Nasional

Bangun Panel Tenaga Surya di Waduk Duriangkang

Kepala BP Batam Tanda Tangani Kerja Sama dengan Sunseap Group Senilai Rp 29 Triliun

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menandatangani MoU dengan Sunseap Group secara virtual, Senin (19/7) lalu. Proyek ini bernilai Rp 29 triliun. Foto (atas) Panel tenaga surya milik Sunseap di Singapura.
(Humas BP Batam untuk Batam Pos)

batampos.id – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, mengungkapkan bahwa Batam tetap tumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kepri meskipun masih di tengah pandemi Covid-19. Hal itu dibuktikan dengan masuknya investasi perusahaan asal Singapura, Sunseap Group Pte Ltd, senilai Rp 29 triliun.

Hal itu diungkapkan Rudi usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan secara virtual dengan Co-Founder and CEO SunSeap Group Pte Ltd, Frank Phuan. Penandatanganan MoU antara BP Batam dengan SunSeap Group pada Senin (19/7) lalu, diharapkan mampu meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi di Batam yang dapat berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

BP Batam bersama Sunseap Group melakukan penandatanganan kerja sama dalam pembangunan sistem fotovoltaik terapung (floating photovoltaic system/FPV) yang terbesar di dunia dan juga sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS) di atas Waduk Duriangkang.

Advertisementjudul gambar

Rudi juga mengatakan bahwa BP Batam akan mengawal proses dan implementasi investasinya sebagaimana yang sudah tercantum dalam perjanjian agar dapat terlaksana dengan baik dan tepat waktu.

Sunseap Group adalah sebuah perusahaan penyedia energi bersih terbesar di Singapura yang didirikan pada tahun 2011. Solusi surya Sunseap yang telah terbukti untuk mendiversifikasi portofolio energi melalui model dan strategi biaya yang kompetitif.

“Ke depannya lapangan pekerjaan akan tercipta sekitar 3.000 pekerja lokal tidak hanyak Batam, tetapi juga Indonesia,” sebutnya.

Sunseap Group akan memasang panel surya di genangan waduk dengan cara mengambang (floating) di mana nanti hasilnya energinya akan diekspor ke Singapura dan sebagian untuk Batam. Ini akan menjadi salah satu yang terluas di Asia Tenggara dan pertama di Batam.

Rudi mengatakan, proyek ini akan dilaksanakan pada tahun ini dan dimulai dengan persiapan perizinan dan kajian awal untuk implementasinya di genangan Waduk Duriangkang.

Ia kemudian, mengemukakan rencana investasi ini mampu memberikan manfaat bagi Batam dalam beberapa hal, antara lain mendorong pengurangan emisi karbon, mendorong tercapainya target penggunaan energi terbarukan, mendorong investasi di Batam, meningkatkan potensi pendapatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) BP Batam, dan meningkatkan kapasitas kesediaan listrik di Batam, serta untuk mendukung industri lainnya.

Ruang lingkup kerja sama ini akan meliputi pembangunan konstruksi solar panel dan floating ponton, dimana Sunseap berkewajiban mengutamakan material dan bahan produksi dalam negeri dan tenaga kerja Indonesia untuk pekerjaan yang dilaksanakan di Indonesia, sesuai dengan ketersediaan bahan dan tenaga kerja.

Setelah penandatanganan MoU ini akan di bentuk tim bersama untuk membuat kajian kelayakan dan kajian lingkungan serta perizinan dan relaksasi regulasi dengan target penyelesaian 12 bulan, yang dilanjutkan pembangunan selama 36 bulan.

Sementara itu, Co-Founder and CEO Sunseap Group Pte Ltd, Frank Phuan, mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada BP Batam, Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian dan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Singapura atas dukungan yang terus berlanjut untuk proyek ini.

Frank menyebut proyek ini sangat penting karena merupakan bukti komitmen tegas Indonesia untuk melawan perubahan iklim dan pengurangan jejak karbon melalui pembangkit energi terbarukan.

“Dengan adanya proyek ini, juga akan membantu menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru, dan dalam waktu yang sama, adanya transfer keahlian di sektor energi terbarukan kepada masyarakat Batam,” ujarnya.

“Saya sangat menghargai komitmen dan upaya yang dilakukan dari BP Batam, dan kami di Sunseap berkomitmen menjadi mitra dalam membangun FPV dan ESS terbesar di dunia,” tambahnya lagi.

Pengalaman Sunseap dengan energi terbarukan di Indonesia dimulai 15 tahun lalu ketika mengeksplorasi panel surya untuk menyalakan stasiun pengulang daya untuk perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Ini adalah tahun yang sama ketika Sunseap menyelesaikan sistem jaringan surya pertama di Singapura pada 2006.

Saat ini, Sunseap adalah salah satu pemeran energi terbarukan rumahan terbesar di Asia Tenggara. Kemampuan Sunseap dalam proyek energi terbarukan dimanifestasikan oleh rekam jejak untuk mengembangkan dan mengoperasikan armada aset di Singapura, serta seluruh kawasan Asia Tenggara dan Pasifik dengan panel surya di atap rumah, panel surya yang ditanamkan di tanah, dan panel surya terapung. Saat ini Sunseap memiliki lebih dari 2 Gigawatt pipa proyek di Singapura dan lebih dari 3.000 bangunan di seluruh Asia.

Sunseap Group juga didukung dengan baik oleh pemegang saham terkemuka, yaitu Temasek dan ABC World Asia yang memberi dukungan tak terbatas, mewakili investasi kekayaan negara Singapura yang memegang 12 persen saham Sunseap, dan juga pemegang saham lainnya termasuk Shell Tech Ventures, Banpu dan Bangkok Bank dari Thailand, Perusahaan Sumitomo, Sumitomo Mitsui Finance and Leasing, dan Shikoku Electric Power dari Jepang dan Dutco dari Timur Tengah.

“Dengan posisi pasar yang kuat dalam pengembangan proyek, serta keahlian operasi dan pemeliharaan, kami yakin bahwa Sunseap dapat terus menjadi pelopor energi regional. Sunseap juga menggunakan analitik data canggih untuk mengoperasikan, memperkirakan dan melakukan pemeliharaan prediktif yang telah menjadi salah satu kekuatan utama kami di industri ini. Klien kami di Singapura, termasuk pemerintah, perusahaan multinasional, seperti Apple, Facebook, Amazon dan Microsoft, serta juga ribuan usaha kecil dan menengah,” ujar Frank.

Frank juga meyakini, saat proyek ini telah selesai, maka energi terbarukan berdaya 2.2GWp FPV dan 4.000 MWhr ESS di Waduk Duriangkang, yang merupakan waduk terbesar di Kota Batam, akan menjadi FPV dan ESS terbesar di dunia secara global hingga saat ini.

Penandatanganan ini juga dihadiri oleh Anggota Bidang Administrasi dan Keuangan, Wahjoe Triwidijo Koentjoro; Anggota Bidang Kebijakan Strategis, Enoh P. Suharto; Anggota Bidang Pengelolaan Kawasan dan Investasi, Sudirman Saad; dan Anggota Bidang Pengusahaan Sjahril Japarin; serta Kepala Urusan Ekonomi Internasional BP Batam di Singapura, Michael Goutama, dan pejabat BP Batam lainnya. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor: MOHAMMAD TAHANG