Bintan-Pinang

Masu Tarigan, Veteran Pembela Kemerdekaan Pesan Agar Pemuda Semangat Lawan Covid-19

Masu Tarigan, veteran pembela kemerdekaan menunjukkan piagam penghargaan ketika ditemui di kediamannya jalan Marto Sari, Gang Delima, Tanjunguban, Selasa (17/8) siang. F.Slamet Nofasusanto

batampos.id– Peringatan hari ulang tahun ke 76 Republik Indonesia yang jatuh pada Selasa (17/8) memutar kembali kenangan masa silam Masu Tarigan. Masu Tarigan adalah salah seroang veteran pembela kemerdekaan yang ikut menjaga kedaulatan negara ketika situasi memanas antara Indonesia dan Malaysia.

BACA JUGA: Rafiq dan M Firmansyah Dapat Bintang Veteran dari LVRI Kepri

Ditemui di kediaman jalan Marto Sari, Gang Delima, Tanjunguban, Selasa (17/8) siang, Masu Tarigan baru menanggalkan seragam kebesaran veteran setelah disambangi Wakil Bupati Bintan, Roby Kurniawan. “Silakan masuk,” kata Masu ramah.

Sesaat kemudian, Masu keluar dari dalam rumah dengan sudah menggenakan seragam veteran lengkap. Tidak banyak kisah yang Masu bagikan soal situasi yang terjadi saat itu antara Indonesia dan Malaysia.

Masu menuturkan, dirinya bergabung di TNI AL tahun 1962. Setelah menjalani pendidikan selama lebih kurang lima bulan di Surabaya, Masu menjadi prajurit Korps Komando (KKO). “Waktu itu KKO, kalau sekarang marinir,” kata pria berusia 78 tahun ini.

Ayah dua anak dan kakek dua cucu ini menuturkan, kemudian dirinya bergabung dalam Batalion 2 KKO di Cilandak, Jakarta pada 1963.

“Masa konfrontasi sekira awal 1965. Kemudian kami dikirim ke Riau, kami berpindah-pindah tempat Batam, Bintan dan sekitarnya,” kata penerima penghargaan Satya Lencana 8, 16 dan 24 tahun ini.

Masu menuturkan, selama penugasan berbulan-bulan tidak terjadi perang. Namun, mereka tetap siaga bila sewaktu-waktu terdapat serangan musuh. “Jadi, kami terus siaga menunggu serangan musuh. Waktu itu saya di Nongsa dan Tanjunguma, terus berpindah-pindah mengikuti strategi komandan,” kata Masu saat itu bergabung dalam Kompi B Batalion 2 KKO.

Selain serangan musuh, penyakit malaria juga menjadi momok saat itu. Menurutnya, ada prajurit yang meninggal karena terserang penyakit malaria.

“Kondisi Batam saat itu masih hutan, Nagoya belum ada orang. Baru ada orang di Tanjunguma dan Batu Besar, dulu kebun semua,” katanya. Singkat cerita, selama lebih kurang 29 tahun mengabdi untuk negara, Masu terakhir berdinas di pasukan keamanan pangkalan TNI AL Tanjungpinang.

“Saya pensiun 1 Februari 1999 dengan pangkat sersan kepala di Tanjungpinang, kemudian pensiun sampai sekarang di Tanjunguban,” katanya.

Disinggung terkait kondisi pandemi sekarang, Masu prihatin terhadap kondisi yang melanda namun pemuda dan masyarakat harus terus semangat melawan pandemi covid-19 seperti semangat para pejuang ketika memperebut kemerdekaan Indonesia.

Dia pun berpesan ke pemuda dan masyarakat agar selalu disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. “Ikutilah anjuran pemerintah seperti keluar rumah sebaiknya memakai masker,” katanya.

Di hari peringatan hari kemerdekaan RI ini, Masu pun senang karena disambangi Wakil Bupati Bintan, Roby Kurniawan. “Seperti kunjungan bapak ke anak seperti seorang pemimpin ke rakyatnya,” tukasnya. (*)

Reporter: Slamet
editor: tunggul