Bintan-Pinang

Jembatan di Kampung Rekoh, Desa Penaga Dibuat Darurat dari Batang Pohon Kelapa

Jembatan darurat yang dibangun dari batang pohon kelapa di Kampung Rekoh, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Bintan. F.Slamet Nofasusanto

batampos.id- Kondisi jembatan menghubungkan Kampung Rekoh dan Kemalay di Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan memprihatinkan. Meski memprihatinkan karena terbuat dari batang pohon kelapa, masyarakat terpaksa melintasi jembatan darurat ini untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

BACA JUGA: Proyek Jembatan Tanah Merah, Bintan Mangkrak, Dewan Minta Aparat Penegak Hukum Telusuri

Seorang warga Kampung Rekoh, Desa Penaga, Jono mengatakan, jembatan darurat dibangun setelah banjir awal Januari lalu. “Waktu itu hujan 1 minggu, sejumlah rumah warga tergenang air,” katanya.

Untuk mengalirkan air yang menggenang rumah warga, kata Jono, warga membuat saluran pembuangan air. “Ada 7 rumah yang kena banjir, kemudian warga membuat paret di situ, namun (tanahnya) bablas dibawa air,” katanya.

Warga Rekoh saat memperbaiki jembatan yang terbuat kayu, beberapa waktu lalu. F.Kiriman Jono

Semula warga membuat jembatan darurat dari tiga keping papan dan kayu nibung. Setelah jembatan darurat selesai dibuat, masyarakat tidak berani lewat, kendaraan pun mobil tidak bisa melintasi jembatan.

Akhirnya warga kembali membangun jembatan dari kayu. Setelah lebih kurang enam bulan digunakan, jembatan kayu rusak. “Kayunya tidak kuat, akhirnya patah,” katanya. Warga kembali bergotong-royong memperbaiki jembatan dengan memanfaatkan batang pohon kelapa.

“Itulah sampai saat ini jembatan pakai batang pohon kelapa,” katanya. Menurut rencana, pemerintah akan melebarkan jalan sekaligus membangun jembatan. Namun sampai saat ini tidak ada berita sama sekali.

“Kami sudah sangat menunggu-nunggu dibangun jembatan yang layak,” katanya. Menurutnya, pembangunan jembatan sangat penting karena memudahkan masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

“Apalagi anak-anak sekolah dengan memakai sepeda dari Kampung Kemalay ke Kampung Rekoh setiap hari lewat di sana,” katanya.

Dia sangat berharap perhatian pemerintah untuk membangun jembatan yang layak karena masyarakat hanya mampu membuat jembatan dari batang pohon kelapa. (*)

Reporter: SLAMET NOFASUSANTO
editor: tunggul