Zetizen

Komunitas Seni Lintas Suara – Tak Sekadar Media Hiburan

Batampos.id – JIKA menyebut teater Koma, pasti kita semua tidak asing lagi. Teater legendaris yang dikenal memiliki karakter pertunjukan yang kuat ini mampu mendekatkan diri dengan masyarakat. Penggemar setianya banyak dan selalu hadir dalam pementasan pementasannya.

Seperti karya “Sampek Engtay” dari Teater Koma ini menjadi karya kreatifnya yang ditunggu- tunggu pengemarnya saat itu. Tak hanya teater Koma, ada teater Mandiri juga Payung Hitam dan beberapa teater lain di Indonesia.

Perkembangan seni teater di Indonesia ini memang semakin membanggakan dari waktu ke waktu. Teater Indonesia ini tak hanya sekedar menjadi media hiburan, lebih dari itu seni pertunjukan ini juga menjadi media propaganda bahkan kritik sosial.

Advertisement

Tak heran jika muncul teater-teater baru yang digawangi anak-anak muda. Salah satunya teater Lintas Suara. Teater yang didirikan Budiman Rahman, Eno, Febry dan Kharisma Dilla ini ikut mewarnai pentas seni teater di kota Batam. ***

Lebih tepatnya berawal dari kerinduan. ’’Aku benar-benar sangat rindu berteater. Karena waktu tinggal di Jakarta aku sudah terjerumus di dunia seni ini. Tapi setelah aku balik ke Batam aku malah terjun ke dunia musik. Tapi karena kerinduan untuk berteater tadi, akhirnya terbentuk juga komunitas seni ini,’’ kata Alumni Universitas Pancasila.

Lajang yang masih berusia 25 tahun ini mengaku, komunitas seni ini didirikannya secara step by step. ’’Awalnya hanya berempat dengan teman-teman. Tapi hanya musikalisasi puisi saja. Karena aku merasa tidak puas, akhirnya aku bermain agak lebih luas menjadi teatrikalisasi puisi,” kata Budiman sambil tersenyum. Setelah itu, Budiman meningkatkan lagi menjadi sebuah teater yang tersusun secara tertata seperti ada artistik, sutradara, naskah dll.

Menurut Budiman, teater ini adalah kehidupan yang dipentaskan diatas panggung dan dipertontonkan oleh orang banyak. Melalui teater itu kita mengambil permasalahan-permasalahan, keresahan-keresahan yang kita jalani di dalam kehidupan nyata. Itu bisa kita tampilkan kedalam dunia teater. Nah kalau misalnya dari komunitas Lintas Suara sendiri kita sering membawakan naskah yang bertema sosial, lingkungan, budaya dll. ’’Biasanya mengkritik hal-hal yang harus di kritik,’’ kata Budiman lagi.

Bersama Eno, Febry dan Kharisma Dilla, Budiman memberi nama Lintas Suara untuk komunitas seninya. Dirikan pada tanggal 19 Oktober 2019 lalu dan kini sudah beranggotakan sekitar 25 orang. Dengan mayoritas usia dari 18 hingga 25 tahun.

’’Dari awal banget, kami latihan itu berlokasi di kantor Camat Lubuk Baja kemudian pindah ke lapangan bola Tanjunguma,’’ kata Budiman. Namun dengan kondisi lapangan juga warga, akhirnya tempat latihan juga berpindah-pindah. Saat ini tempat latihan Lintas Suara di SMP Hang Kasturi Tanjunguma Batam. Warga disana yang masih memberi lahan untuk Lintas Suara latihan. Lalu untuk basecamp tempat yang awalnya di lapangan sepak bola Tanjunguma di salah satu rumah anggota Lintas Suara juga.

’’Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa ada suatu gesekan dari warga sehingga kami pindah ke salah satu rumah anggota anak Lintas Suara. kemudian disitu juga bergesekan dengan warga akhirnya kita pindah ke 7 langit yang berlokasi di Tiban 3. Lokasi ini cukup jauh dan kita semua capek di perjalanan. Dan sekarang lokasi basecamp kembali ke Tanjunguma,’’kata Budiman lagi.

Setahun sejak berdiri, Lintas Suara sudah membuat beberapa pentas seni. Menurut Budiman ketika acara dibuat itu adalah suatu prestasi. Dan apresiasi yang didapatkan juga sangat sering sekali. Mulai dari apresiasi teman-teman seniman atau teman-teman literasi dan teman-teman dari Coffe Shop. Dan kegiatan yang sudah dilakukan Lintas Suara seperti di Pasir putih, 7 langit (Tiban 3) , Teko obeng (Bengkong Sadai) dan sisanya itu kebanyakan dari komunitas.

’’Aku berharap dengan terbentunyak Lintas Suara ini, teman-teman para seniman bisa berkumpul untuk belajar, berdiskusi, perform dll,’’ harap Budiman. Selama satu tahun lebih Lintas Suara berjalan, Budiman mengaku kita belum pernah ada kerjasama dengan komunitas teater yang ada diluar kota. Tapi ia sendiri pernah diundang menjadi pembicara di teater Neraca yang berlokasi di Jakarta Selatan. (*)

Saat itu, kata Budiman, setelah perform di salah satu acara di Kansa dengan tema Jebat, tiba-tiba ia terfikir untuk memberi nama Lintas Suara. Yang artinya ruang untuk menyuarakan sesuatu lewat seni.

Budiman juga berharap suatu saat di Batam, berdiri gedung kesenian, yang salah satu fungsi dari gedung ini adalah menaungi kawan-kawan seniman untuk bisa belajar disitu, untuk bisa perform disitu.

’’Kamu harus berada dilingkaran yang tepat untuk melawan dan karena sebabnya saya harus melawan,’’ kata Budiman menutup pembicaraan dengan menyebut satu kutipan yang diciptakannya dari perjalanan Lintas Suara.***

Teater modern merupakan teater yang bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penyajiannya sudah dipengaruhi oleh teater Barat. Jenis teater seperti Komedi Stambul, Sandiwara Dardanela, Sandiwara Srimulat, dan sebagainya merupakan contoh teater modern. Dalam Srimulat sebagai contoh, pola ceritanya sama dengan Ludruk atau Ketoprak, jenis ceritanya diambil dari dunia modern. Musik, dekor, dan properti lain menggunakan teknik Barat.

Dari contoh-contoh di atas, nyatalah bahwa teater sudah membudaya dalam kehidupan bangsa kita. Dalam teater, penonton tidak hanya disuguhi pengetahuan tentang baik/buruk, dan indah/jelek, tetapi ikut menyikapi dan melihat action. Saat siswa-siswa berteater, mereka melaksanakan tiga matra tujuan mengajar menurut Bloom, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sebab itulah penggunaan teater dalam media pendidikan semakin populer. (*)

 

“Kembangkan Jiwa Seni Berteater”

Reporter : Sonia Novi
Editor : Agnes Dhamayanti

TERUS berkarya merupakan inti dalam pementasan sehingga timbul kreativitas untuk menyajikan teater yang substansial. Selain itu, pemilihan pemeran melalui casting yang melibatkan sutradara dapat membuat pementasan menjadi lebih hidup.Apalagi untuk anak millenial yang terjun langsung ke dunia teater sudah tidak usah diragukan lagi. Lalu gimana sih cara kita untuk mengembangkan jiwa seni teater ini? Yuk intip tanggapan anak millenial terkait ini! (*)

F. Dok. Pribadi

MUHAMMAD KHADAPI
Anggota Lintas Suara
@khadapi.T

NIAT kita pastinya. Itu sudah paling awal jika kita harus berani terjun ke dalam jiwa seni teater ya. Dan kita anak Lintas Suara ini lebih fokus kepada seni. Karena jika kita sudah berani mengambil resiko untuk terjun ke dalam dunia seni. Maka kita harus siap menerima konsekuensi yang akan diterima nantinya. Ntah itu mulai dari konsep apa yang akan kita tampilkan nantinya. (*)

F. Dok. Pribadi

FIBRYAN SEBASTIAN P. GIRSONG
Anggota Lintas Suara
@fibryansbastian

PENDAPAT saya yang pasti awalnya karena niat, tanamkan di diri kita bahwa kita niat pengen belajar dan juga kuatkan keingintahuan kita tentang seni ini. Akhirnya dari semua itu ketika sudah dijadikan satu maka akan muncul dengan sendirinya. Ide-ide untuk kembangkan inovasi. Sebenarnya untuk kita mengembangkan jiwa seni teater ini, gak susah. Cuman kita harus siap menjadi aktor, niat harus berani tampil di depan penonton ramai dan gak takut sama konsep apa yang nantinya bakal kita mainkan. (*)