Covid-19

Pasien Positif Tinggi, yang Sembuh Juga Tinggi

Jumlah Pasien Covid-19 Batam Tembus 10 Ribu

Petugas gabungan Gugus Tugas Covid-19 melakukan razia dan juga imbauan kepada masyarakat agar patuh protokol kesehatan di Pasar Botania 2, Batam Center, Selasa (8/6). (F. Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Jumlah kasus positif Covid-19 di Batam terus bertambah. Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam, hingga Selasa (8/6), terdapat penambahan 164 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Dimana 107 terkonfirmasi bergejala serta 40 kasus lain tanpa gejala.

Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Covid-19 Kota Batam, dr, Didi Kusmarjadi, SPoG, mengatakan, sepanjang hari kemarin ada juga kasus konfirmasi perjalanan impor satu orang dan jumlah kasus konfirmasi kontak 16 orang. Total keseluruhannya 164 orang. ”Tercatat hari ini ada tambahan 164 orang, sedangkan Senin (7/6) sebanyak 151 kasus baru,” kata Didi, kemarin.

Menurutnya, dengan penambahan kasus baru ini, maka secara keseluruhan jumlah kasus di Batam telah melampaui angka 10 ribu, tepatnya 10.265, terhitung sejak diumumkan pasien pertama terinfeksi Covid-19 pada pertengahan 2020 lalu.

Advertisement

Selain penambahan kasus, tim gugus tugas juga mencatat penambahan 133 orang pasien yang sembuh. Sehingga dengan penambahan ini, maka pasien yang sembuh secara keseluruhan berjumlah 9.059 orang.

Adapun pasien yang meninggal karena Covid-19 juga bertambah menjadi 220 orang dengan rasio tingkat kematian sebesar 2,14 persen. ”Sedangkan tingkat kesembuhan berada di angka 88,2 persen dan tingkat kasus aktif 9,6 persen,” ucap Kadis Kesehatan Batam itu.

Sementara itu, jumlah pasien yang dirawat juga bertambah. Saat ini berjumlah 986 orang. Pasien yang dirawat sebagian besar menjalani isolasi mandiri (463 orang). Sisa dirawat di Asrama Haji Batam 189 orang, Rumah Sakit Awal Bros 62 orang, RSKI Galang 43 orang, dan Rumah Sakit Bhayangkara sebanyak 43 orang.

Kecamatan Sekupang saat ini jadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 213 orang dirawat. Disusul Kecamatan Batam Kota 190 orang, dan Kecamatan Batuaji 152 orang.

Selain itu, Sagulung juga mengalami peningkatan jumlah kasus yakni 115 orang dan Kecamatan Nongsa 61 orang. Kecamatan Lubukbaja 61 orang. Seibeduk dan Bengkong 60 orang. Seluruh kecamatan di mainland Kota Batam berstatus zona merah atau di atas 21 kasus. ”Iya, tertinggi di Sekupang dan Batam Kota,” sebut Didi.

Bila melihat data pasien Covid-19 yang dirawat per kelurahan, kasus tertinggi ada di Kelurahan Bulian, Batuaji yakni 88 kasus. Selain itu, ada 63 orang lainnya dirawat di Kelurahan Belian, Batam Kota dan 56 lain di Kelurahan Tanjungriau, Sekupang.

Didi menambahkan, untuk ketersediaan dan daya tampung sarana dan prasarana di Batam saat ini, terdiri dari kapasitas rumah sakit 1.791 tempat tidur, kapasitas RSKI Pulau Galang 360 tempat tidur dengan total 2.151 tempat tidur. Sedangkan fasilitas pendung karantina yakni Rusun Pemko Batam sebanyak 1.088 orang, Rusun BP Batam 360 orang dengan total keaeluruhan 1.448 orang.

Ada juga fasilitas pendukung isolasi Asrama Haji sebanyak 420 tempat tidur. ”Disiapkan juga Sport Hall Temenggung Abdul Jamal jika diperlukan,” tambah Didi.

Sementara itu, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Provinsi Kepri, per Selasa, 8 Juni 2021, terjadi penambahan 218 kasus terkonfirmasi positif. Terdiri 151 orang di Kota Batam, 10 orang di Kota Tanjungpinang, 26 orang di Kabupaten Bintan, satu orang di Kabupaten Lingga, 25 orang di Kabupaten Natuna, dan lima orang di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Provinsi Kepri juga merilis terdapat sembilan orang meninggal dunia akibat Covid-19. Yakni dua orang di Kota Batam, dua orang di Kota Tanjungpinang, tiga orang di Kabupaten Bintan, dan dua orang di Kabupaten Natuna.

Selain itu, kemarin jumlah pasien sembuh juga bertambah, yakni 251 orang. Rinciannya, 135 orang di Kota Batam, 25 orang di Kota Tanjungpinang, 41 orang di Kabupaten Bintan, 21 orang di Kabupaten Natuna, 23 orang di Kabupaten Natuna, dan enam orang di Kabupaten Anambas.

Hingga kemarin Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Provinsi Kepri mencatat, total kasus terkonfirmasi positif se-Provinsi Kepri sudah mencapai 18.835 orang. Kasus aktif 2.269 orang, sembuh 16.147 orang, meninggal 419 orang.

Sampel dari Karimun Meningkat, BTKLPP Bantah Lambat

Pemeriksaan sampel Covid-19 dari Kabupaten Karimun masih tinggi di Balai Pelatihan Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Batam. Dalam sehari BTKLPP menerima sekitar 200 sampel. Ini meningkat drastis dari pekan-pekan sebelumnya yang rata-rata 50-an sampel per hari.

Peningkatan sampel ini menunjukkan bahwa penyebaran Covid-19 di Kabupaten Karimun masih rawan saat ini. Perlu perhatian yang lebih lagi dari pemerintah dan tim gugus setempat agar kembali menekan angka penyebaran Covid-19 tersebut.

”Rata-rata 200 sampel sekarang (per hari). Sebelumnya masih kisaran 50-an sampel. Memang meningkat dan secara persentase (berdasarkan jumlah penduduk) bisa jadi tertinggi di Kepri,” ujar Kepala BTKLPP Batam, Budi Santosa, Selasa (8/6).

Sementara, untuk Batam sendiri jumlah sampel yang masuk justru menurun. Saat ini berada di kisaran 200-an sampel per hari. Sebelumnya sempat naik ke angka 300 sampel per hari. Begitu juga dengan rombongan PMI (pekerja mingran Indonesia), sampel yang masuk juga cenderung menurun yakni 40-an sampel sekali diantar. Sebelumnya diangka 50 hingga 100 sampel. ”Yang di Batam justru turun. Termasuk dari PMI. Hari ini (kemarin, red) yang dari rombongan PMI hanya 41 sampel yang masuk,” kata Budi.

Dari rata-rata semua sampel yang masuk tersebut, sebut Budi, masih bisa diatasi oleh petugasnya. Dalam arti, pemeriksaan sampel masih bisa ditangani secara normal dengan jangka waktu pemeriksaan satu hingga dua hari.

Terkait tudingan hasil uji PCR di BTKLPP untuk sampel luar Batam yang mencapai 10 hari baru keluar hasilnya, Budi membantah. Sesuai dengan kemampuan alat dan sumber daya manusia yang ada, BTKLPP Batam masih mampu menyelesaikan semua sampel yang masuk dalam waktu satu sampai dua hari. Itu karena peralatan laboratorium yang ada mampu memeriksa hingga 880 sampel dalam sehari.

”Artinya, kalau untuk menentukan hasil positif atau negatif tidak ada masalah sama kami. Sehari bisa selesai dan kalaupun lambat paling dua hari. Tidak ada sampai sepuluh hari,” tegas Budi.

Keluhan lamanya hasil swab keluar, menurut Budi, bisa karena kurang lengkapnya data dan identitas sang pemilik sampel. Jika itu terjadi, maka tim dari BTKLPP ataupun dinas dan fasilitas kesehatan yang mengirim sampel harus melengkapinya kembali.

”Misalkan ada sampel yang hanya tulis nama singkat misalkan ’Sri’ saja, tentu repot. Berapa banyak nama Sri yang masuk sampelnya dan itu harus dilengkapi lagi datanya. Bisa jadi itu masalahnya,” ujarnya.

Bahkan, pada 16 April lalu, Budi sudah kirimkan surat untuk dinas dan faskes yang mengirim sampel agar mengirim data yang lengkap, supaya tak menghambat proses pemeriksaan dan pelaporan hasil swab-nya.

Sesuai dengan kajian internal BTKLPP, ada beberapa faktor terjadinya keterlambatan dengan pemberitahuan hasil swab. Beberapa di antaranya; data sampel yang dikirim lebih lambat dari informasi yang diberikan, data diterima tidak lengkap, data berbeda antara data Excel dan NAR (New All Record), dan lainnya.

”Jika terjadi kendala seperti itu, maka kita kesulitan untuk rilis karena masuk ke sistim NAR-nya data sampel belum clear. Jadi, sekali lagi untuk pemeriksaan sampel di sini tidak ada masalah. Masih bisa melayani 1.000 sampel dalam sehari,” tegas Budi, lagi.

Sebetulnya, kata Budi, tugas BTKLPP lebih ke pemberian status positif dan negatif dari sampel yang dikirim. Status positif atau negatif dari sampel bisa didapatkan dalam waktu 5-6 jam. Namun yang lama adalah di proses cleaning data sampelnya untuk masuk ke sistim data nasional (NAR),” tutupnya. (*)

Reporter : RENGGA YULIANDRA
EUSEBIUS SARA
Editor : MOHAMMAD TAHANG