Feature

Mampu Deteksi Sabu Berbau Lembut dan Mata Uang Asli

Mengenal Lebih Dekat Unit K9 Milik Bea Cukai Batam

ANDRO anjing pelacak unit K9 milik BC Batam. (BEA CUKAI BATAM UNTUK BATAM POS)

Kasus sabu seberat 1 ton yang ditemukan di atas Kapal Sunrise Glory tahun 2018 lalu, sempat menggegerkan sentero tanah air. Saat itu, yang menemukan sabu tersebut yakni Andro, salah satu unit anjing K9 milik Bea Cukai (BC) Batam.

LAPORAN: RIFKI SETIAWAN
EDITOR : GALIH ADI SAPUTRO

K9 berasal dari penyebutan “Canine”, sebuah kata yang umumnya mengacu pada anjing atau hewan lainnya yang seperti anjing. Secara umum, Unit K9 berarti satuan anjing pekerja yang terdiri dari anjing dan pawangnya. Kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN), BC, dan sejumlah instansi lainnya sering menggunakan unit ini.

Salah satu kasus terhangat yang terjadi dua tahun lalu, yakni penemuan sabu 1 ton di Kapal Sunrise Glory oleh Andro. Anjing berjenis Labrador Retriever berwarna kuning kecoklatan ini memang handal dalam mengendus narkoba.

“Secara keseluruhan, di BC Batam ada lima ekor anjing K9. Kemudian, pawangnya ada tiga orang. Sebagian besar anjing K9 di sini merupakan golongan jenis Labrador Retriever,” kata Seksi Intelijen I BC Batam, Tri Lukito Adi, Kamis (19/8) di kantornya.

Anjing jenis ini memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya layak menyandang nama sebagai unit K9. “Bulunya tipis, cocok dengan iklim tropis dan mampu beradaptasi. Dari sisi penciuman sangat bagus. Dan dari sisi kecerdasan, sangat mudah dilatih,” katanya lagi.

BC Batam yang memiliki peran mengawasi arus mobilitas masyarakat di pintu masuk, seperti bandara dan pelabuhan, memang sangat mengandalkan anjing Labrador Retriever, dibandingkan anjing jenis German Shepherd.

Anjing jenis terakhir ini biasa dikenal sebagai anjing herder, anjing galak yang tak kenal ampun dalam mengejar penjahat. Anjing herder juga sering digunakan sebagai unit K9.

Namun, di sini ada perbedaan mendasar mengenai peran dasar dari masing-masing instansi. BC membutuhkan unit K9 untuk mendeteksi narkotika dan sejenisnya. Bahkan selain narkotika, anjing BC juga terlatih dalam mendeteksi melacak mata uang asli, yang memang harus dibatasi saat akan bepergian keluar negeri.

Tapi, khusus untuk anjing pengendus narkotika harus menggunakan anjing yang ramah, seperti jenis Labrador Retriever ini.

“Sebabnya untuk mengurangi potensi kerusakan barang. Lalu, anjing ini hanya bisa bedakan bau, tidak bisa bedakan orang. Bisa saja ada residu narkotika yang tersisa di barang milik orang yang tidak tahu apa-apa, ketika berpapasan dengan bandarnya. Kalau anjingnya galak, maka bisa diserang,” ungkapnya.

BC Batam memiliki empat anjing Unit K9. Nama-namanya yakni Andro dan Marco untuk anjing jantan, serta Dee dan Fredella untuk anjing betina. Anjing-anjing ini harganya sangat mahal.

Lukito mengungkapkan, satu ekor anjing harganya bisa mencapai Rp 250 juta hingga Rp 300 juta. Anjing-anjing ini dibeli dari Belanda. Di Batam, mereka ditempatkan di salah satu mes BC di daerah Baloi.

“Sebelum dibeli, ada beauty contest dulu. Misalnya kalau mau ambil 10, nanti 50 ekor dites. Lalu gugur terus jadi 25 dan seterusnya, sampai ke jumlah yang kita ingin beli,” paparnya.

Menurut Lukito, sebenarnya kesuksesan dari anjing Unit K9 bukanlah dari seberapa besar tangkapannya, tapi dari seberapa kecil tangkapannya. Mengapa begitu.

“Narkotika itu baunya sangat soft. Tugas anjing ini yakni melacak sumber bau. Kalau narkotikanya banyak, maka dari jauh pun bisa tercium. Tapi kan penyelundup itu pintar sembunyikan barang haram tersebut. Anjing harus menciumnya dari jarak dekat, makanya kami tempatkan di arus keluar masuk orang-orang,” jelasnya.

Agar bisa melacak bau narkotika, anjing-anjing ini dilatih selama setahun. “Kalau proses pengenalan bau, awalnya anjing diciumkan ke narkotika asli langsung dalam medianya dalam jumlah besar, lalu lama-lama terus dikurangi,” paparnya.

Ketika berhasil menemukan sumber narkotika, maka ada dua respon dari anjing, yakni respon pasif berupa duduk, atau respon agresif yakni menggaruk.

Namun, ada kalanya anjing-anjing ini bosan, sehingga alhasil menjadi asal-asalan dalam melakukan pelacakan.

“Kalau sudah bosan, malah lacak, respon asal-asalan, tapi itu sangat minim. Biasanya pawang sudah tahu solusinya, biasanya diajak main, pengenalan wilayah baru, atau dikenalkan pada situasi pelacakan yang berbeda,” tuturnya.

Karena keahlian Andro dan kawan-kawan, mereka juga sering dimintai pihak kepolisian, untuk membantu proses penyelidikan kasus narkoba.

Tantangan terberat saat ini yakni melacak peredaran narkotika sintesis. Narkotika jenis ini didapatkan dari proses pengolahan yang rumit.

“Narkotika jenis ini bukan narkotika sebenarnya, tapi bahan-bahan kimia yang diramu agar orang ketika memakainya terasa mirip narkotika asli, ada sabu sintesis dan kokain sintesis,” tuturnya.

Ada 100 jenis lebih dari daftar narkotika sintetis ini. Keuntungan dari memiliki anjing unit K9 ini, yakni mampu mengenali baunya.

“Kami selalu berupaya agar anjing-anjing ini tahu jenis-jenis narkotika, tapi di sisi lain, kita semua tak punya bahan-bahannya. Tapi umumnya, baunya tetap sama. Jadi masih ada keberuntungan,” pungkasnya. (*)