Kepri

ASI, Imunitas Alami Bagi Bayi, Tantangan Ibu Menyusui di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi ibu menyusui untuk tetap memberikan asupan Air Susu Ibu (ASI) kepada buah hatinya. Apalagi bagi ibu yang sedang terpapar Covid-19, sempat timbul kekhawatiran. Apakah memberikan asi turut menyebar virus Covid-19 atau tidak

***

Ketua PKK Bintan, Deby Maryanti melakukan sosialiasi tentang pentingnya ASI, foto diambil sebelum pandemi Covid-19. f. humas pemkab Bintan

Pandemi Covid-19 yang terus meluas menjadi momok yang menakutkan. Apalagi korban jiwa terus berguguran dari hari ke hari. Begitu juga bagi ibu-ibu yang tengah menyusui, namun harus melewati cobaan terpapar Covid-19. Kondisi tersebut dirasakan oleh Ira Rospita, seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Dompak, Tanjungpinang.

“Memang pandemi Covid-19 ini seperti arisan, menunggu giliran untuk terpapar. Kami bersyukur meskipun suami istri terpapar, alhamdulillah sembuh,” ujar Ira Rospita, Jumat (20/8) di Tanjungpinang.

Diceritakanya, hampir setengah bulan pada Juli lalu ia dan keluarga mengisolasi diri di rumah. Karena sejak suaminya terpapar, beberapa hari kemudian dia juga dinyatakan ikut terpapar oleh virus tersebut. Ia hanya mengalami gejala ringan, sementara suaminya ada beberapa gejala. Seperti demam, batuk, dan hilang penciuman. Selain mengkhawatirkan tentang diri dan suaminya, ia khawatirkan juga bagaimana dengan kondisi anaknya yang masih bayi.

“Namun setelah setelah berkoordinasi dengan petugas kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat) tetap untuk memberikan asi kepada bayi. Karena menurut penjelasan mereka, virus tersebut tidak menyebar melalui asi. Tetapi air liur dan virus yang menempel di tangan,” jelasnya.

Menurut pengakuannya, setiap mahu pegang anak, ia selalu cuci tangan. Kemudian yang paling penting anak jangan sampai lapar. Solanya covid itu nyerang lambung juga, karena anaknya sudah diberi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Sehingga ia juga menjaga makan untuk tepat waktu dengan gizi yang seimbang.

“Untuk menyusui dengan menjaga protkes bisa dilakukan. Harus pakai masker 24 jam di rumah. Alhamdulillah, semulanya khawatir, namun setelah adanya penjelasan Nakes memberikan diri untuk tetap memberikan asi,” tutupnya.

Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana mengatakan diperlukan dukungan baik dukungan moral, spiritual maupun kebijakan kepada ibu menyusui agar tetap bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayinya apapun status kesehatan sang ibu.

“Sebab, menyusui secara signifikan mampu meningkatkan derajat kesehatan, perlindungan maupun kesejahteraan untuk ibu, bayi maupun keluarga,” ujar Tjetjep Yudiana.

Menurutnya, ibu menyusui yang terkonfirmasi positif Covid-19 tetap bisa memberikan ASI Ekslusif untuk buah hatinya. Justru berdasarkan hasil penelitian, ASI pada ibu positif Covid-19 memiliki kandungan antibodi yang tinggi. Karena ternyata di dalam ASI nya, mengalir antibodi Imunoglobulin A dan G, mengalir pula Lactalbumin, Lactoferin dll yang secara spesifik merupakan benteng perlawanan terhadap SARS-CoV-2.

“Inilah yang disebut imunisasi pasif yang alami, yang diberikan ibu penyintas Covid-19 kepada bayinya,” jelasnya.

Pria yang pernah duduk sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri tersebut memaparkan, peningkatan kekebalan tubuh, juga ditemukan pada ibu menyusui yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19. Bahkan, kadar antibodinya telah meningkat sejak 14 hari pasca penyuntikan pertama.

“Pada ibu yang telah vaksinasi Covid-19 ditemukan kadar antibodi slgA spesifik SARS-CoV-2 dalam ASI meningkat pesat dalam waktu 14 hari pasca vaksinasi dosis pertama, semakin kuat setelah minggu ke-4 dan terukur lebih tinggi pada minggu ke-5 dan ke-6,” jelasnya lagi.

Dalam dua kondisi tersebut, pihaknya berharap agar dukungan dan semangat terhadap ibu menyusui untuk memberikan ASI Eksklusif kepada buah hatinya terus digalakkan terutama saat pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini. Sebab, selain sebagai sumber makanan utama, ASI juga penting untuk melindungi bayi dari paparan Covid-19.

“Oleh karenanya, aktivitas menyusui tidak boleh terputus kendati ibu menyusui adalah kontak erat maupun telah terkonfirmasi positif Covid-19. ASI tetap dapat diberikan dengan tetap melakukan protokol kesehatan ketat dan tidak mengalami gejala yang berat, jadi ibu masih bisa menyusui langsung,” tegasnya.

Ditambahkannya, apabila seorang ibu merasa dirinya lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk menyusui langsung, maka bayi dapat diberikan ASI perah (ASIP) baik oleh ibu maupun anggota keluarga yang lain. Karena menyusui tidak boleh terputus apapun status ibu.

“Apabila kondisisnya tidak memungkinkan, ibu yang positif dan dirawat harus didukung agar bisa memerah ASI. Jika ibu masih kuat, lanjutkan dengan tetap mengikuti protokol pencegahan Covid-19,” tutupnya. (*)

Reporter: Jailani
editor: tunggul