Metropolis

Orangtua Calon Siswa Menunggu di Depan SMAN 3 Batam

Orangtua Calon Siswa Menunggu di Depan SMAN 3 Batam

Puluhan orangtua calon siswa menunggu di depan SMAN 3 Batam untuk menanti kepastian nasib anak mereka yang tak lolos seleksi PPDB di sekolah tersebut, Selasa (13/7). (Fiska juanda/batam pos)

batampos.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk SMA dan SMK negeri sudah usai. Namun, proses tersebut masih menyisakan polemik. Pasalnya, banyak calon siswa yang tak diterima di beberapa sekolah pilihan.

Bahkan, puluhan orangtua siswa yang menantikan nasib anaknya karena tak diterima dalam seleksi PPDB di SMAN 3 Batam, masih bertahan di sekitar kawasan sekolah untuk mempertanyakan nasib anaknya. Para orangtua calon siswa ini mengklaim bahwa jarak rumahnya sangat dekat dengan sekolah sehingga berharap diprioritaskan diterima di sekolah tersebut.

”Rumah saya di Batara Raya, hanya 1 kilometer (km) saja. Tapi tidak diterima dan malah disuruh sekolah ke Kabil sana yang jaraknya 6 kilometer,” kata Suherman, salah satu orangtua yang menunggu kepastian nasib anaknya di depan sekolah tersebut, Selasa (13/7).

Advertisementjudul gambar

Ia mengatakan, PPDB menerapkan sistem zonasi, dengan memprioritaskan siswa yang dekat dengan sekolah agar memudahkan siswa sampai ke sekolah dan tidak mengganggu proses belajar mengajar. Tapi, sambung dia, pihak Dinas Pendidikan malah menganjurkan anaknya bersekolah ke SMAN 21 Batam yang berada di Kabil.

”Tak masuk akal pak, saya tinggal di Batara Raya, paling dekat ke sekolah itu ya SMAN 3 Batam. Masak saya disuruh ke ujung Nongsa sana, semakin jauh anak saya bersekolah,” ungkapnya.

Ia mengaku, ada 80-an anak yang masih menunggu kejelasan dari pihak SMAN 3 dan Dinas Pendidikan Provinsi Kepri. ”Anak-anak yang tak masuk ini, kebanyakan tinggal di sekitar kawasan sekolah, seperti Taman Raya, Buana Vista, Bandara Mas, Botania Garden, kan dekat itu,” ucapnya.

Suherman mengaku sudah mendata siswa yang tak bisa masuk ke SMAN 3 Batam. ”Kami berharap pemerintah memperhatikan ini, jangan paksanakan anak kami sekolah terlalu jauh dari rumah,” ungkapnya.

Hal senada diucapkan orangtua calon siswa lainnya, Lur. Ia mengatakan bahwa harusnya ada solusi atas permasalahan mereka. Anak-anak dapat belajar di sekolah yang dekat dengan rumahnya. ”Bapak-bapak di pemerintahan, tolong perhatikan nasib anak kami,” ucapnya.
Terkait orangtua siswa yang menunggu di depan gerbang sekolah, Kepala SMAN 3 Batam, Vivi Kusuma, mengatakan bahwa pihaknya hanya menjalankan kebijakan dan perintah dari pimpinan.

”Ruangan (kelas) kami juga sudah full (siswa), tidak ada lagi space (ruang),” ucapnya.
Vivi mengatakan, tidak ada lagi lahan yang bisa dibangun untuk membuat ruang kelas baru. Sekarang, SMAN 3 Batam memaksimalkan ruang laboratorium untuk kegiatan belajar mengajar.

”Tapi ya kembali lagi ke pimpinan. Kami mengikuti apa kata pimpinan saja, namun saran saya masyarakat dapat masuk ke sekolah lain yang dekat dengan tempat tinggalnya,” ucapnya.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kepri mencatat masih ada 2.807 calon siswa baru yang belum bisa diakomodir lewat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK Negeri di Kota Batam.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Muhammad Dali, mengatakan, tawaran konkret untuk mengurangi penumpukan di sejumlah sekolah di Batam adalah dengan menambah rombongan belajar (rombel) dan unit sekolah baru (USB).

“Setelah pendaftaran ulang masih ada 2.807 orang pendaftar yang belum bisa diakomodir. Jumlah tersebut terdiri dari 1.600 pendaftar di SMK negeri dan 1.207 pendaftar di SMA negeri yang terjadi di Kota Batam,” ujar Muhammad Dali, Senin (12/7) di Tanjungpinang.

Menurut Dali, penumpukan pendaftar terjadi di empat sekolah di Kota Batam. Pertama, adalah SMAN 1, SMAN 3, SMAN 8, SMAN 5, dan SMKN 1 Batam. Dijelaskan Dali, banyak pendaftar yang ditolak oleh sistem di keempat sekolah tersebut, karena masih adanya paradigma para orang tua atau calon siswa bahwa sekolah tersebut merupakan sekolah unggulan atau favorit.

“Kami sudah berulang kami mendengungkan bahwa sekarang ini tidak ada lagi yang namanya sekolah favorit atau unggulan. Maka untuk mematahkan pandangan tersebut adalah melalaui sistem zonasi. Sehingga, semua sekolah secara bertahap akan memiliki keunggulan yang setara,” jelasnya. (*)

Reporter : FISKA JUANDA
Editor : RATNA IRTATIK