ubahlaku

Pakai Masker 2 Lapis Jadi Senjata dan Alat Pelindung Diri dari Covid

Menjadi pejabat publik yang sibuk mengurusi Covid-19 membuat Yusfa Hendri terpapar hingga dua kali. Menjadi Penyintas membuatnya lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas, terutama saat bertugas mengawasi pasien yang ada di rumah sakit darurat yang menjadi pusat pemulihan pasien Covid-19 di Kota Batam.

***

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Yusfa Hendri

Menggunakan masker 2 lapis selama beraktivitas, itulah yang dilakukan oleh pria kelahiran Dumai ini setelah dirinya terpapar Covid-19 hingga 2 kali. Masker saat ini dibutuhkan sebagai senjata dan alat pelindung diri ditengah pandemi Covid-19.

“Agak sesak sih memang, tapi butuh untuk keselamatan kita,” ujar Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Yusfa Hendri, Sabtu (7/8/2021).

Pertama kali dinyatakan Covid-19 pada tahun 2020 lalu. Tak hanya dirinya, melainkan seluruh anggota keluarganya juga dinyatakan Covid-19. “Kami dirawat 10 hari di Awal Bros, baru diperbolehkan pulang,” ujar Yusfa.

Kedua kali, pada Mei 2021 lalu, Yusfa kembali dinyatakan Covid-19. Hanya saja, setelah sehari dinyatakan positif, keesokan harinya saat dicek kembali melalui tes PCR, hasilnya sudah negatif. Ia hanya menjalani isoman selama sehari.

“Hanya saja waktu itu, CTnya sudah tinggi, mencapai 35. Jadi saya berkesimpulan, bahwa orang yang sudah pernah terpapar mungkin virus itu masih ada. Tergantung daya tahan tubuhnya. Ketika sedang lemah, virusnya bisa muncul. Ketika imun kuat virusnya kalah,” katanya.

Menurut pria yang hobi traveling ini, kewaspadaan tubuh sangat dibutuhkan dimasa pandemi ini. Ketika tubuh sedang lemah dan tidak enak badan, maka segera istirahatkan diri dan berhenti beraktivitas.

“Nah sekarang saya begitu, ketika tak enak badan, saya langsung memisahkan diri dari keluarga. Ada 1 kamar yang kami sediakan sebagai kamar isolasi dirumah. Jadi siapa yang tak enak badan bisa istirahat dikamar itu,” katanya.

Saat ini, ada beberapa kegiatan yang Yusfa lakukan demi menjaga daya tahan tubuhnya. Diantaranya berjemur dibawah sinar matahari, minum madu setiap hari dan minum minuman rempah-rempah yang mengandung jahe, cengkeh, dan lainnya. “Kalau rempah-rempah memang tak rutin tapi sering,” katanya.

Tak hanya itu, disela-sela kegiatannya yang cukup padat sebagai pejabat publik, ia juga selalu menyempatkan cuci tangan. Apalagi sebelum masuk kerumah, cuci tangan menjadi ritual rutin.

Yusfa melanjutkan, demi imun tubuh tetap terjaga saat ini, ketahanan mental juga dibutuhkan. Jangan ada rasa takut ketika dinyatakan Covid-19, namun diperlukan ikhtiar menjaga pikiran untuk tetap berfikiran positif dan rileks.

Ia menambahkan, protokol kesehatan juga harus tetap dijaga. Diantaranya memakai masker, mencuci tangan pakai sabun/hand sanitizer, menjaga jarak/menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas/bepergian kecuali untuk keperluan sangat mendesak/urgen.

Pria yang hobi traveling ini juga mengaku sedih. Pasalnya sejak pandemi Covid-19 ia bersama keluarganya tak pernah lagi traveling. Menurutnya manfaat traveling sangat baik untuk kesehatan. Traveling juga berguna untuk meningkatkan hubungan sosial terhadap sesama, terutama dengan keluarga.

Traveling bersama keluarga dapat meningkatkan hubungan kekeluargaan, mengembangkan komunikasi kekeluargaan dan meningkatkan kekompakan dalam keluarga. “Sekarang travelingnya hanya dapur, ruang tamu, kamar,” ujar pria mantan Kadishub dan Humas ini sembari tersenyum. (*)

Reporter: YULITAVIA
editor: tunggul