Opini

Kurang Minum Air Bisa Jadi Penyebab ISK, Jangan Takut ke Rumah Sakit

Batampos.id – TIDAK dipungkiri, pandemi Covid-19 membuat orang jadi malas ke rumah sakit (RS). Salah satu alasannya, khawatir tertular virus yang kali pertama muncul di Wuhan, Tiongkok pada akhir 2019 itu. Padahal, menunda ke rumah sakit membuat penyakit yang mudah diobati menjadi lebih sulit karena semakin parah.

Salah satunya, pasien dengan infeksi saluran kemih (ISK). Padahal, ISK adalah penyakit yang relatif mudah disembuhkan jika ditangani lebih dini. ISK adalah infeksi yang terjadi di saluran kemih yang disebabkan oleh kuman atau bakteri.

Urine atau air kencing umumnya bebas bakteri. Begitu pun di saluran kemih kita. Jika ada bakteri di saluran kencing dengan jumlah yang cukup, lalu menempel di dinding saluran kencing, potensi munculnya infeksi meningkat.

Advertisement

Bakteri, pada umumnya berada di luar tubuh kita. Biasanya, menempel di kulit, di anus, dubur, dan di organ kemaluan perempuan. Ada dua faktor yang dapat menyebabkan perpindahan bakteri dari tempat asalnya ke saluran kencing. Yaitu, faktor host atau manusiannya dan faktor agent yaitu bakterinya.

Jika berbicara terkait faktor manusianya, ada beberapa pemicu. Contohnya, kurang minum air putih. Ada macam-macam alasan pasien kenapa mereka kurang mengkonsumsi air putih. Ada yang karena kebiasaan menggunakan masker seharian sehingga lupa untuk minum air putih. Ada juga yang beralasan malas mengkonsumsi air putih sesuai porsinya karena di saat pandemi takut untuk buang air kecil di toilet umum.

Jika kita kurang minum air putih, otomatis urine yang diproduksi sedikit. Nah, saat air kencing yang diproduksi sedikit, dapat menyebabkan ph urine berubah. Hal itu bisa memudahkan bakteri untuk masuk kesaluran kencing dan menempel di dinding saluran kencing. Jika jumlah bakterinya banyak, infeksi akan terjadi.

Sedangkan dari faktor bakteri, masuknya ke saluran kemih karena manusianya kurang bersih. Seperti diketahui, bakteri ada di anus, dan di organ kemaluan terutama vagina. Ketika tidak membersihkan dengan baik usai buang air kecil maupun besar, potensi terjadinya infeksi semakin besar. Oleh sebab itu, usahakan membersihkan diri dengan sabun dan air bersih usai buang air kecil maupun besar.

ISK bisa bergejala ataupun tanpa gejala. Gejalanya, mudah diketahui. Mulai dari nyeri saat buat air kecil, anyang-anyangan (sering buang air kecil dalam jumlah sedikit), tidak bisa menahan kencing, dan terkadang sampai nyeri di perut bagian bawah. Dalam kondisi tertentu, penderita ISK juga sampai demam dan nyeri di pinggang.

ISK tidak boleh diremehkan karena bisa terjadi pada semua usia maupun jenis kelamin. Mulai dari bayi sampai orang dewasa, perempuan hamil sampai orang tua. Jika merasakan gejala, ada baiknya segera ke klinik atau ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Di fasilitas kesehatan, akan dipastikan apakah gejala yang dirasakan karena ISK atau bukan. Pemeriksaan akan menghasilkan terapi yang benar. Prosesnya dilakukan melalui pemeriksaan urine laboratorium untuk mengetahui ada tidaknya bakteri.

Ketika infeksi diketahui sejak dini, pengobatan seperti pemberian antibiotik oleh dokter bisa menyelesaikan masalah. Namun, jika penanganannya terlambat, bisa mengancam jiwa. Alasannya, ginjal yang merupakan salah satu organ saluran kemih juga bisa diserang bakteri. Jika infeksinya mengenai ginjal, maka penanganannya harus dilakukan di rumah sakit.

Tidak hanya itu, jika infeksinya terus menerus tidak tertangani maka dapat terjadi sepsis atau infeksi yang meluas. Dampaknya, organ vital lain akan ikut terganggu. Untuk pasien yang sudah mempunyai sakit sebelumnya seperti kencing manis atau diabetes mellitus pembesaran prostat harus rutin memeriksakan diri ke rumah sakit.

Jangan takut ke rumah sakit meski saat pandemi Covid-19. Sebab, rumah sakit pasti menerapkan protokol kesehatan dengan ketat seperti mewajibkan penggunaan masker, cuci tangan, memeriksa suhu tubuh, pembatasan atau memberi jarak tempat duduk untuk menunggu, sampai pada pemisahan penanganan pasien yang di curigai atau mengarah ke Covid-19. (*)

 

Oleh : dr R ANRICO MUHAMMAD, dokter di RS Royal Surabaya.