Feature

Dibangun Tahun 1970, Tiga Kali Gagal Tender

Masa Depan Pelabuhan Batuampar (1)

Sejumlah kapal bersandar di Dermaga Utara Pelabuhan Batuampar, beberapa waktu lalu. Foto kiri, Rencana perluasan Pelabuhan Batuampar di atas lahan 128 hektare. Pelabuhan Batuampar dirancang menjadi pelabuhan modern untuk mendorong perekonomian Batam dan Indonesia. (Socrates/Batam Pos)

Batam adalah kota pulau. Sehingga, peran pelabuhan sangat vital untuk mobilitas barang dan orang. Namun, Pelabuhan Batuampar yang dibangun sejak 1971 awal pembangunan Batam, berkembang sangat lambat. Bagaimana prospeknya di masa depan?

Laporan: SOCRATES
Editor : MOHAMMAD TAHANG

DUA puluh tahun lalu, Abidin, bos Sat Nusapersada Tbk, sudah menyorot pelabuhan. “Pelabuhan harus diutamakan. Pelabuhan internasional akan memancing investasi karena bagi perusahaan elektronik, yang penting adalah bahan baku,” kata Abidin, dalam wawancara tahun 2001 silam.

Perkembangan Pelabuhan Batuampar, memang lambat. Padahal, pelabuhan barang terbesar di Batam ini, merupakan terminal umum yang berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor dan impor berupa curah, konvensional, dan peti kemas.

Padahal, jumlah kunjungan kapal barang dan peti kemas di Pelabuhan Batuampar dari tahun ke tahun terus meningkat. Apalagi, sebagai negara maritim, pelabuhan berperan mendorong perekonomian, titik temu antar-moda transportasi dan gerbang antar-negara. Jangan lupa, Batam sangat strategis. Berada di jalur pelayaran internasional, bertetangga dengan Malaysia dan Singapura.

Hasil penelitian Pelabuhan Batuampar yang dimuat di jurnal teknik sipil menyebutkan, pelayanan Pelabuhan Batuampar lamban. Dermaga tidak maksimal sehingga kapal terpaksa antre. Pengelolaan pelabuhan tidak efisien, baik secara operasional maupun fasilitas bongkar muat seperti Container Crane (CC), dan Rubber Tired Gantry (RTG).

Selama ini, bongkar muat peti kemas 86 persen dilakukan dengan cara truck losing, yakni bongkar muat dari kapal lansung ke truk, tanpa menggunakan fasilitas gudang. Sisanya, 14 persen baru ditumpuk di container yard atau lapangan penumpukan kontainer.

Blok Plan Pelabuhan Batuampar masa depan.

Pelabuhan Batuampar memiliki tiga dermaga, yaki dermaga Timur, dermaga Utara yang dibangun tahun 1970, dan dermaga Utara baru setelah reklamasi tahun 2015, serta dermaga Selatan yang pernah ditinggikan tahun 1991. Tahun 2019 lalu, sheetpile di bibir dermaga, amblas dan rusak dimakan usia.

Lambannya pelayanan, fasilitas yang tidak memadai, penataan pelabuhan yang tidak maksimal, berdampak pada masa bongkar muat barang yang lama. Akibatnya, dwelling time alias masa tunggu jadi lama. Pengelola pelabuhan rugi dan bagi pengusaha dan pengguna jasa pelabuhan menimbulkan ongkos tinggi.

Rata-rata, dwelling time pelabuhan di Indonesia masih di atas 3 hari. Malah, di Singapura dan Amsterdam, di bawah 1 hari. Dwelling time adalah waktu yang dihitung dari peti kemas bongkar muat sampai keluar dari pelabuhan. Lamanya dwelling time dipengaruhi koordinasi antara Bea Cukai dan pelabuhan, rantai birokrasi yang panjang serta fasilitas pelabuhan yang tidak memadai.

Awalnya, pelabuhan di Batam dikelola dan di bawah kewenangan syahbandar Pulau Sambu, Belakangpadang. Setelah Batam berkembang pesat, dibentuk syahbandar kelas V Sekupang dan Batuampar tahun 1985.

Tahun 1989, dibentuk Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Khusus Batam yang lebih dikenal dengan Kantor Pelabuhan (Kanpel) Kelas II Batam. Ekonomi Batam tumbuh pesat. Tahun 2002, Kanpel Batam naik menjadi kelas I.

Tahun 2017 Kantor Pelabuhan Laut masih bergabung dengan KSOP khusus Batam. Namun, tanggal 14 November 2017 Batam dan KSOP Khusus Batam berpisah sehingga Kantor Pelabuhan Laut berganti nama menjadi Badan Pengelola Pelabuhan Batam.

Tugas Kementerian Perhubungan antara lain; menyediakan dan memelihara sarana bantu navigasi pelayaran, menjaga keamanan dan ketertiban di pelabuhan serta menyusun sistem dan prosedur kelancaran arus barang. Sedangkan tugas BP Batam antara lain; menyediakan lahan, penahan gelombang, kolam pelabuhan, alur pelayaran masuk pelabuhan, dan jaringan jalan serta menetapkan tarif layanan jasa kepelabuhan. BP Batam juga bisa bekerja sama operasi dan manajemen dengan Badan Usaha Pelabuhan.

Tahun 2018, untuk pertama kali Ship to Ship Floating Storage Unit dilakukan di wilayah Perairan Batuampar. Yakni, layanan bongkar muat barang antar-kapal di laut atau perairan Batam. Kapal bisa memindahkan muatan seperti minyak atau gas dari kapal tanker atau kapal curah ke kapal sejenis atau jenis kapal lain dengan posisi yang berdekatan. Sedangkan Floating Storage Unit adalah semacam pom bensin terapung di lepas pantai.

Tahun 2020, Badan Pengelola Pelabuhan berubah nama menjadi Badan Usaha Pelabuhan BP Batam. Tujuan utamanya adalah menjadikan pelabuhan-pelabuhan di Batam sebagai green port dan smart port, jasa kepelabuhan yang andal, pelayanan maksimal, dan menerapkan teknologi informasi.

Dari namanya, pelabuhan-pelabuhan di Batam diharapkan memberi kontribusi pendapatan kepada BP Batam. Pelabuhan di Batam dijadikan sebagai unit usaha BP Batam, di bawah bidang pengusahaan yang tugasnya mengelola pelabuhan di wilayah kerja Badan Pengusahaan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Upaya pengembangan dan pembangunan Pelabuhan Batuampar sudah diupayakan sejak dulu. Tapi, beberapa kali gagal. Dalam rentang waktu 2003-2005, semasa Ismeth Abdullah menjadi Ketua Otorita Batam, dua kali tender pembangunan Pelabuhan Batuampar yang diikuti operator terminal kontainer ternama, gagal.

Sebut saja misalnya perusahaan PSA Coorporation Ltd yang dulu bernama Port of Singapore Authority. Perusahaan Singapura yang mengoperasikan hub transshipment peti kemas terbesar di negara jiran itu, dengan koneksi ke 600 pelabuhan di dunia, dan tahun 2020 silam menangani 36,6 juta TeUs peti kemas.

“Kita adakan tender internasional. Tender pertama, gagal. Tender kedua, pemenangnya Port Authority Singapore (PSA). Tapi, saat kita panggil agar menyerahkan dokumen, eh malah mereka tidak datang,” kata Ismeth Abdullah kepada Batam Pos, terkait rencana perluasan Pelabuhan Batuampar yang bertele-tele.

Tender ketiga dimenangkan perusahaan Prancis, Compagnie Maritime d’Affretement – Compagnie Generale Maritime (CMA-CGM) setelah dilakukan beauty contest. Namun, tidak tercapai kesepakatan soal konsesi pengelolaan pelabuhan yang diminta selama 50 tahun. Akhirnya, pembangunan Pelabuhan Batuampar juga gagal dilaksanakan. Seperti apa rencana pengembangan Pelabuhan Batuampar yang merupakan pelabuhan barang terbesar di Batam saat ini? (*)