ubahlaku

Dirumahkan Karena Pandemi, Mantan Pekerja Galangan Sukses Bertani

Diberhentikan sebagai pekerja Galangan kapal tak membuat Jhoni Tarigan menyerah. Bermodal sedikit uang pesangon dia nekad sewa sepetak tanah yang luasnya separuh dari lapangan sepak bola. Dia berhasil melewati masa kritis ini dengan baik sebab hasil pertanian sayuran mampu mencukupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah tiga orang anaknya selama setahun terakhir.
***

Jhoni saat menggarap lahan pertaniannya di Marina. f. eusebius

Juni 2020 menjadi bulan yang berat bagi Jhoni dan keluarga. Dia diberhentikan sebagai pekerja Galangan kapal di Tanjunguncang, kecamatan Batuaji, kota Batam. Sempat terbesit dipikirannya untuk kembali ke Sumatera Utara kampung halamannya.

Persiapan sudah matang termasuk dengan rencana menjual rumah yang dibelinya sejak tahun 2005 lalu. Namun keputusan berubah ketika dia berjumpa dengan seorang sahabatnya yang pernah sama berkerja sebagai pekerja Galangan kapal. Andre, rekannya itu menawarkan sebidang lahan di Marina untuk digarap.

Tanpa pikir panjang, Jhoni pun mengiyakan. Dengan sedikit modal dari perusahaan galangan kapal tempat dia kerja sebelumnya dia berhasil mengolah lahan yang luasnya separuh dari lapangan sepak bola menjadi bedeng untuk menanam sayur. Putaran pertama dia kalah karena hasil panen kurang tidak sesuai.

Sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, kacang panjang dan gambas gagal panen karena kadar tanah yang belum sesuai. Diapun mencoba lagi setelah menerima masukan dari petani-petani sayur lainnya. Putaran kedua dia usahanya mulai menampakan hasil. Kebutuhan rumah bisa terpenuhi tanpa mengganggu tabungan yang tersisa. Begitu dengan putaran selanjutnya hasil panen semakin membaik sehingga dia bisa melanjutkan pendidikan ketiga orang anaknya. Dalam sebulan dia bisa mengantongi keuntungan bersih yang setara dengan gaji saat dia masih berkerja di galangan kapal.

Keberuntungan kembali mendekati Jhoni di penghujung tahun 2020 hingga awal tahun 2021. Saat itu intensitas hujan cukup tinggi dan cuaca di laut kurang bersahabat. Sayuran dari luar Batam tidak masuk sehingga harga sayuran lokal melonjak drastis. Diapun meraup keutungan yang berlipat ganda sebab hasil panennya bagus saat pasokan sayur dari luar macet. “Dalam tiga hari saya bisa kantongi Rp 80 juta. Sudah melebihi hasil kerja saya di galangan selama setahun,” ujarnya.

Keberuntungan ini masih berlanjut hingga saat ini, sehingga dia membulatkan tekadnya untuk tetap menjadi petani sayur. “Bulan lalu ada tawaran mau kerja (galangan kapal) di Tanjunguban, tapi saya nolak. Sudah bagus di sini. Kerja sehat dan nyaman,” ujarnya.

Keputusannya untuk tidak kembali menjadi seorang karyawan juga didasari oleh dorongan hidup sehat. Baginya sangat berisiko terpapar Covid-19 jika dia kembali bekerja di tempat yang banyak orang. Diapun secara aktif untuk menerapkan protokol kesehatan di lingkungan tempat kerjanya saat ini.

“Di kebun lebih baik karena tidak banyak orang. Di sini protokol kesehatan benar diterapkan dengan baik karena tidak ada kontak fisik dengan banyak orang. Sayur (yang akan dijual) sistem jemput sama toke jadi saya pikir lebih aman begini. Anak istri di rumah juga aman karena di luar saya tidak berada di tengah kerumunan orang,” katanya.

Dia juga sepakat untuk bersama-sama melawan pandemi ini sebab bukan saja mengancam kesehatan umat manusia, tapi juga membuatnya kehilangan pekerjaan tetap.

“Aktifitas juga tak bebas. Saya sangat setuju dengan berbagai upaya dan program pemerintah dalam hal menanggulangi penyebaran Covid-19 ini. Saya dan keluarga sudah divaksin,” ujarnya.

Dari wabah pandemi Covid-19 ini, diapun mendapat banyak pelajaran berharga. Selain menyadari pentingnya pola hidup sehat, dia juga mampu berdiri diatas kaki sendiri sekalipun menggarap lahan tumpangan. Diapun bertekad suatu saat nanti dia akan memiliki lahan pertanian sendiri dengan pengalaman yang dimilikinya saat ini. “Intinya yang penting sehat dulu. Kalau kita sehat semua bisa kita lakukan. Tetap jaga kesehatan dengan mematuhi aturan protokol kesehatan,” tutupnya. (*)

REPORTER : EUSEBIUS SARA
editor: tunggul