Ekonomi & Bisnis

Produsen Kertas Raih Laba Kotor Rp 392,8 Miliar

ILUSTRASI: Aneka buku di DC Mall, Nagoya Batam, Senin 19 April 2021. F Suprizal Tanjung, Batam Pos

batampos.id – Industri kertas dan pulp bisa menghindari kerugian. Padahal usaha ini merupakan salah satu yang terdampak karena Covid-19. Semua bisa diatasi dengan memaksimalkan efisiensi saat penjualan turun.

Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur memaparkan, pihaknya berhasil mencatat keuntungan di tengah turunnya penjualan. Hal tersebut dikarenakan upaya penekanan biaya pokok produksi yang berhasil tahun lalu.

Sepanjang 2020, beban penjualan sudah turun sebesar 14,5 persen. Hal tersebut dikarenakan turunnya beban ekspor dan pengangkutan sebanyak 18,1 persen. Sedangkan beban administrasi turun 4,8 persen karena turunnya perjalanan dinas, dan jamuan.

Advertisementjudul gambar

Hal tersebut membuat beban keuangan mengalami penurunan sebesar 21,2 persen. Dari Rp 48,6 miliar pada 2019 menjadi Rp 28,3 miliar pada 2020.

’’Karna itu, laba kotor kami justru tumbuh sebanyak 4,8 persen menjadi Rp 392,8 miliar, Sedangkan, laba bersih naik sebanyak 25,2 persen menjadi Rp 153,9 persen,’’ ungkapnya dalam siaran pers pekan lalu (12/6).

Dengan catatan itu, Suparma memutuskan untuk membagikan Rp 31 miliar alias 20 persen dari total laba bersih 2020. Jika dibagi dengan total saham yang beredar, pihaknya menyebar Rp 15 per saham.

BACA JUGA: Terampil Merangkai Bunga Kertas

Terkait proyeksi tahun ini, Hendro mengaku bahwa perkembangan kinerja tahun ini cukup positif. Selama empat bulan pertama, pihaknya berhasil mendorong pertumbuhan penjualan sebanyak 13,5 persen. Hal tersebut dikarenakan harga jual rata-rata produk kertas yang naik 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari sisi kuantitas, penjualannya juga naik sebanyak 7,1 persen.

’’Pencapaian ini setara dengan 31,8 persen dari nilai total target Suparma 2021. Dari sisi kuantitas, kami sudah menjual sebanyak 67 ribu metric ton (MT) yang setara 33,3 persen dari target volume 2021,’’ ungkapnya.

Soal investasi, Hendro mengatakan bahwa mereka baru saja membeli mesin kertas PM 10 dengan nilai USD 32 juta. Mesin itu bakal digunakan untuk memproduksi wrapping kraft dan hand towel. ’’Mesin terbaru kami ditargetkan beroperasi pada September 2021 dengan total kapasitas 54 ribu MT per tahun. Sehingga, total kapasitas kami bakal naik 25 persen menjadi 304,9 ribu MT per tahun,’’ jelasnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung