Opini

Apakah Ada Peran Agama Dalam Konflik Palestina-Israel?

Batampos.id – Konflik antara Palestina dan Israel merupakan konflik yang tidak terdengar asing lagi di telinga kita, dimana konflik tersebut kian memanas dari waktu ke waktu. Keributan yang disebabkan oleh kedua negara tersebut bukan hal yang sepele, karena melibatkan banyak negara dan juga permainan politik tingkat tinggi.

Akibat keributan tersebut dapat dilihat dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, dimana perang Palestina dan Israel diidentikan dengan perang agama. Penulis mengira apa yang menjadi akar permasalahan ini ialah kedua negara memiliki kerumitan tersendiri, sehingga titik temu pun menjadi sangat sulit untuk dicari.

Pada awalnya kedua negara ini merasa memiliki hak atas tanah di wilayah yang bersamaan. Namun selama 25 tahun terakhir perjanjian perdamaian yang kadang kala digelar, sampai saat ini belum berhasil untuk menemukan sebuah penyelesaian.

Advertisement

Singkat kata, apa yang menjadi prospek masa depan terhadap kedua negara ini ialah belum akan terselesaikan dalam waktu yang dekat. Maka penulis mengambil isu hukum internasional ini, sekiranya untuk menyampaikan opini agar mendorong para pembaca untuk berpikir kritis terhadap konflik yang berkepanjangan tersebut yang berumur hampir 100 tahun. Sehingga melalui bacaan ini, penulis berharap dapat berperan dalam mencerdaskan masyarakat bahwasanya konflik Palestina dan Israel tidak ada hubungannya dengan agama.

Untuk memahami apakah ada narasi agama dalam konflik Palestina dan Israel, kita semua harus tahu apa yang menjadi penyebab utama dan mengapa masalah tidak kunjung selesai hingga sekarang. Dari berbagai sumber informasi terbatas yang diambil penulis, penulis menganggap penyebab utama nya ialah perebutan tanah akibat saling merasa punya kepemilikan yang sah.

Di sisi lain, penyebab tersebut dipersulit lagi dengan adanya kerumitan dari internal negara masingmasing. Pada awalnya semua berawal dari peristiwa Holokaus yang terjadi selama perang dunia II, dimana pembantaian sejumlah 6 juta orang Yahudi di Eropa mendorong banyak penduduk Yahudi untuk melakukan mobilitas dengan mengungsi ke berbagai negara di dunia.

Di dalam mobilitas tersebut, terdapat sejumlah ribuan orang Yahudi datang ke Palestina. Di sisi lain, sejumlah ribuan orang Yahudi tersebut menamakan pergerakan mereka sebagai gerakan kembali ke Bukit Sion, tempat berkumpulnya leluhur bangsa Israel. Gerakan tersebut disebut juga sebagai Zionisme, sedangkan orang-orang yang melakukan mobilitas ke Palestina disebut sebagai Zionis.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut ialah mengambil dan menguasai tanah yang ada di Palestina. Mereka juga melakukannya dengan cara agresi, yang artinya dengan kekerasan dan mengusir paksa orang-orang yang ada di Palestina. Maka agresi tersebut menimbulkan sebuah pergerakan, yang merupakan bentuk perlawananan terhadap para zionis. Sehingga dari analisa mengenai penyebab utama, tidak bisa disebut bahwasannya ada keterlibatan narasi agama. Mengapa? Karena Zionisme berbeda dengan agama yang dianut orang Yahudi pada umumnya.

Zionisme merupakan sebuah kelompok dan bentuk pergerakan politik, sedangkan agama adalah agama. Namun faktor apa yang memperumit penyelesaian konflik sehingga tidak kunjung selesai hingga sekarang? Penulis berpendapat faktor tersebut cuman faktor tunggal. Ialah masing-masing negara membangun propaganda yang dilatarbelakangi berbagai kepentingan dari internal negara tersendiri.
Dari Israel sendiri mereka menganggap bahwa diri mereka adalah pihak yang baik dan cinta damai, padahal mereka merupakan tokoh di balik layar yang menyebabkan berbagai kerusuhan di Timur Tengah.

Contohnya ialah kerusuhan di Suriah, janggalnya ialah Suriah merupakan pendukung Palestina. Sedangkan Palestina, mengalami hambatan dari partai-partai di negara nya sendiri yang mengatasnamakan nama negara. Contohnya ialah Hamas dan Fatah, yang saat ini saling bertikai karena merasa mempunyai otoritas sendiri sebagai pembela Palestina.

Di sisi lain, banyak sejumlah pemimpin negara di Timur Tengah yang memanfaatkan situasi tersebut demi kepentingan politik dan popularitas. Contohnya ialah Turki dan Arab Saudi, dimana kedua negara tersebut mengecam keras Israel namun dibalik layar, mereka bekerja sama dalam bidang tertentu sehingga adanya kejanggalan.

Turki menganggap perang Palestina dan Israel adalah perang agama dan menganggap Israel buruk, padahal hubungan dagang antara Israel dan Turki kian meroket terus angkanya. Hal ini juga sama dengan Arab Saudi, yang merupakan penyebab bom Saudi di Yaman. Menganggap Israel itu buruk, padahal angka korban jiwa antara konflik Palestina dan Israel dengan di Yaman tidak ada bedanya. Sehingga kepentingan dan permainan politik yang tidak hanya di Palestina dan Israel namun di internasional, membuat penyelesaian konflik semakin rumit untuk menemukan resolusi.

Namun dari analisa penulis, apakah ada peran agama dalam permainan tersebut? Penulis masih menganggap tidak. Pendapat penulis mengenai bahwa tidak ada isu atau peran agama dalam konflik PalestinaIsrael sama dengan sejumlah para ahli. Seperti Pakar Timur Tengah dan Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Dina Y. Sulaeman, yang menganggap penjajahan tersebut hanya disebabkan oleh pengusiran warga Palestina dari rumahnya.

Di sisi lain, adanya praktisi HAM yaitu Haris Azhar yang menyatakan bahwasanya konflik Palestina-Israel bukan merupakan persoalan agama. Ditambah pakar keamanan internasional dari University of Sydney, Dr Gil Merom, melalui wawancara nya beliau mengatakan bahwa konflik ini tentang wilayah dan sesederhana itu. Bahkan PBB sendiri pun sudah menyatakan kalau agama tidak ada hubungannya
dengan perang tersebut.

Konflik Palestina dan Israel dapat dinilai sebagai konflik yang sangat kompleks. Maka, penulis menyarankan kepada masyarakat bahwa untuk melihat konflik Palestina-Israel tidak dari paradigma isu agama, melainkan siapa yang paling diuntungkan dan dirugikan. Mengenai siapa yang diuntungkan, tentu saja mereka yang menarasikan konflik ini sebagai isu agama.

Sedangkan siapa yang paling dirugikan ialah masyarakat sipil, entah itu dari Palestina maupun Israel. Penulis berpendapat bahwa kita sebagai masyarakat untuk tidak saling menyerang satu sama lain atau bergerak yang mengatasnamakan agama seolah-olah paling mengerti terhadap keadaan yang sedang terjadi. Kita sebagai masyarakat mesti saling mencerdaskan satu sama lain dan berharap yang terbaik kepada Palestina maupun Israel, agar konflik tersebut dapat segera terselesaikan. (*)

 

Oleh : JOVAN LIBERTY MARITO HALOHO, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya.