori berdasar solusi: jangka pendek dan jangka menengah–panjang.

”Ada urusan yang solusinya jangka pendek, bisa cepat. Ada yang perlu waktu seperti infrastruktur,” ujar Ipuk.

Dampaknya, menurut catatan Jawa Pos Radar Banyuwangi, memang sangat terasa pada sisi kecepatan penanganan masalah. Selama sebelas kali ngantor di desa, Ipuk dan jajaran tercatat berhasil menuntaskan 23 ribu permasalahan.

Ribuan permasalahan itu datang dari berbagai sektor. Ada yang tentang kesehatan, pendidikan, dan administrasi kependudukan. Ada pula sertifikat rakyat, jaminan sosial, pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, kepemudaan, rumah tinggal, dan sebagainya.

Bunga Desa biasanya dihelat pada Rabu atau Kamis. Pada saat ngantor di Desa Kumendung, Jawa Pos Radar Banyuwangi mengikuti langsung intensitas kerja istri mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas tersebut.

Ipuk, sebagaimana juga di desa-desa lain yang telah dia pilih sebagai lokasi Bunga Desa, berada di desa tersebut seharian. Sejak pagi hingga sore. Bahkan kadang hingga malam. Tak sendirian, Ipuk juga mengajak para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkup Pemkab Banyuwangi.

Di Kumendung, ada belasan kegiatan yang dilakukan orang nomor satu di lingkup Pemkab Banyuwangi tersebut. Mulai mengikuti senam bersama warga lanjut usia dan para siswa SMPN 3 Muncar guna mengampanyekan vaksinasi Covid-19, menghadiri pelatihan pengelolaan sampah 3R (reduce, reuse, dan recycle) yang diikuti ibu-ibu di RT 2, RW 1, Dusun/Desa Kumendung, sampai meninjau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). UMKM yang dipantau juga macam-macam: budi daya jamur tiram, budi daya cacing tanah, produksi genting, hingga produksi besek.

Selain menyemangati, Ipuk juga menanyakan kendala yang dihadapi para pelaku usaha itu untuk mengembangkan usaha mereka. Contohnya, kesulitan pemasaran cacing tanah hasil budi daya warga.

Mendengar keluhan tersebut, dia meminta agar Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Banyuwangi Arief Setiawan memberikan pembinaan teknik budi daya cacing tanah. Selain itu, dia meminta disperta memfasilitasi pemasaran hasil budi daya tersebut.

Ipuk juga melakukan kegiatan di SDN 1 Kumendung. Di lokasi tersebut, dia menggelar sosialisasi pendidikan responsif gender bagi para kepala taman kanak-kanak (TK), SD, hingga SMP. Dia menegaskan, para kepala sekolah bertanggung jawab mewujudkan pembelajaran responsif gender guna membangun kesadaran tentang kesetaraan gender sejak dini.

Setelah membantu Irmawati, cucu Supiyati, bersekolah, Ipuk mengunjungi pelayanan publik yang dilakukan sejumlah SKPD di kantor Desa Kumendung. Ada beragam layanan yang bisa diakses masyarakat: layanan administrasi kependudukan, layanan perizinan UMKM, layanan pajak bumi dan bangunan (PBB), layanan pemeriksaan kesehatan, dan sebagainya.

Ratusan orang silih berganti datang ke kantor desa. Ada yang mengurus izin usaha mikro, pembaruan kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP), hingga mutasi dan atau pembayaran PBB.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) sekaligus penanggung jawab Mal Pelayanan Publik (MPP) Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, di setiap desa yang menjadi lokasi Bunga Desa, antusiasme warga mengakses layanan publik sangat tinggi. ’’Bahkan, di Desa Kumendung ini menjadi rekor baru,” katanya.

Dalam sehari, ada 253 warga yang mengurus izin usaha mikro. Sedangkan selama tiga hari membuka layanan di desa ini, tercatat ada 736 orang yang mengurus izin usaha mikro.

’’Mereka tidak hanya berasal dari Desa Kumendung, tetapi juga dari desa-desa sekitar di wilayah Kecamatan Muncar,” kata dia.

Wawan menambahkan, pihaknya juga membuka layanan konseling alias klinik perizinan di desa yang menjadi lokasi Bunga Desa. ’’Jadi, bagi warga yang merasa kesulitan mengurus perizinan, bisa sekalian berkonsultasi,” imbuhnya.

Hal senada dilontarkan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Banyuwangi Juang Pribadi. ’’Selama ini cukup banyak warga yang menunda pengurusan dokumen,” katanya.

Dari berkantor ke desa-desa, Ipuk juga mendapat laporan dari warga bahwa perlu adanya percepatan pencairan insentif bagi guru PAUD dan guru ngaji. Ada jarak birokrasi yang bisa dipangkas.

’’Langsung saat itu juga saya minta dipercepat. Kendalanya apa, kita urai. Alhamdulillah, sebelum Lebaran kemarin sudah cair untuk ribuan guru PAUD dan guru ngaji,” katanya di sela kegiatan di Desa Kumendung.

Total dalam setahun ini, kata Ipuk, pihaknya sudah memberikan insentif Rp 6,9 miliar untuk guru PAUD dan Rp 8,7 miliar untuk guru ngaji. Ada pula beberapa urusan infrastruktur yang langsung dieksekusi dalam kegiatan Bunga Desa maupun dimasukkan perencanaan untuk semester kedua tahun ini. ’’Misalnya, soal akses di lereng Gunung Raung, juga irigasi di sejumlah desa,” imbuh Ipuk.

Urusan lain yang dituntaskan adalah administrasi kependudukan. ”Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa. Ada warga tinggal di desa, di perkebunan yang aksesnya jauh. Sebagian layanan memang online, tapi kan tidak semua warga punya smartphone,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, layanan didekatkan ke tempat-tempat yang tidak gampang diakses tersebut.

Kalangan difabel di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu juga diperhatikan.

Kini mereka bisa mengakses layanan salinan dokumen administrasi kependudukan (adminduk), seperti kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el), kartu keluarga (KK), dan akta kelahiran dengan huruf braille. Layanan tersebut bisa diakses sejak awal tahun ini.

Juang menambahkan, syarat untuk mengakses layanan itu cukup mudah. Bagi kalangan tunanetra yang sudah memiliki KTP, KK, dan akta kelahiran, cukup membawa dokumen aslinya ke kantor dispendukcapil atau Mal Pelayanan Publik maupun Pasar Pelayanan Publik Banyuwangi.

Selain itu, bisa juga mengakses layanan on the spot di kantor-kantor desa selama Program Bunga Desa. ”Petugas akan langsung mencetak salinan dokumen adminduk dengan huruf braille,” katanya.

Maka, kegembiraan seperti yang dirasakan Supiyati tadi kini juga dirasakan Siswanto, pelajar SMA luar biasa. ”Sekarang kalau ada yang tanya NIK, saya bisa langsung menjawab tanpa harus meminta bantuan orang lain untuk membacakan,” katanya. (*)