Metropolis

Merasa Ditipu Jual Beli Saham, Dharmawangsa Gugat Dua Rekan Kerja

Kuasa hukum penggugat (tiga dari kanan) bottor eriksson pardede dan rekan rekan memberikan penjelasan kepada pewarta di Kantor Pengadilan Negeri Batam, Senin (16/8) siang. (F. Galih Adi Saputro/Batam Pos)

batampos.id – Didampingi Bottor Eriksson Pardede selaku kuasa hukum yang ditunjuknya, Dharmawangsa, orang yang mendapatkan kepercayaan penuh dari mendiang bosnya bernama Lim Siang Huat asal Singapura, mendatangi ruang mediasi di kantor Pengadilan Negeri Batam, Senin (16/8) siang.

Dharmawangsa sendiri merupakan warga Batam yang dipercaya menjadi komisaris oleh pemilik perusahaan PT Active Marine Indonesia. Kedatangannya ke Pengadilan Negeri Batam untuk menggugat dua Bambang dan Roliati, dua karyawan yang dirasa telah menipunya.

Penipuan yang dimaksud adalah peralihan saham dari Dharmawangsa ke Roliati dan Bambang yang dikemas jual beli dihadapan notaris yang ditunjuk Bambang dan Roliati pada 21 Juni 2021. Hal tersebut dibenarkan Dharmawangsa.

“Saya ditunjuk menduduki jabatan komisaris karena memang pemilik perusahaan orangnya baik sama saya dan percaya penuh sama saya,” ujar Dharmawangsa.

Tertang peralihan saham yang dikemas sebagai jual beli dari sebelumnya atas namanya beralih ke Roliati dan Bambang, Dharmawangsa mengaku bingung. “Saya memang ditunjuk jadi komisaris, tapi saya bertugas jaga portal di depan. Jadi saya tak mengerti dan tak tahu apa apa soal itu,” terangnya.

BACA JUGA: Polisi Gadungan Tipu dan Peras Puluhan Pelajar

Dharmawangsa menceritakan sekitar dua bulan lalu, tepatnya 21 Juni saat dirinya diajak ke notaris oleh Roliati, ia diminta menandatangani surat atau akta di notaris tersebut. Dharmawangsa mengaku diajak ke kantor notaris di Nagoya dan memasuki ruang notaris.Ia baru tahu kalau kantor itu ternyata kantor notaris.

Dalam ruangan tersebut, Dharmawangsa diminta menandatangani surat (akta) yang ternyata belakangan diketahui merupakan peralihan saham atas namanya beralih ke Roliati dan Bambang.

“Di dalam ruangan notaris itu, saya disuruh absen dulu, lantas cap jempol. Saat itu ada Bambang sama Roliati. Saat saya disuruh tandatangan yang kedua, Roliati bilang kalau ini adalah amanah almarhum. Karena dibilangnya amanah dari mendiang bosnya saya, ya saya tandatangani,” ujarnya.

Dari tandatangan di notaris itulah, saham Dharmawangsa yang semula berjumlah 450 lembar, beralih ke Roliati dan Bambang.

“Kalau pas tandatangan di notaris saat itu dikatakan jual beli saham, saya tak paham. Padahal tak sepeserpun uang yang saya terima kalau hal itu dikatakan jual beli,” tanyanya heran.

Apalagi saat ditanya, apakah dirinya diundang untuk RUPS oleh para pihak? Dharmawangsa justru makin bingung apa itu RUPS.

Bottor selaku kuasa hukumnya Dharmawangsa menilai cara cara yang dipakai pihak tergugat tidak sesuai undang undang.

“Ketidakbenaran inilah yang harus kami lawan dan luruskan,” tegas Bottor didampingi kuasa hukum lainnya Manner Lubis Suhariyadi dan Harris Hutabarat.

Sedangkan proses mediasi yang digelar di Pengadilan Negeri Batam terpaksa ditunda seminggu ke depan lantaran pihak notaris pembuat akta peralihan saham tidak hadir.

Tak hanya dipercaya mendiang bosnya. Dharmawangsa saat ini juga dipercaya sepenuhnya oleh Dewi asli WNI, istri mendiang bosnya yang saat ini menetap di Singapura.

Bottor menilai, selama ini ada yang menganggap Dewi sudah diceraikan oleh almarhum. “Kami tegaskan sampai saat ini klien kami belum cerai, masih menjadi istri sah Lim Siang Huat,” tegasnya sambil melihatkan akte pernikahan yang dilakukan di Singapura tahun 2006 dan dicatatkan di catatan sipil Disdukcapil Batam tanggal 27 Februari 2007 itu.

Terpisah, Penasehat Hukum Tergugat, Daniel saat ditemui di PN Batam, mengatakan, masih menunggu tahapan gugatan. “Saat ini masih mediasi. Kita berharap yang terbaik untuk para pihak. Tapi jika tak ketemu ujungnya, kita akan sampaikan fakta fakta yang kami pegang,” terangnya.

Sementara melalu pesan singkatnya, Daniel mengatakan, karena sifatnya konfiden, ia berharap semua pihak menjaga itikad prinsip mediasi. (*)

Reporter: Galih Adi Saputro
Editor: Ryan Agung