Feature

Pasien Pertama Warga Malaysia

Terapi Energi Cahaya, Pengobatan Alternatif Tenaga Dalam (2-Habis)

Ishak Masruhi. (Socrates/Batam Pos)

Setelah memiliki energi listrik, bisa mengelolanya, cita-cita Ishak hanya satu. Mengobati orang lain. Tapi mau buka praktik pengobatan di mana? Ia lalu ke Jakarta dan Balikpapan mencoba peruntungan. Tapi gagal. Ishak lalu menyusul ibunya ke Malaysia, yang sudah jadi warga negara jiran itu.

Laporan: SOCRATES
Editor: MOHAMMAD TAHANG

TAHUN 2005, Ishak Masruhi mulai buka praktik terapi pengobatan. Ia memberi nama pengobatan Nur Syifa, transfer energi cahaya. Kemampuannya, dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut.

Advertisementjudul gambar

“Pasien pertama saya orang Malaysia dan buka praktik di Melaka, kena saraf kejepit di pinggang,” cerita Ishak Masruhi. Selain itu, ia juga mengobati pasien di Segamat, Pasir Gudang dan Kuala Lumpur. Baru belakangan, ia praktik di Bandung dan sampai saat ini di Batam.

Selama praktik terapi di Batam, cukup banyak pasien Ishak datang dari Malaysia dan Singapura. Orang terdekat yang diajarkan Ishak terapi listrik ini adalah ibu dan istrinya.

Dari pagi sampai malam, selalu saja ada pasien Ishak yang biasa disapa Aa ini, datang ke tempat praktiknya di Kompleks Town House Mega Junction Blok D Nomor 5 Mediterania, Batam Center. Ada pasien stroke, gagal ginjal, saraf kejepit, dan berbagai keluhan lainnya.

Menurut Ishak, gurunya pernah menyebutkan, kemampuan memiliki dan mengelola energi listrik ini, ada hubungannya dengan Chi Kung atau tenaga dalam. Chi Kung dikenal sejak 4.000 tahun lalu di Tiongkok sebagai latihan senam pernapasan. Ada yang digunakan dalam ilmu bela diri kungfu Shaolin, ada untuk pengobatan, ada lagi yang menjadi aliran Taichi Cuan menjadi senam kesehatan Taichi.

Konsep Chi Kung atau Qigong adalah keseimbangan Yin dan Yang, yang merupakan dasar pengobatan Tiongkok. Kata Chi mengandung arti udara, napas atau energi vital. Kung artinya latihan, sehingga mereka yang belajar Chi Kung, bisa mengendalikan aliran Chi dalam pikirannya (mind over matter). Istilah menotok jalan darah, artinya memblokir Chi dalam tubuh manusia.

Konon, Chi bisa dikontrol dengan pikiran. Selain untuk ilmu bela diri seperti kungfu, Chi Kung juga digunakan untuk pengobatan. Chi Kung bisa dipelajari. Manfaatnya, banyak yang sembuh dari penyakit menahun seperti migren, tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi, rematik, maag, liver, susah tidur, diabetes, post stroke, dan sebagainya.

Pasien stroke yang tidak bisa menggerakkan tangan, menurut ilmu kedokteran Barat, karena fungsi saraf terganggu karena pembuluh darah di otak terganggu. Tapi, menurut kedokteran Timur karena Chi tersumbat. Itu bedanya.

Chi Kung bukan ilmu klenik. Ada yang menganggap seolah-olah kesembuhan yang didapat dari Chi Kung adalah efek placebo atau sugesti. Dalam Chi Kung, yang diperlukan adalah tenaga atau energi. Sama halnya dengan akupunktur, pengobatan tradisional Tiongkok dengan 600 titik Chi.

Sekitar 30 tahun lalu, akupunktur masih ditertawakan dan dicemooh oleh dunia kedokteran Barat karena dianggap cuma sebuah fantasi orang Timur. Pasalnya, meridian atau jalur Chi secara anatomis tidak kelihatan. Pertanyaannya, masak tubuh ditusuk bisa sembuh? Kini, banyak ditemukan pusat penelitian akupunktur dan digunakan dokter untuk pengobatan dan kecantikan.

Saya teringat adegan Wong Fei Hung yang mendemonstrasikan titik akupuntur sehingga membuat orang kaku dan tak bisa bergerak. Padahal, dengkulnya bergerak reflek saat diketok besi seorang dokter, dalam film Once Upon a Time in China.

Mendengar cerita Ishak Mashuri soal latihan-latihan keras yang dijalaninya sejak kecil, memukul tanah sampai tangannya berdarah bak pendekar Shaolin, latihan ilmu kebatinan sampai subuh, apakah ilmu yang dimilikinya seperti Chi Kung? “Saya tidak tahu. Kata guru saya, mirip,” kata lelaki Sunda berambut gondrong itu, tersenyum. (*)