Internasional

Bahaya Kelaparan dan Penyakit Ancam Myanmar

batampos.id – Doctors Without Borders (MSF) di Myanmar resah. Mereka menerima sepucuk surat dari otoritas wilayah Dawei. Intinya meminta agar mereka tidak beroperasi lagi di wilayah tersebut. Keputusan itu bakal mengancam banyak nyawa. Terutama ribuan pasien HIV dan TBC yang selama dua dekade ini mereka rawat.

ANAK-anak dan orang tua yang mengungsi dari pertempuran baru-baru ini antara pasukan pemerintah dan pemberontak etnis di daerah mereka, menunggu distribusi
makanan dari kelompok sukarelawan saat berlindung di sebuah biara di kota Namlan, di negara bagian Shan di timur Myanmar. (MNWN/AFP)

’’Menangguhkan aktivitas MSF dapat mengancam jiwa banyak pasien kami. Padahal, di saat yang sama layanan publik masih terganggu,’’ bunyi pernyataan MSF kemarin (9/6) seperti dikutip Agence France-Presse.

Mogok massal masih berlangsung di Myanmar. Mayoritas rumah sakit umum milik pemerintah tutup. Sistem layanan kesehatan lumpuh. Total ada 2.162 penderita HIV di Dawei yang menerima perawatan dan obat antiretroviral (ART) dari MSF. Mereka juga memperingatkan risiko penularan para pasien TBC yang bakal lebih luas. Mereka sudah meminta otoritas setempat untuk membatalkan kebijakannya.

Advertisement

Dawei adalah kampung halaman pemimpin junta militer Min Aung Hlaing. Sejak 1 Februari lalu, hampir setiap hari massa turun ke jalan menentang kudeta. Bentrokan dan korban jiwa berjatuhan di sana. Total ada lebih dari 800 penduduk di berbagai kota di Myanmar yang menjadi korban keberingasan junta militer.

Situasi di Myanmar kian memprihatinkan. Selasa (8/6) Palang Merah Myanmar menyatakan meningkatkan upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan 236 ribu penduduk. Pandemi Covid-19 plus kudeta membuat kehidupan mereka karut-marut.

Di lain pihak, Utusan Khusus PBB untuk HAM di Myanmar Tom Andrews memperingatkan peluang terjadinya kematian massal akibat kelaparan dan penyakit di negara tersebut. Terutama di desa-desa dan kota-kota yang kini memberontak menentang junta militer. Beberapa kelompok penduduk membentuk pasukan pertahanan untuk melawan militer.

Salah satu yang kini memanas adalah Negara Bagian Kayah yang berbatasan dengan Thailand. Penduduk menuding militer menggunkaan artileri untuk menghancurkan desa mereka. Junta militer tidak pandang bulu. Gereja-gereja yang dipakai berlindung juga dibom. Sekitar 100 ribu penduduk kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke hutan.

’’Jika tidak ada tindakan segera, kematian massal akibat kelaparan, penyakit, dan paparan lainnya akan terjadi dalam skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya di Kayah,’’ tegas Andrews. (*)

Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO