Properti

Mengembangbiakkan Khieo Sawoei di Rumah, Wajib Pangkas agar Berbunga

Tri Rachmadi menunjukkan daun mangga Khieo Sawoei yang daunnya lebih lebar dan hijau dari jenis mangga lainnya. f. PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS

batampos.id – Bosan dengan Mangga Golek, Gadung, atau Manalagi, Mangga Khieo Sawoei bisa jadi pilihan. Varietas unggulan asal Thailand itu juga pas untuk pekebun pemula. Bandel, mudah dirawat, dan rasa buahnya pun lezat.

Bibit Khieo Sawoei yang berumur satu–dua tahun tampak rimbun di halaman Tri Rachmadi di Sukodono, Sidoarjo. Tingginya mencapai 1,5–1,6 m. Cabang-cabangnya terpangkas rapi. ”Sekilas, mirip dengan mangga lokal. Yang khas, daunnya lebih lebar dan hijau. Saat pupus pun hijau, nggak semu kuning atau merah,” imbuhnya.

Tri menyatakan, mangga asal Thailand itu juga adaptif dan tangguh. Pria kelahiran Pasuruan tersebut menceritakan, bibit Khieo Sawoei bisa tumbuh baik saat cuaca sejuk Malang maupun saat panas lembap Sidoarjo.

Advertisementjudul gambar

”Pas lagi panas-panasnya, sekitar bulan puasa yang lalu, bibit saya di sini juga kuat. Cuma, nyiramnya memang harus dua kali karena cuacanya kering,” lanjutnya.

Keunggulan lainnya, Khieo Sawoei lebih berat daripada mangga lokal. Bobot per buah mencapai 500-600 gram.

”Buahnya memanjang dan padat, mirip Golek. Kalau sudah masak, warnanya kuning,” papar Tri.

Sesuai dengan namanya, Khieo Sawoei, yang berarti dimakan saat hijau, bisa dinikmati sejak masih berupa mangga muda. Mangga asal Sampran, Thailand, itu disebut-sebut tak memiliki rasa kecut walau masih pencit.

Tri menjelaskan, bibit mangga miliknya merupakan hasil cangkok. Menurut dia, teknik itu memiliki keunggulan untuk mampu mempertahankan sifat indukan. Kekurangannya, tanaman memiliki akar serabut.

”Kalau pohonnya nanti mulai tua, goyah. Tapi, kalau untuk tabulampot, saya rasa nggak masalah,” paparnya. Sebab, area tanam hanya seluas pot dan ukuran tanaman cenderung tak terlalu besar.

Berdasar pengalamannya, Khieo Sawoei mulai belajar berbunga di usia 3 tahun.

Untuk mendukung proses itu, tanaman perlu mendapat perawatan yang baik sejak kecil. Salah satunya, pemangkasan.

”Ada dua tujuan mangkas. Membentuk’ pohon dan membuat nutrisi yang masuk terpakai maksimal,” tegas Tri.

Untuk tanaman buah dalam pot, pemangkasan juga berfungsi agar tanaman tak tumbuh terlalu tinggi.

Alumnus Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang, itu menyarankan pemangkasan satu-tiga. Misalnya, dari satu cabang utama, ranting yang tumbuh dibatasi maksimal tiga. Jika terlalu banyak ranting, tanaman bakal sulit rimbun. Prinsip serupa juga berlaku ketika tanaman mulai masuk fase buah.

BACA JUGA: Syngonium, Tanaman Hias yang Tidak Manja, Bikin Happy dan Cepat Tumbuh

”Tak semua bakal buah harus ’dijadikan’ alias dibiarkan menjadi buah,” ucapnya.

Penggemar anggrek itu berbagi tip merawat Khieo Sawoei yang baru kali pertama berbuah. Dia menjelaskan, dalam satu dompol bunga, baiknya hanya sisakan satu-dua bakal buah. Agar bakal buah tak gampang rontok, Tri juga memberikan pupuk dengan kandungan kalsium dan MKP (monokalium fosfat). Plus, brongsongan atau pelindung buah.

Tri mengibaratkan masa berbuah sama dengan melahirkan. Sama-sama fase yang melelahkan. Untuk mendukung pemulihan, dia biasa memberikan tambahan vitamin seperti pupuk organik cair atau humus. Memangkas cabang atau mengurangi daun juga bisa dilakukan. Dengan pemulihan yang baik, pemilik usaha kuliner itu menilai, Khieo Sawoei siap berbunga lagi.

”Sekitar 6 hingga 12 bulan setelah buah, biasanya keluar bunga lagi,” paparnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung