Covid-19

Tak Ada Lagi Isoman di Rumah

PPKM Darurat Ganti Nama PPKM Level 4, Mulai Diterapkan Hari Ini

Petugas kesehatan mempersiapkan tempat tidur bagi pasien Covid-19 yang akan menjalani perawatan di Asrama Haji Batam, Batam Center, Minggu (18/7).
(Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Kota Batam resmi berakhir, Selasa (20/7). Mulai hari ini, Rabu (21/7), Kota Batam menerapkan PPKM Level 4, yakni level tertinggi berdasarkan grafik peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia.

”Perintah dari Pak Presiden, PPKM darurat diperpanjang sampai 31 Juli. Tapi bukan PPKM darurat lagi, namanya jadi PPKM Level 4. Itu kita laksanakan. Mudah-mudahan 31 Juli semua sudah terselesaikan,” ujar Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, Selasa (20/7).

Mengacu pada panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada empat kriteria yang digunakan untuk menentukan status level pandemi Covid-19 sebuah daerah. Yaitu, rasio pasien di rumah sakit, tingkat kematian, jumlah kasus per 100 ribu penduduk dalam rentang dua minggu, dan jumlah tes.

Advertisementjudul gambar

Sebuah daerah, misalnya, masuk level 3 jika ada 10-30 orang per 100 ribu penduduk dalam satu pekan terakhir yang dirawat di rumah sakit. Kemudian, 2-5 kasus kematian per 100 ribu penduduk dan 50 sampai 150 kasus aktif per 100 ribu penduduk dalam rentang dua pekan.

Kemudian, sebuah daerah masuk level 4 jika ada lebih dari 30 orang per 100 ribu penduduk dalam satu pekan terakhir yang dirawat di rumah sakit. Kemudian, lebih dari 5 kasus kematian per 100 ribu penduduk, dan lebih dari 150 kasus aktif per 100 ribu penduduk dalam rentang dua pekan.

Berdasarkan perkembangan kasus, tingkat kematian, rasio pasien di rumah sakit, dan jumlah tes di Kota Batam, pemerintah pusat menetapkan PPKM darurat untuk Batam sejak 12 Juli-20 Juli. Dengan parameter penetapan PPKM darurat, yakni Batam masuk daerah dengan kriteria level 4.

Dengan kata lain, PPKM darurat diputuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk Jawa dan Bali lalu menyusul 48 kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Batam dan Tanjungpinang karena statusnya sudah level 4. Namun, mulai hari ini, istilah darurat diganti menjadi Level 4. Dengan demikian, PPKM darurat dan PPKM Level 4 sesungguhnya sama saja, hanya istilah saja yang berbeda.

Rudi melanjutkan, di hari pertama pemberlakuan PPKM Level 4 ini, dirinya akan mengumpulkan seluruh Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah). Sebab, dalam pemberlakukan PPKM Level 4, tidak boleh lagi ada pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing. Seluruh pasien positif Covid-19 akan dikumpulkan di satu tempat, agar bisa memutus penularan Covid-19 di Kota Batam.

”Kalau tak muat, akan kami tempatkan di beberapa tempat. Seperti di rusun atau Asrama Haji. Kepada yang terjangkit positif saya mohon maaf. Kalau nanti kami kumpulkan jangan timbul perasaan diasingkan, karena kami ingin yang sakit ini dapat disembuhkan dan tidak menjangkit kepada yang tidak sakit,” tegasnya.

Pemko Batam, kata Rudi, juga akan mempersiapkan bantuan paket sembako kepada keluarga pasien yang menjalani isolasi. Adapun sembako yang dipersiapkan itu, berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan untuk masyarakat. Dimana, sembako bantuan dari CSR tersebut sudah mulai terkumpul dan secepatnya akan didistrubusikan.

”Kita akan memberi sembako hanya berbentuk beras saja, yang lain mungkin tidak. Karena kemampuan kita terbatas dan kondisi pengusaha yang sama-sama merasakan kesusahan ini. Intinya itulah yang dibantu dari pemerintah, Forkopimda, dan semuanya,” imbuhnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, untuk bantuan sembako yang bersumber dari APBD, pihaknya belum dapat memastikan bisa tidaknya direalisasikan. Pasalnya, hingga saat ini pihaknya telah enam kali melakukan refocusing anggaran di APBD 2021, namun anggaran terbatas. Sehingga, solusinya untuk bantuan sembako itu, Pemko Batam untuk sementara menggali potensi dari CSR perusahaan.

”APBD pun entah mana lagi yang akan kira refocusing. Tapi sementara sampai ke tahap (refocusing) itu, kita akan maksimalkan potensi di masyarakat dari CSR ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini sudah banyak proyek fisik yang dianggarkan dalam APBD 2021, sudah ada pemenangnya. Sehingga, untuk menyelesaikannya tidak mudah. Sementara di sisi lain, APBD Kota Batam juga tengah mengalami defisit sebesar Rp 221 miliar. ”Itulah refocusing ini betul-betul kita cermati, mana yang belum terlaksana. Sementara sampai kesitu (refocusing), kita menggerakkan potensi dari CSR,” tutupnya.

Sementara itu, kasus positif Covid-19 di Batam belum melandai. Bahkan masih cenderung bertahan di angka 500-an per hari. Bahkan pada Minggu (18/7) lalu menyentuh angka 523 orang positif dan 12 meninggal. Lalu, Senin (19/7) 373 orang positif dan delapan meninggal dunia. Kemudian, Selasa (20/7) ada 419 orang positif dan tujuh orang meninggal.

”Ya, Selasa (20/7) ada penambahan 419 pasien baru, 265 pasien sembuh, dan tujuh orang pasien Covid-19 meninggal,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Penangan Covid-19 Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG. Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Kota Batam telah mencapai 20.102 orang, sejak pertama kali diumumkan awal Maret 2020 lalu.

Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam, dari total kasus positif, sebanyak 16.191 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Kemudian dari total kasus positif, sebanyak 464 meninggal dunia.

Didi menambahkan, saat ini ada 3.447 kasus aktif atau pasien yang tengah menjalani perawatan dan isolasi mandiri karena terkonfirmasi positif Covid-19 maupun varian baru. Rinciannya, isolasi mandiri 2.497 orang, rumah sakit 650 orang, dan Asrama Haji 300 orang. ”Total dalam perawatan 3.447 orang,” sebut Didi.

Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam juga telah melakukan RTD Antigen kepada 38.873 spesimen. Hasilnya, 2.799 positif dan 36.074 lainnya negatif.

Terkait angka positif harian dan angka kematian yang masih tetap tinggi, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, tampak bingung. Apalagi sudah sepekan PPKM darurat diberlakukan, namun kasus tidak kunjung menurun.

”Kalau ada penambahan 11 hari PPKM, saya lebih memikirkan jumlah Covid-19 belum turun. Bahwa Covid-19 ini masa daya tahan 14 hari, dan baru jalankan 8 hari, tapi tidak turun-turun juga jumlah kasusnya,” ujarnya.

Memasuki masa PPKM Level 4, Rudi mengaku bahwa periode 28-28 Juli nanti, pengetatan akan semakin diperkuat dengan harapan jumlah kasus bisa terus menurun. ”Hasil tracing kita semalam, menunjukkan 400-500 orang terpapar Covid-19. Ini bisa jadi masalah, mau dibawa kemana ini. Maka saya akan kembangkan kembali,” imbuhnya.

Rudi kembali menyebut, salah satu solusi adalah memisahkan warga sehat dengan keluarganya yang terkonfirmasi positif Covid. ”Itu tadi, yang selama ini isoman di rumah masing-masing, kita kumpulkan di tempat isolasi yang terpusat, supaya penularan ke yang sehat bisa dicegah. Jadi, tak ada lagi yang isoman di rumah masing-masing,” tegasnya.

Rudi juga mengaku serbasulit saat ini. Akibat PPKM darurat yang mulai hari ini berganti nama jadi PPKM Level 4, membuat banyak warga jatuh miskin. ”Kami sudah keliling bagi sembako untuk warga miskin. Tapi saat ini, pendapatan tidak ada, kegiatan tidak ada, kita semua jadi miskin,” jelasnya. (*)

Reporter : EGGI IDRIANSYAH
RENGGA YULIANDRA
RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG