Feature

Harus Ada Name Tag agar Tidak Keliru

Seni Merawat Moon Drop ala Petani Rumahan

Caca Supriatna memetik buah anggur di depan rumahnya di desa Cikahuripan Lembang, Bandung, Jawa Barat, Minggu (15/08/2021). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

Belum lama Caca Supriatna berkenalan dengan anggur. Baru 13 bulan. Sebagai komoditas, anggur tidak akan ada matinya. Salah satu koleksi Caca yang sekarang populer adalah moon drop.

Laporan: FERLYNDA P. SOFYANDARI, Lembang
Editor: Jamil Qasim

BENTUK buah anggur moon drop istimewa. Tidak seperti anggur pada umumnya yang bulat, jenis ini lonjong. Anggur moon drop juga punya ”pantat.” Jika anggur sudah matang, kulitnya berwarna ungu gelap. Rasanya tentu saja manis dan renyah. Alasan lain yang membuat moon drop digemari adalah buah berkulit tipis itu tidak mempunyai biji.

’’Jadi, bisa tinggal lhep,’’ kata Caca saat dijumpai di rumahnya di Lembang pada Minggu (15/8).

Dia menanam moon drop dan beberapa jenis anggur lainnya di halaman rumah. Di bagian depan dan samping. Minggu siang itu, si moon drop tampak masih hijau. Daunnya lebat, tetapi belum ada buahnya.

Caca menyatakan, moon drop yang ditanamnya memang belum saatnya berbuah. Tidak seperti jenis anggur lain yang dia tanam, moon drop butuh waktu lebih lama untuk berbuah. ’’Ini baru berusia 8 bulan. Biasanya, moon drop berbuah setelah satu tahun,’’ terang Caca kepada Jawa Pos (Grup Batam Pos).

Agar tidak keliru mengidentifikasi tanaman-tanaman anggurnya, lelaki 39 tahun itu menyematkan name tag pada batang. Itu juga menjadi cara untuk memudahkan Caca merawat tanaman-tanamannya. Sebab, kebutuhan anggur yang satu dan jenis lainnya tidak sama.

Sebenarnya salah satu alasan Caca telaten merawat moon drop adalah penasaran. Moon drop adalah jenis yang baru saja dia kenal. Dia belum tahu moon drop bisa dikembangbiakkan di Lembang atau tidak. Daerah tempat tinggal Caca tersebut merupakan salah satu kawasan di Bandung yang bersuhu udara dingin. Lembang adalah dataran tinggi. Sementara, menurut Caca, anggur biasanya berkembang biak di wilayah yang berhawa panas. ’’Tapi, di teman saya yang tinggal di tempat dengan ketinggian tidak jauh beda, anggur bisa berbuah,’’ ucapnya dengan logat Sunda. Karena itu, dia memberikan perhatian khusus pada moon drop karena ingin membuktikan teorinya.

Bergaul dengan moon drop setiap hari, Caca lantas mempelajari betul karakter anggur lonjong tersebut. Yang paling dia ingat adalah saat-saat pertama moon drop berbunga. Bunga perdana itu adalah bunga PHP alias bunga pemberi harapan palsu. Maksudnya, bunga perdana itu tidak akan pernah menjadi buah. Bunga yang tumbuh pada batang tersier tersebut hanya akan bertahan sebentar, lalu gugur.

Agar anggur berbunga, menurut Caca, diperlukan trik khusus. ’’Pohon anggur harus disiksa dulu,’’ katanya. Menyiksa berarti memangkas daun-daunnya. Bahkan sampai gundul bila perlu.

’’Semalam suhu di sini mencapai 13 derajat Celsius,’’ ucap Caca. Temperatur udara yang rendah adalah momok bagi para petani anggur. Termasuk para penanam anggur rumahan seperti Caca. Suhu yang terlalu rendah dapat mengakibatkan daun anggur menjadi gosong seperti jika kepanasan. Caca lantas menunjukkan salah satu bibit anggur moon drop yang daunnya gosong.

Minggu lalu, tanaman anggur jenis akademiklah yang sedang berbuah di rumah Caca. Tanaman itu memayungi tanaman-tanaman anggur lainnya. Daun anggur akademik tidak lebat. Malah seperti kering. Namun, Caca belum memanennya. Menurut dia, tanaman yang kurus dan daun yang kering itu wajar saja. Dia tetap akan menunggu anggur-anggur akademik itu mencapai kematangan maksimal. Minggu itu, tingkat kematangannya baru sekitar 70 persen. ’’Yang ini juga baru kali pertama berbuah. Jadi, buahnya kecil,’’ jelasnya tentang akademik.

Tanaman anggur moon drop yang tumbuh di halaman depan rumah Caca menjulur dari planter bag besar. Batang sekunder dan tersiernya melilit rak panjat setinggi 1,5 meter. Caca memang sengaja membiarkan anggur moon drop-nya tidak menjalar lebih tinggi dari itu.

Dia juga sangat memperhatikan media tanam. Di rumah Caca, kelembapan udara cukup tinggi. Karena itu, anggur yang ditanam dalam planter bag tidak diberi tanah. ’’Cepat keras,’’ ujarnya.

Sebagai gantinya, Caca memanfaatkan sekam bakar, sekam mentah, dan pupuk kandang. Perbandingan komposisi tiga bahan pengganti tanah itu sama. Masing-masing sepertiga bagian. Khusus untuk anggur yang ditanam di tanah, Caca harus menambah media tanam setiap tanah terlihat memadat.

Sebagai pemerhati anggur, Caca rutin memeriksa tanamannya. Dia memangkas sulur yang mulai tumbuh. Dengan begitu, nutrisi untuk batang dan daun tercukupi karena tidak harus berbagi dengan sulur. Selain itu, sulur yang dibiarkan memanjang dan membelit batang ternyata berbahaya karena bisa mencekik batang. Akibatnya, tanaman anggur layu.

Selain moon drop dan akademik, Caca mengoleksi banyak jenis anggur yang lain. Di antaranya, Jupiter, Dixon, dan Ninel. Ada satu jenis anggur yang bernama Sansekerta. ’’Ini dulu karena tag-nya ilang, lalu yang jual namain sendiri,’’ jelasnya.

Selain menanam anggur karena hobi, Caca menjual bibitnya. Pembeli bibit tersebar di seluruh Nusantara. Yang paling jauh tinggal di Papua. Caca mengungkapkan, kendati moon drop merupakan buah favorit para penikmat anggur, bibitnya kurang laku. Dia menyatakan bahwa bibit moon drop jarang dicari. Sebab, anggur berbentuk lonjong itu hanya berbuah dua kali dalam setahun. ’’Selain itu, perawatannya harus lebih telaten,’’ kata Caca.

Menjual bibit anggur, menurut dia, lebih menguntungkan daripada menjajakan buahnya. Sebab, dia tidak perlu menunggu sampai anggurnya berbuah untuk mendapatkan uang. Karena itu, dia pun membudidayakan bibit anggur. Caca menyambung batang tua atau primer dengan batang sekunder. Batang primer biasanya dia ambil dari anggur lokal yang akarnya kuat, tetapi buahnya asam. Nah, bagian batang sekunder ini bisa diambil dari berbagai jenis anggur.

Soal bibit, Caca menyebutkan bahwa yang paling laku adalah Jupiter, Dixon, akademik, Ninel, dan Trans. Lima jenis itu pula yang selalu dia sarankan bagi mereka yang sedang mulai menanam anggur. ’’Perawatannya lebih mudah,’’ katanya. Selain itu, lima jenis anggur tersebut bandel terhadap hama seperti jamur.

Kepada mereka yang tertarik menanam anggur, Caca mengajak untuk bersegera. ’’Tidak perlu ragu,’’ serunya. Tanaman anggur, lanjut dia, tidak membutuhkan lahan yang luas. Sebisa-bisanya gunakan lahan yang tersinari matahari minimal 6 jam setiap hari.

Sebagai petani rumahan yang membudidayakan bibit anggur, Caca berharap ada dukungan dari pemerintah. Terutama terkait dengan perizinan mengirimkan barang ke luar negeri. Suatu kali, dia pernah mendapatkan pesanan bibit dari Oman. Sayangnya, perizinan yang harus dia urus tidaklah mudah. Belum lagi biaya pengirimannya. Caca sangat berharap pemerintah bisa mewujudkan perdagangan yang sehat. (*)