Ekonomi & Bisnis

Impor Vaksin Hampir Rp 70 Triliun, Indonesia Belum Dapat Memproduksi Vaksin Sendiri

Petugas Kesehatan melakukan vaksianasi covid-19 kepada warga yang digelar oleh Kejaksaan Negeri Batam dikantor Kejari Batam, Rabu (14/7). Kegiatan tersebut dalam rangka Hari Bhakti Adhyaksa ke-61 dan juga vaksinasi massal bagi masyarakat ini merupakan bentuk kepedulian dan dukungan penuh Kejaksaan atas program pemerintah Indonesia dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. (Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Pemerintah meminta lembaga penelitian dan pengembangan di Indonesia, termasuk BPPT menggenjot pengembangan teknologi bioscience di Indonesia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku, Indonesia saat ini belum mencapai kemandirian vaksin Covid-19 atau belum dapat memproduksi vaksin sendiri.

Airlangga menyebut, impor vaksin selama ini telah menghabiskan dana hingga mendekati Rp 70 triliun. Hal tersebut dikakukan untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi nasional untuk melindungi masyarakat dari serangan Covid-19 dan mengakhiri pandemi di tanah air.

“Kedepan biaya besar ini bisa didorong untuk mendorong kemampuan teknologi bioscience di Indonesia,” ujarnya secara virtual, Senin (23/8).

Airlangga juga meminta BPPT ikut berkontribusi dalam melakukan pengembangan vaksin Merah Putih. Harapannya, Indonesia vaksin produksi dalam negeri ini bisa diproduksi pada 2022 mendatang.

“Sumbangsih dalam penanganan pandemi Covid-19, terutama pengembangan vaksin Merah Putih dan vaksin adaptasi teknologi lainnya,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pada bulan Juli 2021 impor nonmigas Indonesia terjadi peningkatan di sejumlah golongan barang. Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan impor terbesar terjadi pada produk farmasi yang naik hingga USD 185 juta. Jika dirincikan, dari total impor produk farmasi USD 185 juta sebanyak USD 150 juta adalah nilai untuk impor vaksin. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung