Covid-19

Vaksin Covid-19 yang Jadi Program Nasional Terus Dievaluasi Khasiatnya

Seorang petugas kesehatan bersiap menyuntik warga dengan vaksin Covid-19 dosis Sinovac saat melakukan vaksinasi massal di sebuah rumah susun di Surabaya, Minggu (6/6). Angka kematian karena Covid-19 di Batam cukup tinggi. Tercatat hingga kemarin sudah mencapai 407 orang.
(Juni Kriswanto/AFP)

batampos.id – Vaksin Covid-19 yang digunakan di dunia termasuk Indonesia dipastikan telah melewati serangkaian tahap evaluasi sebelum digunakan. Keamanan dan khasiat vaksin Covid-19 menjadi faktor utama yang diperlukan, sehingga organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM ) memberikan izin penggunaan darurat terhadap vaksin Covid-19 yang akan digunakan.

Immunization Officer WHO Indonesia, Olivi Silalahi menyampaikan, pada pertengahan 2020 WHO sudah memberikan arahan bahwa vaksin Covid-19 perlu memiliki persyaratan. Bahkan minimal untuk mendapatkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Listing) dari WHO.

“Hal ini demi memastikan vaksin Covid-19 yang digunakan di dunia aman, efektif, dan terpenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan,” kata Olivi Silalahi dalam keterangannya, Selasa (8/6).

Delapan vaksin Covid-19 yang masuk dalam daftar EUL termasuk Sinovac, telah melalui proses uji yang cukup panjang. Dia memastikan, para ahli betul-betul memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam uji vaksin Covid-19 ini agar bisa digunakan oleh masyarakat.

Advertisement

“Produsen vaksin harus memasukkan data-data awal yang kemudian ditinjau dan dinilai oleh grup ahli independen (independent expert panel). Proses penilaian inilah yang nantinya akan memberikan rekomendasi final untuk pemberian izin penggunaan darurat vaksin Covid-19,” ungkap Olivi.

Data-data yang ditinjau oleh para ahli, sambung Olivi, berhubungan dengan efikasi keamanan hingga cara pembuatan obat yang baik (good manufacturing process).

Alasan utama memerlukan vaksin Covid-19 tidak lain untuk bisa mengendalikan pandemi ini. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Prof. dr. Pratiwi P. Sudarmono, Guru Besar Mikrobiologi Klinik, FKUI.

“Untuk virus Covid-19 ini yang tergolong virus baru, memang belum ada obatnya. Maka satu-satunya cara yang bisa menghentikan pandemi ini adalah, dengan menggunakan vaksin,” ucap Pratiwi.

Prof. Pratiwi menambahkan, vaksin adalah satu-satunya mekanisme yang dengan cepat menurunkan insiden sekaligus mengurangi risiko kematian dan risiko sakit berat akibat tertular virus Covid-19.

Dia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah melakukan program vaksinasi Covid-19 secara sistematis dan memprioritaskan golongan masyarakat yang paling berisiko terkena dampaknya untuk lebih dahulu mendapatkan vaksin ini.

Sementara itu, Kepala Divisi Ritel dan Pelayanan Bio Farma Mahsun Muhammadi menuturkan, untuk bisa memenuhi target vaksinasi nasional, Bio Farma diberikan tugas untuk mengadakan vaksin Covid-19 juga telah melancarkan strategi, agar kebutuhan vaksin Covis-19 Indonesia terpenuhi dalam waktu singkat.

“Bio Farma mengimpor vaksin Sinovac dalam bentuk setengah jadi (bulk). Karena apabila kita mengimpor dalam bentuk jadi, ada keterbatasannya. Sementara kalau dalam bentuk setengah jadi maka kita akan bisa mendatangkan bahan lebih cepat,” terang Mahsun.

Selain untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan lebih cepat, sistem pengadaan vaksin Covid-19 dalam bentuk bulk dinilai akan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk segera memproduksi vaksin Covid-19 mandiri.

Dia menyebut strategi jangka panjang, Indonesia pada akhirnya mampu menciptakan vaksin dari awal sampai akhir. Tentunya Bio Farma sendirian tidak sanggup, apabila kita bergotong royong dengan berbagai lembaga penelitian dan institusi perguruan tinggi kita mampu mengembangkan vaksin merah putih yang 100 persen buatan Indonesia.

Selain itu, Mahsun juga mengakui bahwa Badan POM Indonesia sangat ketat dalam mengawal seluruh proses uji klinis vaksin Covid-19 agar bisa memastikan keamanan dan khasiatnya saat digunakan kepada masyarakat.

“Masyarakat perlu menghilangkan kecurigaan adanya efek samping atau keraguan dalam kualitas vaksin Covid-19,” pungkasnya. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim