Bintan-Pinang

Bukti Test Rapid Antigen dan PCR Akan Beralih ke Digital

Kepala KKP Tanjungpinang, Agus Jamaludin. F. Peri Irawan

batampos.id- Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Tanjungpinang, Agus Jamaludin menjelaskan berdasarkan Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diharapkan pada 23 Agustus 2021 semua Bandara di Indonesia sudah beralih ke sistem digital untuk syarat perjalanan.

Di Tanjungpinang pihaknya sudah berkoordinasi dan sosialisasikan kepada seluruh stakeholder seperti fasilitas kesehatan (Faskes) yang melakukan rapid tes antigen dan polymerase chain reaction (PCR).

“Faskes diberi akun untuk mengisi aplikasi new all record (NAR), data setiap orang yang diperiksa harus diinput ke dalam aplikasi tersebut, nanti data itu akan muncul di Aplikasi Pedulilindungi,” kata Agus, Jumat (20/8).

Saat calon penumpang pesawat tiba di Bandara, akan discan barcode dengan sistem yang juga sudah terintegrasi dengan Aplikasi Pedulilindungi.

“Nanti masyarakat saat di bandara tinggal buka aplikasi itu scan sendiri, hasil PCR atau antigen yang sudah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

Agus mengaku sudah menyampaikan hal itu kepada pihak Angkasa Pura yang ada di Tanjungpinang, untuk penerapan pada Senin (23/8) besok tergantung kesiapan bandara. “Kami belum ada kepastian tapi langkah menuju ke sana sudah dalam proses,”sebutnya.

Di Tanjungpinang, kata Agus tidak semua laboratorium yang menyediakan layanan antigen dan PCR terdaftar di Kemenkes, yang sudah terintegrasi saat ini adalah faskes yang ada di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF), RSUD Kota Tanjungpinang, RSAL dr. Midiyato Suratani dan Klinik Adilab.

“Sementara RSUD Raja Ahmad Tabib belum melayani untuk pelaku perjalanan karena masih fokus testing untuk tracing,” ungkapnya.

Sedangkan faskes yang belum terintegrasi dengan Aplikasi Pedulilindungi, lanjut Agus secara otomatis akan ditolak oleh sistem saat dibandara.

“Jangan sampai masyarakat menyalahkan petugas karena tidak bisa melakukan barcode,”terangnya. Menurutnya karena saat ini beban aplikasi tersebut cukup berat karena diakse semua orang pasti akan ada kendala nantinya saat penerapan. (*)

Reporter : Peri Irawan
editor: tunggul