Nasional

Selama Pandemi Stres Karyawan Meningkat 50 Persen

Riset Fakultas Psikologi UI

Ilustrasi: Stres. ( Mila/https://kavling10.com)

batampos.id – Selama pandemi Covid-19 banyak karyawan bekerja dari rumah. Tetapi temuan hasil survei dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) menyebutkan selama pandemi stres karyawan meningkat sampai 50 persen. Dari survei ini diharapkan perusahaan lebih peduli terhadap kesehatan mental karyawannya selama pandemi.

Paparan hasil survei tersebut disampaikan Direktur Mercer Indonesia Isdar Andre Marwan yang juga anggota peneliti. ’’Menurut penelitian kami, terdapat peningkatan stres pada karyawan sebesar tiga kali lipat atau sebesar 50 persen selama pandemi,’’ katanya kemarin (18/8).

Survei tersebut dilakukan dengan sampel sebanyak 1.003 responden. Mereka dipilih dari karyawan di seluruh provinsi di Indonesia. Survei dilakukan pada rentang Mei-Juni 2021. Mayoritas responden adalah perempuan dengan perbandingan 2:3 dari responden laki-laki.

Survei itu mengukur kondisi work life balance. Ditemukan fakta bahwa 97 persen responden melaporkan bahwa mereka dihadapkan dengan situasi hilangnya batas antara kehidupan persoalan dan profesional. Selain itu dalam kondisi bekerja dari rumah maupun kantor, karyawan tetap dituntut fokus dalam pekerjaan.

Kemudian dari aspek lack of control, ditemukan hasil 83 persen responden melaporkan tuntutan pekerjaan yang lebih besar. Mereka banyak melaporkan bekerja lembur atau bekerja di hari libur selama pandemi. ’’Di sisi lain, terdapat beberapa emosi negatif yang cenderung muncul pada karyawan di masa pandemi,’’ tuturnya.

Dosen Fakultas Psikologi UI Endang Parahyanti mengatakan kondisi yang dialami kayaran itu dapat mempengaruhi tingkat resiliensi seseorang. Resiliensi adalah sebuah kondisi yang bisa membuat seseorang bangkit dari kondisi tertentu. Dosen yang akrab disapa Yanti itu mengatakan ada beberapa cara yang dapat dilakukan karyawan untuk membangun resiliensi.

’’Bagi individu diperlukan kemampuan mengelola emosi. Kemampuan merespon dinamika tuntutan pekerjaan serta keyakinan melewati tantangan,’’ jelasnya. Untuk itu diperlukan dukungan dari banyak pihak. Seperti dari keluarga maupun teman sekitar.

Sedangkan untuk manajemen perusahaan, dapat membangun resiliensi karyawan dengan cara menggelar pelatihan dan pengembangan kesehatan mental. Kemudian membangun budaya suportif, umpan balik atas pekerjaan, dan mengupayakan fleksibilitas terhadap karyawan. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim