Bintan-Pinang

Penumpang Kapal Keberatan Wajib RT-Antigen di Pelabuhan SBP Tanjungpinang

Sejumlah penumpang yang tiba dan akan berangkat dari Pelabuhan SBP Tanjungpinang saat akan rapid tes antigen, Selasa (13/7).f. Peri Irawan

batampos.id– Sejumlah calon penumpang kapal di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang mengeluhkan kebijakan pemerintah yang mewajibkan untuk rapid tes antigen. Di Pelabuhan SBP Tanjungpinang saat ini tidak hanya mewajibkan calon penumpang yang akan berangkat tapi juga penumpang yang tiba namun belum memiliki surat keterangan negatif rapid tes antigen.

BACA JUGA: Bagi Warga yang Sudah Divaksin jika Bepergian Keluar Provinsi Tetap Wajib Antigen-PCR

Sementara berdasarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Kepri nomor 536/SET-STC19/VII/2021 yang terbit pada 8 Juli 2021 kemarin, ketentuan untuk pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) antar kabupaten kota dalam Provinsi Kepri, bagi pengguna moda transportasi laut cukup menyediakan kartu atau sertifikat vaksin minimal dosis pertama.

Advertisementjudul gambar

Salah seorang calon penumpang yang akan berangkat ke Moro, Karimun,  Lina,  37, mengaku sangat keberatan karena harus mengeluarkan uang sebesar Rp 150 ribu untuk biaya rapid tes antigen di Pelabuhan SBP Tanjungpinang.

“Ini sangat memberatkan biaya antigen kena Rp 600 ribu untuk empat orang,  sedangkan ongkos kami saja sudah Rp 600 ribu,”ujar Lina, saat diwawancarai, Selasa (13/7).

Ia mengaku kaget harus rapid tes antigen sebelum berangkat, karena ia bersama suaminya sudah menjalani vaksinasi dosis pertama. “Saya sudah vaksin, harusnya tak payah harus tes lagi, nambah biaya lagi,  belum lagi buat balik ke Kijang nanti,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan salah satu penumpang yang tiba dari Batam, Aman,  48, mengaku belum memiliki surat rapid tes antigen karena saat berangkat hanya menunjukkan kartu vaksin. Bahkan ia menuding rapid tes antigen yang disediakan di pelabuhan itu jadi ladang bisnis.

“Di Batam diperiksa sertifikat vaksin saja dan saya punya, sampai di sini malah disuruh rapid antigen lagi. Lebih mahal dari tiketnya,  ini dijadikan lahan bisnis,” tuturnya. (*)

Reporter: Peri Irawan
editor: tunggul