Metropolis

Jangan Pasrah Dengan Keadaan, Usai di-PHK, Aditya Pilih Jualan Gurame

Aditya saat mengantar ikan gurame. F.Aditya

batampos.id-Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan segala sektor di Kota Batam. Tak terkecuali sektor industri. Banyak pekerja yang dirumahkan bahkan di PHK, karena perusahaan tidak sanggup lagi membayar gaji karyawannya.

Hal inilah yang dirasakan Aditya, salah satu warga Batam yang merasakan dampak PHK. Usai tak bekerja lagi, ia harus memutar otak untuk menghidupi kebutuhan keluarganya.

BACA JUGA: Gan Konsulindo Grup Bantu Masyarakat di Tengah Pandemi

Berbagai cara pun ia lakukan. Termasuk berjualan ikan gurame ini seperti yang dia geluti saat ini. Meskipun awalnya usaha ini merugi, namun sejalan berjalan waktu berjualan gurame mulai membuahkan hasil dan mampu menghidupi dapur keluarganya.

“Tak ada alasan berpangku tangan dan pasrah dengan keadaan. Banyak cara yang bisa kita lakukan asal mau berusaha,” ujar pria 43 tahun tersebut.

Bagi Aditya sendiri, pandemi Covid-19 bukanlah sebuah halangan untuk berusaha. Melakukan adalah sebuah ujian. Pandemi ini seseorang akan diuji apakah seseorang akan pasrah dengan keadaan atau melawan dengan cara berusaha dan tetap produktif.

“Kebetulan saya orang nya gak bisa diam. Apapun yang bisa menghasilkan kita akan lakukan. Tak ada kata malu lagi yang penting halal,” kata Aditya pada Batam Pos.

Mantan ketua RT itu mengatakan dirinya tidak malu lagi untuk bekerja apapun agar tetap bertahan hidup di krisis pandemi ini. Mulai kerja dari serabutan hingga penjual ikan gurami telah digeluti. “Sebelumnya kerja di perushaaan, karena pandemi saya di PHK dan uang PHK inilah modal saya berjualan ikan gurame,” tuturnya.

Ikan yang dijual tersebut dirinya mengambil langsung ke peternakan ikan di wilayah Barelang. Kemudian baru dipasaran ke para konsumen bahkan diantar langsung ke alamat para konsumen tersebut. Saat ini konsumen Aditya sudah banyak. Bahkan ikan yang dijualnya itu selalu habis terjual.

“Karena saat ini kondisnya pandemi ya, kita buat inovasi, tidak lagi berjualan di pasar, melainkan konsumen yang pesan kita antar langsung ke rumahnya,” ungkap Aditya.

Ikan yang dijual Adit dibandrol Rp 50 ribu per kilogram, relatif lebih murah dibanding yang dijual di pasar tradisional. Dirinya mengaku setiap hari bisa menjual puluhan kilogram ikan gurame kepada konsumennya.

“Pokoknya harga murah, di bawah harga pasar kita jual. Kualitas sangat terjamin ikan segar dari kolam kita ambil,” sebut pria yang pernah menjadi Ketua RT di Kaveling Bukit Seroja Dapur 12, Batam itu.

Dalam menjalankan usahanya pria yang disapa Emen itu tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti mengunakan masker dan cuci tangan untuk kesehatan dirinya dan para konsumen. Menurutnya, pandemi Covid -19 akan selalu memunculkan kekhawatiran baik bertahannya sebuah usaha, hingga kesehatan khususnya para konsumen.

“Tentu, rasa khawatir membayangi kami semua. Dalam situasi yang tak menentu, kami selalu terus berupaya menerapkan protokol kesehatan, mencuci tangan, gunakan masker dan jaga jarak,” tuturnya.

Adit berpandangan, apapun itu rezeki harus tetap disyukuri. Ia yakin, menjadi warga yang taat akan aturan protokol kesehatan dapat membantu pemerintah menekan Covid-19, dan Batam akan kembali bangkit. “Poin penting jangan pasrah dengan keadaan. Masih banyak yang bisa dikerjakan asalkan ada niat yang kuat,” pungkasnya. (*)

Reporter : Rengga Yuliandra
editor: tunggul