Ekonomi & Bisnis

Industri Baterai Listrik Nasional Serap 23 Ribu Tenaga Kerja dan Saving USD 9 Miliar

ILUSTRASI. Pengemudi mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di Jakarta. f. Dery Ridwansah/JawaPos.com

batampos.id – Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery) Agus Tjahjana menyebut, kontribusi pengembangan baterai mobil listrik di dalam negeri akan berdampak pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.

“Akan ada 23 ribu tenaga kerja yang terserap, dan kita bisa saving USD 9 miliar,” ujarnya dalam diskusi secara virtual, Kamis (24/6).

Diakuinya, pemerintah saat ini sedang mendorong pengembangan industri baterai mobil listrik di dalam negeri. Hal ini diharapkan bakal berdampak pada perekonomian nasional melalui peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD 25 miliar per tahun.

Seperti diketahui, pabrik baterai sel (cell battery) kendaraan atau mobil listrik akan mulai dibangun Juli atau selambat-lambatnya pada Agustus 2021. Produksi ditargetkan mulai pada 2023. Proyek tersebut digarap oleh konsorsium yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding.

BACA JUGA: Industri Baterai EV Terbangun Hemat USD 2 Miliar Impor BBM

Pembentukan indutri tersebut dimulai dari penandatangan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan Heads of Agreement (HoA) investasi pabrik baterai kendaraan listrik dengan konsorsium LG.

Menurutnya, akan ada banyak yang dapat digarap dalam industri baterai mobil listrik ini yang ujungnya akan berdampak pada peningkatan perekonoman nasional dengan skala yang lebih besar.

“Karena industri IBC ini hanya bikin katodanya saja, masih ada jenis-jenis lain separator, elektrolitnya, dan sebagainya. Kalau ini bisa masuk, dampaknya terhadap perekonomian multiplier-nya akan lebih besar lagi,” pungkasnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung