Ekonomi & Bisnis

Rezeki dari Bisnis Laundry Harus Bisa Bersihkan Noda tanpa Mesin

Risa, karyawan, memasukkan selimut yang telah dicuci ke mesin pengering yang sumber panasnya dari gas. f. istimewa

batampos.id – Bisnis penatu bisa jadi pilihan bagi yang ingin mengawali usaha. Saat ini, usaha laundry hampir pasti ditemukan di setiap kampung atau perumahan. Namun, ada beberapa yang harus diperhatikan jika ingin memaksimalkan keuntungan.

Iseng sebenarnya.’’ Itulah jawaban Nurul Huda saat ditanya mengenai awal mula usaha jasa cuci pakaian di Arjosari, Malang, Jawa Timur. Saat itu dia dan sang kakak sekadar berpikir apa yang harus dilakukan dengan ruko yang dimiliki orang tua. Dua tahun tempat itu nganggur semenjak usaha warung makan tutup.

Ide yang ditemukan pada 2017 adalah laundry. Dia mengaku tak melihat usaha tersebut di wilayahnya. Huda pun membeli satu mesin cuci jenis front loading kapasitas 7 kilogram (kg) dan sebuah setrika. Saat itu dia tak punya ilmu atau dana untuk membeli paket bisnis penatu waralaba.

’’Pokoknya usaha amatiran. Pakai sabun cuci dari merek biasa dan setrika listrik,’’ ujarnya.

Namun, mengoperasikan bisnis tersebut ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Semula, pria yang akrab dipanggil Sam Aduh itu mengira hanya memasukkan cucian ke mesin, lalu menyetrikanya.

’’Menjalankan usaha penatu rupanya sangat melelahkan, terutama jika hanya sendiri,” tuturnya.

Ternyata, setiap cucian harus disortir lebih dulu. Pakaian yang terdapat noda-noda mencolok harus dibersihkan secara manual. Mulai noda karena deodoran, makanan, hingga karat. Selain penyebab noda, penanganannya bergantung jenis kain. Setelah noda hilang, cucian dimasukkan ke mesin.

’’Kalau salah cuci atau noda tak hilang, kami bakal diprotes,” katanya.

Bisnis penatu di kawasan Arjosari itu rupanya mendapatkan respons luar biasa. Tiga bulan setelah memulai, Huda juga harus menambah satu mesin cuci kapasitas 11 kg, mesin pengering, dan setrika uap. Dia pun mempekerjakan karyawan untuk membantu bisnisnya.

Seiring berjalannya waktu, usaha terus berkembang. Saat ini rata-rata mendapatkan 100 kg cucian per hari. Sam Aduh membanderol cucian Rp 5 ribu per kg. Selain dibantu dua karyawan, dia telah memiliki 4 mesin cuci, 4 mesin pengering, dan 1 alat setrika uap ”berkepala” dua. ’’Jadi, satu tabung untuk dua setrika,’’ tuturnya.

Menurut dia, peluang bisnis laundry tidak terbatas dengan jasa cuci kiloan. Yang lebih menguntungkan justru cuci satuan.

Misalnya, selimut, karpet, dan sepatu. Bahkan, Sam Aduh melayani pembersihan spring bed dan sofa. ’’Margin profitnya bisa mencapai 40–50 persen,’’ ucapnya.

Menurut anak bungsu dari dua bersaudara itu, salah satu faktor yang membuat bisnis penatu sukses adalah lokasi. Tempat usahanya dekat dengan tempat kos untuk karyawan perkantoran.

’’Kalau sekadar kampung atau perumahan, nanti hanya mengandalkan cuci kiloan. Marginnya tidak terlalu banyak,’’ katanya.

BACA JUGA: Kembangkan Jiwa Kewirausahaan Siswa,  SMKN 1 Bintan Utara Luncurkan Tefa Jasa Laundry

Karena itu, Sam Aduh menyarankan agar melihat dulu potensi pelanggan saat ingin membuka usaha penatu. Jika punya peluang, dia menyarankan memulai lebih dulu meski modal kecil-kecilan.

’’Saya memulainya dengan modal Rp 6 juta,” ujarnya.

Menurut dia, pemula bisa membeli mesin cuci dan setrika biasa. Jika berkembang, baru membeli lebih banyak mesin dan peralatan. ’’Peralatan bisa dibeli seiring waktu. Yang paling penting justru ketekunan dan niat,’’ ujarnya.

Pengusaha laundry juga harus belajar mengenai perawatan berbagai macam kain. Serta berani menanggung risiko mengganti barang jika ada kerusakan.

’’Kalau sudah tahu ilmu membersihkan kain dan bahan lainnya, semua jenis pencucian bisa dilakukan. Dan selama kita bisa membersihkan noda, konsumen bakal percaya,’’ jelasnya. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung