Nasional

Dewas Cari Bukti Dugaan Pelanggaran Etik Pimpinan KPK Lili Siregar

Wakil Ketua KPK Lili Pantauli Soregar. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

batampos.id – Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) memastikan akan memproses laporan yang dilayangkan penyidik senior KPK Novel Baswedan terhadap, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar.

Lili dilaporkan terkait dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku lantaran diduga melakukan komunikasi dengan pihak berperkara, yakni Wali Kota Tanjungbalai Muhammad Syahrial.

“Sudah, sedang diproses administrasinya. Proses penanganan pengaduan diatur dalam Peraturan Dewas Nomor 02 Tahun 2020,” kata Anggota Dewas Albertina Ho dikonfirmasi, Kamis (10/6).

Albertina menyampaikan, dugaan pelanggaran kode etik Lili Pintauli Siregar akan diproses oleh Dewas KPK. Hal ini sebagaimana pernyataan Ketua Dewas KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean yang mengklaim akan mencari bukti dugaan pelanggaran etik Lili Siregar.

Advertisement

“Untuk dugaan pelanggaran etik ibu Lili, kan sudah disampaikan Ketua Dewas dalam konpers beberapa waktu yang lalu akan diproses Dewas dengan mengumpulkan bukti-bukti,” tegas Albertina.

Pelaporan itu dilayangkan oleh tiga pegawai KPK yakni Sujanarko, Rizka Anungnata dan Novel Baswedan. Dalam laporannya, Dewas KPK diapresiasi menjaga kultur dan budaya KPK yang memberikan hukuman berat dan memecat AKP Stepanus Robin Pattuju, karena melakukan pelanggaran kode etik berupa berhubungan langsung dengan tersangka.

“Sebenarnya kami sangat bersedih atas situasi ini, dimana kejadian ini yaitu jual beli perkara terjadi lagi di KPK, setelah kasus yang sama dilakukan oleh AKP Suparman yang memeras seorang saksi dari PT Industri Sandang Nusantara bernama Tin Tin Surtini tahun 2005,” ungkap Sujanarko dalam keterangannya, Rabu (9/6).

Rizka Anungnata yang juga merupakan pelapor Lili Pintauli Siregar merupakan penyidik yang menangani perkara dugaan suap yang melibatkan AKP Stepanua Robin Pattuju. Rizka lantas mempertanyakan sikap Lili Pintauli Sirgar yang diduga menghubungi dan menginformasikan perkembangan penanganan kasus Wali Kota Tanjungbalai, Syahrial ke orang nomor satu di Kota Tanjungbalai tersebut.

“Jika ini benar tentu ini menyalahi prinsip integritas yaitu pada Pasal 4 ayat (2) huruf a, Peraturan Dewan Pengawas KPK RI Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku KPK yang berbunyi, insan KPK dilarang mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka, terdakwa, terpidana, atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang diketahui perkaranya sedang ditangani oleh Komisi kecuali dalam rangka pelaksanaan tugas dan sepengetahuan Pimpinan atau atasan langsung,” beber Rizka.

Dia pun mempertanyakan sikap Lili yang diduga menggunakan posisinya sebagai Pimpinan KPK, untuk menekan Wali Kota Tanjungbalai Syahrial dalam urusan penyelesaian kepegawaian adik iparnya Ruri Prihatini Lubis di Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kualo Tanjungbalai.

“Jika ini benar tentu ini menyalahi prinsip integritas yaitu pada Pasal 4 ayat (2) huruf b, Peraturan Dewan Pengawas KPK RI Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku KPK yang berbunyi, insan KPK dilarang menyalahgunakan jabatan dan/atau kewenangan yang dimiliki termasuk menyalahgunakan pengaruh sebagai Insan Komisi baik dalam pelaksanaan tugas, maupun kepentingan pribadi,” beber Rizka.

Oleh karena itu, Rizka menyatakan bersedia diperiksa Dewas KPK untuk mendalami hal ini. Karena memang Rizka menangani perkara yang melibatkan Wali Kota Tanjungbalai Syahrial. Karena, jika memang Ibu Lili Pintauli Siregar tidak melakukan kedua dugaan di atas maka Dewan Pengawas harus berani mengumumkannya kepada publik sehingga membebaskan KPK dari stigma bahwa di KPK adalah hal biasa jual beli kasus.

“Jangan sampai KPK juga dianggap kerapa melakukan pemerasan saksi/tersangka dalam penanganan kasus, menghentikan kasus karena menerima sesuatu/uang, mentersangkakan yang seharusnya tidak tersangka dan atau tidak mentersangkakan seseorang padahal sudah seharusnya ditersangkakan karena menerima sesuatu,” pungkasnya. (*)

Sumber: JP Group 
Editor: Jamil Qasim