Ekonomi & Bisnis

PT Pelindo I hingga IV Bergabung untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

ILUSTRASI: Suasana pelabuhan peti kemas Pelindo di Batuampar, Sabtu (8/8) lalu. Foto: Immanuel Sebayang/ Batam Pos

batampos.id – Merger PT Pelindo I, II, III, dan IV semakin matang. Rencananya, merger empat BUMN yang memiliki lini bisnis sama itu rampung akhir 2021.

Fase pertama merger itu akan berfokus pada transisi penyelarasan bisnis dan integrasi. Setelah itu, berlanjut dengan ekspansi bisnis dan integrasi ekosistem pelabuhan kelas dunia pada tahun mendatang.

Direktur Utama PT Pelindo III Boy Robyanto menyebutkan, salah satu tujuan integrasi adalah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tim integrasi dan pemerintah telah membahas operasional perusahaan pascamerger. Ada empat klaster bisnis yang bakal dibentuk. Yakni, peti kemas, non-peti kemas, logistik dan hinterland development, serta klaster marine, equipment, sekaligus port services.

Advertisementjudul gambar

Boy menegaskan, pengiriman barang via kapal akan lebih efektif karena konektivitas antarpelabuhan dan wilayah di Indonesia. ’’Ini akan berdampak pada penurunan biaya logistik secara bertahap,’’ ujarnya. Dengan integrasi, kinerja operasional di pelabuhan bakal terpacu, investasi usaha meningkat, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (Tiko) pun memberikan paparan dalam rapat kerja bersama DPR RI pada 30 Juni lalu. Menurut dia, integrasi pelabuhan menjadi keharusan. Pasalnya, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Perencanaan dan alur barang harus lebih integratif dan efisien. Selain itu, Indonesia masih sulit bersaing secara global karena skala yang dimiliki masih terpecah menjadi empat region.

“Jika terjadi merger, kami bisa memberikan daya tawar yang tinggi terhadap shipping line global. Inilah yang kami harap bisa masuk top 10 global player di container port sehingga dapat melakukan negosiasi untuk menarik traffic internasional dengan global shipping partner yang lebih kuat,’’ kata Tiko.

Hal itu sejalan dengan harapan RO Saut Gurning, pakar kemaritiman ITS. Menurut dia, merger tersebut sangat ditunggu pengguna jasa. Targetnya adalah biaya logistik yang lebih murah. Efisiensi logistik yang lebih baik tentu akan mendukung ekonomi negara.
Saut mengatakan, hasil merger PT Pelindo I–IV nanti akan membuat penanganan kargo-kargo berorientasi internasional menjadi lebih baik. Terutama dalam mengatasi ongkos mahal ekspor-impor. ’

’Bagaimana menangani jasa-jasa marine yang selama ini masih dianggap mahal untuk pengangkutan internasional. Kalau aspek fasilitas baik, indeksnya pun akan semakin baik,’’ ucapnya.

Layanan kargo domestik juga tak lepas dari perhatian Pelindo pascamerger. Selain menjamin kepastian distribusi barang dan standardisasi layanan, pengguna jasa dalam negeri diharapkan bisa menikmati efisiensi biaya. Pasar logistik Indonesia diprediksi tumbuh hingga 6 persen pascamerger.

Bank Dunia mencatat biaya logistik di Indonesia mencapai 23 persen dari produk domestik bruto. Angka itu tidak efisien dan masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. Tingginya biaya logistik menjadi salah satu problem yang diharapkan tuntas setelah PT Pelindo I–IV bergabung.

Pengelolaan sektor pelabuhan yang efektif dan optimal akan berdampak pada efisiensi biaya logistik dan distribusi, yang selanjutnya berkontribusi pada penurunan harga barang di masyarakat.

Pakar kemaritiman ITS RO Saut Gurning menyatakan, tuntutan industri saat ini memang mengarah ke integrasi. Menurut dia, rantai suplai untuk logistik maritim harus lebih ekspansif.

Menuntut layanan yang terintegrasi dan terpadu dari hulu ke hilir. Saut memperkirakan perusahaan hasil merger itu akan memiliki nilai valuasi Rp 120 triliun. Potensi bisnis kargo kontainer bakal menjadi kekuatan besar, yaitu sekitar 17 juta TEUs pada 2021 hingga menjadi 25 juta TEUs di periode 2023.

’’Potensi bisnis kargo non-peti kemas, khususnya curah kering, termasuk multipurpose dengan potensi volume 1,6 miliar ton pada 2021 menjadi 2,2 miliar ton pada 2023. Potensi bisnis logistik maritim yang bisa dieksplorasi juga cukup besar, yaitu sekitar Rp 177 triliun (2019) dan diperkirakan Rp 220 triliun pada 2021,’’ papar Saut.

Indonesian National Shipowners Association (INSA) sebagai mitra kepelabuhanan pun mendukung rencana merger PT Pelindo I–IV itu. ’’Kami menyambut baik rencana merger ini. Indonesia yang notabene negara kepulauan terbesar di dunia memang membutuhkan kontrol serius terhadap proses logistik,’’ terang Chairman INSA Surabaya Stenvens H. Lesawengen saat dihubungi pada Sabtu (17/7).

Menurut Stenvens, perusahaan hasil merger itu dibentuk agar sistem kontrol bisa terpusat di satu tempat. Dia ingin merger yang dibentuk nanti bisa menyamakan persepsi dan menyederhanakan pelayanan sehingga lebih efisien. Dengan adanya merger, dia berharap ada standardisasi di semua lini layanan, tarif, dan infrastruktur.

’’Aturan di seluruh pelabuhan di Indonesia juga akan menjadi standar. Tentu standar-standar berbasis pelayanan yang lebih baik. Salah satunya pelayanan internasional terminal,’’ ucap Stenvens.

BACA JUGA: Pelindo Tunggu Pembahasan Penyediaan GeNose di SBP Tanjungpinang 

Dampak positif dari merger tersebut juga diutarakan Wisnu Wibowo, pakar ekonomi Universitas Airlangga. Menurut dia, merger Pelindo berdampak baik bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Terjadi peningkatan arus barang dan komoditas sehingga memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu juga dipicu berkembangnya sektor manufaktur dan perdagangan.

’’Merger membuat layanan pelabuhan lebih terintegrasi dan terstandardisasi sehingga tercipta value creation. Kualitas layanan meningkat, semakin efisien, dan memungkinkan resource sharing, yang salah satunya berdampak pada waktu bongkar muat yang lebih singkat. Yakni, hanya sekitar 1 hari,’’ ungkap Wisnu.

Di sisi lain, merger juga bisa diikuti penyatuan aset dan pencatatan laporan keuangan perusahaan. Sekaligus meningkatkan potensi bagi penyaluran kredit perbankan di sektor logistik dan kepelabuhanan. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung