Feature

Kenapa Siaran Luar Negeri Mudah Didapat?, Migrasi TV Digital adalah Jawaban Tepat

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah berpacu dengan waktu untuk mempopulerkan saluran TV digital ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Bermigrasi dari siaran analog ke digital adalah satu keharusan, karena semua sektor-sektor kehidupan sudah tersentuh dengan teknologi digital. Apalagi siaran TV digital akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.

***

Masyarat Kecamatan Belakangpadang, Batam mencoba siaran TV Digital dalam program sosialiasi Migrasi TV Digital yang dilaksanakan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah belum lama ini. F. Dokumentasi KPID Provinsi Kepri

Bagi masyarakat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang tersebar di 448 pulau berpenghuni, tentunya belum semuanya memahami apa yang dimaksud dengan TV digital. Namun demikian, Komisi Penyiaran dan Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Kepri bersama Pemerintah Daerah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Kepri juga turut  berpacu melakukan sosialisasi ditengah-tengah masyarakat. Mengingat Provinsi Kepri rentang kendali antar daerah dipisahkan oleh laut.

Percepatan pelaksaan TV digital di Provinsi Kepri tentunya satu keharusan. Mengingat ada beberapa daerah di Kepri yang berada di dihadapan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, lebih mudah menikmati siaran luar negeri. Apalagi Singapura yang juga sudah maju didepan, dan sudah bermigrasi lebih dahulu ke siaran digital. Karena dengan menggunakan sistem analog, siaran-siaran luar negeri tersebut sangat mudah ditemukan. Sedangkan siaran lokal maupun nasional sulit untuk didapat. Sehingga kehadiran TV digital dapat menjawab, apa yang menjadi penyebab tidak tertangkapnya siaran TV lokal maupun nasional tersebut.

Aulia, warga Kampung Tanjung, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam yang pemukimannya hanya sempelemparan batu ke negara tetangga Singapura mengaku belum mendapatkan informasi terkait adanya terobosan migrasi TV digital. Pria yang berprofesi sebagai sekuriti perbankan tersebut tentunya menyambut baik, dengan kehadiran siaran TV digital. Karena di rumahnya saat ini, ia menggunakan siaran berlangganan.

“Belum ada mendapatkan informasi soal ini (siaran TV digital). Jika memang memberikan banyak kemudahan, tentu sangat baik bagi masyarakat. Karena tidak semua masyarakat bisa menikmati TV berlangganan atau beli parabola dan sejenisnya,” ujar Aulia, Jumat (20/8).

Ia mengatakan, apabila menggunakan jaringan biasa (analog) dengan dibantu antena yang tinggi, siaran nasional hanya TVRI dan RCTI yang didapat. Itupun dengan gambar yang bergoyang-goyang. Sedangkan siaran TV lokal seperti, Batam TV tidak dapat langsung. Namun untuk siaran luar negeri milik Singapura dan Malaysia sangat mudah didapat. Bahkan siarannya dengan banyak pilihan.

“Artinya masyarakat Belakangpadang banyak disuguhkan dengan siaran-siaran luar negeri. Semoga dengan adanya program TV digital ini bisa menjawab, kenapa siaran lokal dan nasional sulit didapat,” jelasnya.

Lain halnya dengan Sumari, warga Kampung Sido Makmur, Tanjungpinang, Provinsi Kepri tersebut mengaku tidak sabar menunggu terlaksananya program TV digital tersebut. Di rumahnya saat ini, ia memiliki TV tabung dengan menggunakan atena luar yang tingginya sekitar 15 meter. Namun dengan siaran yang didapatkan tidak jelas, sehingga TV yang ada tersebut hanya menjadi hiasan.

“Kampung kami di sini belum sampai jangkauan TV berlangganan atau TV kabel. Bagi yang punya kelebihan tentunya bisa membeli parobola atau sejenisnya,” ujar Sumari, Selasa (17/8) lalu.

Sembari membersihkan perkarangan rumahnya, ia juga mengatakan, ketika menggunakan parabola, namun ketika ada iven-iven tertentu, seperti Olimpiade kemarin siarannya diacak. Sehingga tidak dapat memberikan dukungan untuk atlet-atlet tanah air yang bertanding, meskipun hanya di depan TV. Baginya, terobosan TV digital ini adalah langkah yang bijak dan harus sampaikan kepada masyarakat lainnya.

“Ini merupakan sesuatu yang sangat baik. Sehingga ada edukasi secara berkelanjutan tentunya. Selain itu juga memberikan informasi-informasi melalui pemberitaan di televisi. Semoga ini menjadi semangat perubahan di kemardekaan negara ini yang ke 76 tahun,” harap Sumari.

Sejumlah pemukiman warga Tanjungsiambang, Tanjungpinang masih memanfaatkan antena TV Analog menikmati siaran televisi. F. Jailani

TV Digital Tawarkan Beragam Kemudahan
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Kepri, Hengky Mohari mengatakan, dasar hukum perapan TV digital adalah Pasal 60A Undang-Undang Cipta Kerja Tahun 2020. Migrasi penyiaran televisi terestrial dari teknologi analog ke teknologi digital sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penghentian siaran analog (analog switch off) diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak mulai berlakunya Undang-Undang ini.

“Pasal 97 PP No. 46 Tahun 2021 juga mengatur tentang ini Paling lambat adalah tanggal 2 November 2022 pukul 24.00 WIB. Dalam Permenkominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran juga dijelaskan,” ujar Hengky Mohari, Rabu (10/8) lalu.

Dijelaskannya, Provinsi Kepri menjadi daerah yang akan melaksanakan migrasi TV digital bersama bersama Provinsi Aceh, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Banten. Adapun untuk Provinsi Kepri dibagi dalam empat wilayah. Zona I adalah Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, dan Kabupaten Karimun. Sedangkan Zona II adalah Kabupaten Anambas, Zona III Kabupaten Natuna. Sedangkan Kabupaten Lingga masuk dalam Zona IV.

“Untuk tahap awal akan dilaksanakan di Zona I. Sedangkan zona lainnya menyusul setelah itu. Saat ini, hanya Lingga yang statusnya belum bersiaran digital. Sementara daerah lainnya sudah,” jelas Hengky.

Menurut Hengky, rencana awalnya program ini diluncurkan pada 17 Agustus 2021 atau pada peringatan hari kemardekaan Indonesia ke 76 tahun. Namun karena adanya perubahan kebijakan, batal dilauching. Sehingga masih menunggu instruksi lebih lanjut dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Disebutkannya, untuk wilayah I saat ini sudah ada 21 siaran digital dibawah frekuensi LPP TVRI, RCTI, TRANS TV, dan SCTV.

“Sudah ada banyak siaran yang bisa diakses dengan TV digital. Untuk mempercepat proses migrasi dari analog ke digital tahap awal akan disebar sekitar 3.000 unit antena tv digital atau Set Tob Box (STB) untuk masyarakat kurang mampu di Provinsi Kepri. Dari data di Provinsi Kepri ada 16.365 rumah tangga miskin yang tersebar dalam empat wilayah yang sudah ditetapkan,” jelasnya lagi.

Ia memaparkan di Provinsi Kepri saat ini ada 64 lembaga penyiaran yang memiliki Izin Penyelanggaran Penyiaran (IPP). Ia berharap TV lokal dapat memanfaatkan terobosan ini bekerjasama dengan lembaga penyiaran nasional. Sehingga mendapatkan frekuensi siaran dalam TV digital. Diungkapnnya, meskipun dengan keterbasan, pihaknya berusaha tetap maksimal dalam melakukan sosialiasi.

“Kami terus melakukan sosialisasi terkait migrasi TV digital ini. Belum lama ini, di Kecamatan Belakangpadang, Batam yang lokasinya dekat dengan Singapura. Masyarakat disana menyambut baik, karena selama ini mereka lebih banyak disuguhkan oleh siaran-siaran dari luar negeri. Program TV digital ini, bisa menjawab kenapa siaran luar negeri mudah didapat, sementara lokal dan nasional sangat sulit,”papar Hengky.

Ditambahkannya, keuntungan siaran digital bagi masyarakat adalah akan mendapatkan kualitas audio video serta warna sangat jauh lebih bersih dari pada penerimaan siaran analog. Pilihan program siaran digital lebih banyak dibandingkan siaran analog, serta dapat digunakan layanan interaktif dan informasi bencana. Selain itu, siaran televisi digital dapat diterima oleh sistem penerima televisi tidak bergerak maupun sistem penerima televisi bergerak.

“Tidak munculnya efect doubler pada pesawat penerima siaran digital. Yakinlah, terobosan ini akan memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi masyarakat. Karena kedepan juga melalui smart phone juga bisa mengakses siaran TV digital, tentunya didukung dengan alat penangkap sinyal,” tutup Hengky.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasti (Kominfo) Provinsi Kepri, Zul Hendri mengatakan, Kominfo sudah menyatakan bahwa proses Analog Switch Off (ASO) atau nonaktif siaran analog beralih ke siaran digital bakal dimulai bertahap di sejumlah wilayah Indonesia secepatnya di tahun ini harus selesai sepenuhnya pada 2 November 2022.

Pertama, Menkominfo sudah menugaskan pembangunan infrastruktur utama penyiaran digital yaitu multiplexing. Sehingga lembaga penyiaran tidak perlu lagi membangun, mengoperasikan, dan merawat infrastruktur sendiri. Jadi bisa menerapkan model berbagi (sharing) infrastruktur.

Kebutuhan multiplexing sendiri sudah diperhitungkan di setiap daerah. Mereka menjamin setiap lembaga penyiaran dapat menggunakan salah satu multiplexing yang beroperasi di daerah siarannya. Baik melalui TVRI sebagai lembaga penyiaran publik maupun penyiaran swasta yang mendapat penetapan sebagai operator multiplexing atau penyelenggara multiplexing.

“Pada tahap kedua, dengan siapnya infrastruktur multiplexing, maka setiap lembaga penyiaran harus mulai melakukan peralihan penyiaran digital dan dapat diawali dengan siaran simulcast, yaitu siaran digital tanpa mengakhiri siaran analog,” ujar Zul Hendri, Kamis (19/8) lalu di Tanjungpinang.

Di sini Zul Hendri ingin mengenalkan keberadaan dan manfaat dari siaran digital yang kualitasnya lebih bersih, jernih, dan lebih canggih kepada masyarakat. Di langkah ketiga adalah kelanjutannya yaitu pemenuhan kebutuhan perangkat televisi yang bisa menerima siaran digital.

“Saat ini, banyak televisi yang sudah dilengkapi dengan perangkat penerima siaran digital. Namun, tetapi tidak seluruhnya telah tersedia perangkat penerima siaran digital. Oleh karena itu, dibutuhkan untuk menyiapkan STB juga sebagai alat bantu bagi rumah tangga yang masih menggunakan televisi analog atau belum tersedianya penerima digital di perangkat televisi masing-masing,” jelasnya.

Menurutnya, disinilah peran sekaligus peluang bagi produsen dan pedagang elektronik untuk menyiapkan ekosistem dari siaran televisi digital, yaitu memasarkan produknya dengan seluas-luasnya. Langkah keempat adalah sosialisasi kepada masyarakat dengan skema tertentu agar dapat menerima siaran saat ASO dilaksanakan. Dalam hal ini, Pemerintah akan memberikan perhatian langsung kepada kalangan masyarakat tertentu yang membutuhkan perangkat untuk menerima siaran digital.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama-sama, baik pemerintah maupun juga ekosistemnya. Dalam hal ini tentu bersama-sama dengan lembaga-lembaga penyiaran. Program ASO adalah usaha berskala nasional dan melibatkan rantai ekonomi yang lintas industri mulai dari penyiaran, elektronika, perdagangan, media, sampai dengan telekomunikasi dan ekonomi digital,” tutup Zul Hendri.(*)

reporter: JAILANI
editor: tunggul