Metropolis

Korban Diiming-imingi Akan Dinikahi

Polisi Ringkus Pencabul Bocah Remaja

Polisi meringkus tersangka pencabulan Mn di rumahnya, di wilayah Bengkong. (Polda Kepri untuk Batam Pos)

batampos.id – Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kepri mengamankan M Nikolas, 21, pelaku cabul terhadap remaja, Ms, 15, Jumat (9/7) lalu.

Kepada penyidik, M Nikolas mengaku sudah mencabuli korban sebanyak empat kali. Untuk memuluskan aksinya, pelaku merayu dan mengiming-imingi akan menikahi korban.
“Pengungkapan kejadian ini berawal dari laporan orangtua korban,” kata Kasubdit IV Ditreskrimum, AKBP Dhani Catra Nugraha, Selasa (13/7).

Kasus ini bermula dari laporan ibu korban, warga Batuampar, yang awalnya kehilangan anaknya, Ms, Senin (5/7). Setelah melakukan pencarian, Selasa (6/7) ada kabar bahwa anaknya berada di rumah temannya di Tiban.

Advertisementjudul gambar

Saat ditemukan di rumah temannya, orangtua korban mendapati anaknya pucat dan lesu.
“Sehingga menanyakan kondisi anaknya, si anak ini awalnya enggak menjawab. Hingga akhirnya, korban ini menyatakan bahwa dirinya telah disetubuhi oleh Mn (M Nikolas),” ungkap Dhani.

Orangtua Ms lalu melaporkan kejadian ini ke Polda Kepri, dengan nomor laporan, LP- B/79/VII/2021/SPKT-KEPRI, tanggal 7 Juli 2021. Berdasarkan laporan tersebut, Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri bergerak mencari pelaku.

“Kami mendapatkan informasi pelaku ada di kawasan Bengkong,” ungkap Dhani.

Bermodalkan informasi ini, polisi mengejar pelaku ke Bengkong. Setelah melakukan penyelidikan, didapat informasi lengkap alamat rumah pelaku di wilayah Bengkong.
“Dua hari berselang, usai laporan masyarakat kami dapat mengamankan pelaku, Jumat (9/7) di kediamannya,” tuturnya.

Saat diamankan, M Nikolas tidak melawan. Dari pemeriksaan awal polisi di TKP, Nikolas mengaku telah membawa Mn ke hotel dan melakukan pencabulan sebanyak empat kali.
Pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap pelaku dan mengumpulkan beberapa barang bukti. Selain itu, kepolisian berkoordinasi dengan UPTD Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dalam melakukan asesmen serta pendampingan terhadap korban.

M Nikolas dijerat dengan pasal 81 ayat 2 Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

“Ancaman hukuman paling singkat 5 tahun, paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” ungkap Dhani. (*)

Reporter : FISKA JUANDA
Editor : RATNA IRTATIK