headline

Penduduk Miskin Terus Bertambah

BPS Kepri: Komoditas Makanan Penyumbang Terbesar terhadap Garis Kemiskinan

Agus Sudibyo. (Dokumentasi Batam Pos)

batampos.id – Status Provinsi Kepri sebagai provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia, ternyata berbanding lurus dengan angka kemiskinan. Tercatat, angka kemiskinan di Kepri mencapai 144.642 orang. Bertambah 1.850 orang dalam enam bulan, tepatnya dari September 2020 ke Maret 2021.

”Pada September 2020, jumlah penduduk miskin Kepri 142.611 orang. Kemudian pada Maret 2021 (enam bulan, red) naik menjadi 144.642 orang. Artinya, bertambah 1.850 orang,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo, Minggu (15/8). Agus menyebutkan, dalam setahun, BPS menerbitkan data jumlah penduduk miskin dua kali, yakni setiap Maret dan September.

Jika ditelaah lebih dalam penambahan jumlah warga miskin Kepri sebanyak 1.850 orang itu, terjadi di tengah pandemi Covid-19. Seperti diketahui, pandemi Covid-19 bermula Maret 2020 dan masih berlangsung hingga saat ini. Agus menambahkan, penduduk yang disebut miskin yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Selama periode September 2020-Maret 2021, garis kemiskinan naik 4,03 persen, yaitu dari Rp 617.532 per September menjadi Rp 642.425 per Maret 2021.

Kontribusi penyebab meningkatnya garis kemiskinan, yakni; beras sebesar 15,17 persen, rokok sebesar 10,44 persen, dan daging ayam ras sebesar 5,41 persen. Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan, misalnya; perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

”Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada September 2020 tercatat sebesar 66,52 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan Maret 2021 yaitu sebesar 66,82 persen,” paparnya.

Sekadar mengingatkan juga, Kepri tercatat di BPS sebagai provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia. Pada Februari 2021, contohnya, TPT Kepri mencapai 10,12 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 7,07 persen.

Posisi kedua ditempati Jawa Barat. Pada Februari 2021, Jawa Barat mencatatkan TPT sebesar 8,92 persen. Sementara TPT terendah di Indonesia dipegang Provinsi Sulawesi Barat, yakni hanya 3,28 persen. Jauh di bawah rerata nasional.

Di Provinsi Kepri, penduduk terbesar ada di Kota Batam. Batam memberi kontribusi besar angka pengangguran di Kepri. Pada Agustus 2020 lalu saja, sudah mencapai 11,79 persen. Angka ini mengalami kenaikan 3,48 poin persen jika dibandingkan TPT pada Agustus 2019 yang hanya 8,31 persen.

”Benar, ada kenaikan TPT 3,48 persen pada Agustus 2020 dibandingkan TPT pada Agustus 2019,” ujar Kepala BPS Kota Batam, Rahmad Iswanto, kepada Batam Pos, belum lama ini.

Rahmad menyebutkan, secara angka, Agustus 2019 angka pengangguran di Batam hanya 57.602 orang. Lalu meningkat tajam pada Agustus 2020 menjadi 87.903 orang. ”Peningkatannya sekitar 30.301 orang,” sebut Rahmad.

TPT ini merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap di pasar kerja. Berdasarkan data BPS, angkatan kerja Kota Batam pada Agustus 2020 sebanyak 745.545 orang. Bertambah 52.427 orang dibandingkan angkatan kerja pada Agustus 2019. Sedangkan penduduk yang bekerja di Batam pada Agustus 2020 sebanyak 657.642 orang. Bertambah 22.126 orang dibanding penduduk yang bekerja pada Agustus 2019.

Rahmad juga mengungkapkan, berdasarkan pendidikan yang ditamatkan pada Agustus 2020, TPT cukup besar terdapat pada kelompok penduduk dengan tingkat pendidikan menengah (SMA Umum dan SMA Kejuruan) dan pendidikan tinggi. Pada Agustus 2020, TPT untuk kelompok pendidikan menengah menjadi urutan tertinggi pertama, sebesar 14,09 persen.

Selanjutnya kelompok pendidikan tinggi dengan TPT sebesar 9,60 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa ada penawaran tenaga kerja yang berlebih, terutama pada tingkat pendidikan menengah dan tinggi, yang tidak terserap di pasar kerja.

Lalu apa yang menjadi pemicu tingginya angka pengangguran di Kepri, khususnya Batam? Rahmad mengungkapkan, hal ini tidak lepas dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia secara umum. Sehingga menyebabkan banyak pekerja dirumahkan atau berhenti bekerja, kemudian statusnya berubah menjadi pengangguran.

”Pandemi ini berdampak besar pada banyak sektor usaha yang pada akhirnya banyak kehilangan pekerjaan dan masuk kategori pengangguran. Dan ini tidak terelakkan, karena kondisinya seperti itu,” ujarnya.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan angka pengangguran ini terus meningkat lebih tinggi di 2021 ini. Sebab pandemi Covid terus berlangsung. Bahkan lebih parah dari 2020. Sejumlah perusahaan yang awalnya masih bisa bertahan dengan melakukan rasionalisasi makin kesulitan, sehingga bisa jadi perlahan tapi pasti melakukan pengurangan karyawan. Paling tidak merumahkan karyawan, khususnya sektor pariwisata. ”Insya Allah, TPT tahun 2021 di Batam akan kita publikasikan pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Pengangguran biasanya makin mendekat ke kemiskinan karena tidak adanya pemasukan. Apalagi jika berlangsung lama. Namun, tak selalu orang menganggur statusnya miskin. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG