Feature

Ada Saja Yang Bertanya, ”Sudah Punya Pacar, Dok?”

Riyo Pungki Irawan, Dokter di Balik Layanan Konsultasi Covid-19 Gratis

Riyo Pungki Irawan for Jawa Pos.

Dari awalnya sendirian, Riyo Pungki Irawan berhasil mengajak puluhan dokter dari berbagai kota memberikan layanan konsultasi secara sukarela. Seberapa pun banyaknya pesan yang masuk, semua dibaca dan dijawab.

Laporan: DINDA JUWITA, Jakarta
Editor: Jamil Qasim

PERTANYAANNYA memang menjurus personal. Namun, di tengah kelelahan Riyo Pungki Irawan membaca dan menjawab satu per satu pesan terkait dengan Covid-19, tak pelak pertanyaan itu menghibur.

”Dok, sudah punya pacar atau belum?” ucap si penanya seperti yang diceritakan ulang oleh Riyo kepada Jawa Pos dua pekan lalu (9/8). Dan, bukan cuma satu orang yang demikian. ”Ada juga chat-chat flirting yang masuk,” lanjut Riyo, lantas tergelak.

Riyo adalah dokter yang menjadi inisiator layanan konsultasi Covid-19 gratis. Dari awalnya sendirian ”membabat hutan”, kini sudah ada 51-an koleganya yang membantu. Puluhan dokter itu berasal dari berbagai rumah sakit di Jogjakarta, Jakarta, Bangka, Batam, dan Medan.

Dia juga membebaskan seluruh dokter tersebut dalam menggunakan platform saat memberikan konsultasi. Selain lewat WhatsApp, ada yang memberikan konsultasi melalui Twitter maupun Telegram.

Dokter di Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP dr Sardjito, Jogjakarta, itu tergerak menyusul tingginya gelombang pasang pandemi pada Juli lalu akibat sebaran varian Delta. Beberapa rekan sesama tenaga medis maupun nonmedis juga ikut tumbang.

”Sayangnya, banyak di antara mereka yang belum paham apa saja yang harus dilakukan selama isoman. Padahal, mereka kalangan terdidik. Saya jadi membayangkan gimana masyarakat di luar sana yang mungkin tingkat pendidikannya masih kurang,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta, tersebut.

Riyo pun terpikir untuk menyisihkan sebagian waktunya dengan memberikan layanan konsultasi secara gratis melalui nomor WhatsApp. Tanpa pikir panjang, dia langsung mencuitkan layanan tersebut melalui akun Twitter pribadinya pada 7 Juli. Pengumuman itu lengkap disertai nomor konsultasi miliknya: 081902835039. Di luar dugaan lajang 24 tahun itu, responsnya luar biasa. Ratusan pesan masuk ke nomor tersebut.

”Kaget bisa viral, padahal followers Twitter saya hanya 300-an orang dan itu juga teman-teman saya sendiri. Selama 24 jam pertama layanan dibuka, ada 800 chat yang masuk melalui WhatsApp,” jelasnya.

Ratusan chat yang masuk itu membuatnya keteteran. Dari sanalah dia berinisiatif mengajak beberapa rekannya sesama dokter memberikan layanan tersebut. Riyo tak menyangka ajakannya ternyata direspons positif oleh rekan-rekannya. Sampai terkumpul puluhan dokter.

Padahal, seluruh layanan yang diberikan bersifat sukarela. Para dokter yang tergabung harus benar-benar ikhlas meluangkan waktu beberapa jam dalam sehari untuk memberikan layanan konsultasi gratis. Dia dan para dokter itu lantas membuat poster berupa pengumuman. Poster tersebut kemudian disebarkan melalui berbagai platform media sosial.

Tambahan tenaga itu membuat jumlah chat tidak lagi terlalu menumpuk di Riyo saja. ”Biasanya, sehari saya bisa melayani 50–100 chat lebih yang masuk. Dua minggu belakangan, sekitar 30 chat sehari,” ujarnya.

Pria yang berulang tahun setiap 13 Maret itu juga merasa terbantu dengan banyaknya layanan telemedisin yang ada saat ini. Dengan begitu, pasien bisa lebih cepat terlayani. ”Saat melayani konsultasi itu, betul-betul saya scroll sampai ke bawah sehingga tidak ada yang terlewat. Memang agak rumit karena semua kan nomor-nomor baru,” tutur Riyo.

Bukan hanya pertanyaan yang menyimpang dari topik, Riyo juga sering kali mendapat telepon di luar jadwal konsultasi yang sudah dicantumkan. Padahal, jadwal konsultasinya setiap Senin–Kamis pukul 07.00–08.00 WIB. Untuk yang seperti itu, dia tidak bisa melayani. Sebab, sudah dituliskan bahwa nomor tersebut hanya melayani chat. Bukan telepon yang bersifat emergency.

Dokter yang juga ditunjuk BNPB sebagai koordinator selter isoman di Rusun ASN Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jogjakarta, itu bercerita bahwa layanan konsultasi gratis yang digagasnya memang memiliki beberapa panduan. Di antaranya, tidak memberikan layanan paket isoman, suplai obat, oksigen, maupun ambulans. Selain itu, Riyo tidak memberikan resep, tetapi hanya merekomendasikan obat yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi pasien. Sebab, banyak pasien yang ternyata sudah mengonsumsi obat sendiri, bahkan tanpa pengawasan dokter.

”Jadi, akhirnya kami beri guidance supaya pasien tidak asal konsumsi obat. Kalau emergency, disarankan langsung ke faskes,” jelasnya.

Kini sudah lebih dari sebulan layanan konsultasi gratis itu berjalan. Setiap hari puluhan dokter yang tergabung dengan telaten memberikan layanan secara cuma-cuma. Meski layanan tersebut sudah berjalan lebih dari sebulan, Riyo maupun para dokter itu tidak memberikan tenggat sampai kapan layanan tersebut akan dijalankan. Apalagi, pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda bakal benar-benar berakhir.

Riyo menyatakan akan mengembalikan pilihan kepada para dokter yang bergabung kelak saat pandemi berakhir. Jika layanan terus dijalankan, dia siap. ”Sejauh kami masih mampu meringankan beban pandemi ini, ya insya Allah masih terus kami bantu dan jalan terus entah sampai kapan,” tuturnya.

Termasuk kemungkinan menghadapi ”risiko-risiko” tadi: pertanyaan tentang penyakit yang tidak terkait dengan Covid-19. Atau, ditanya sudah punya pasangan atau belum… (*)