Internasional

Jejak Taliban, dari Intoleran jadi Moderat?

Kelompok Taliban sesaat setelah menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul. (F AP Photo/Zabi Karimi)

batampos.id – Afghanistan jatuh. Pemerintahan resminya dipukul mundur oleh kelompok pemberontak, Taliban. Setelah menduduki Negara Pastun itu, Taliban mencoba mengubah citra. Dari kelompok intoleran menjadi moderat.

Kelompok pemberontak yang ingin mendirikan Negara Islam di Afghanistan itu berdiri pada 1994 lalu. Sejak Selasa (17/8/2021), mereka menyatakan diri, memberi amnesti pada seluruh pejabat pemerintahan di seluruh Afghanistan dan meminta mereka kembali bekerja. Taliban juga mengeluarkan dekrit yang melarang anggotanya masuk ke rumah-rumah penduduk.

Biasanya, setelah menguasai satu wilayah, anggota Taliban akan menjarah permukiman dan tak segan menghabisi warga sipil yang tidak mau memberi anggota itu makan. “Anda harus memulai rutinitas dengan penuh percaya diri,” ujar anggota Komisi Budaya Taliban Enamullah Samangani, seperti dikutip Associated Press (AP).

Saat ini, serah terima yang sah dari pemerintahan sebelumnya ke Taliban belum terjadi. Namun, Taliban sudah mulai mengambil beberapa kebijakan. Amnesti itu salah satunya. Beberapa orang memercayai kata-kata Samangani. Polisi mulai muncul di jalan untuk kali pertama sejak Taliban mengambil alih pemerintahan.

Samangani juga menegaskan, sesuai hukum syariah, perempuan diperbolehkan bekerja di pemerintahan. Mereka tak ingin menjadikan perempuan sebagai korban. Meski begitu, masih banyak warga yang ketakutan. Perempuan seperti lenyap dari jalanan di Afghanistan.

Sehari sebelumnya, juru bicara resmi Taliban Suhail Shaheen berupaya menenangkan para perempuan. Saat ini kaum hawa di Afghanistan takut statusnya diturunkan dan harus dikawal ke mana-mana oleh walinya seperti dulu. “Hak untuk mendapatkan pendidikan (bagi perempuan, Red) dilindungi,” tegasnya.

Tidak ada yang tahu apakah itu akan menjadi kenyataan atau hanya pemanis di awal kekuasaan. Yang jelas, UNICEF menyatakan, sebagian pemimpin Taliban memang ingin remaja putri mengenyam pendidikan. Hal itu diungkap ketika Taliban berdialog dengan Unicef dan lembaga non pemerintah yang menjadi partner di lapangan.

“Mereka ingin melihat ada pendidikan untuk perempuan, mendirikan serta menjalankan sekolah,” terang Kepala Operasi Lapangan Unicef Mustapha Ben Messaoud seperti dilansir dari CNN.

Taliban masih memberikan jawaban yang mengambang terkait staf bantuan kemanusiaan perempuan untuk melanjutkan tugasnya. Messaoud hanya menyebut Taliban sudah memberikan jawaban yang beragam dan terukur. Meski begitu, Unicef optimistis Taliban akan membiarkan mereka tetap bekerja. Saat ini, setidaknya 11 di antara 13 kantor Unicef di Afghanistan tetap beroperasi sejak Taliban mengambil alih Afghanistan. “Setengah populasi atau lebih dari 18 juta orang, termasuk 10 juta anak-anak di Afghanistan, membutuhkan bantuan kemanusiaan,” ujar Messaoud. (*)

Reporter: Chahaya Simanjuntak
Editor: Tunggul Manurung