Metropolis

Lewat Digitalisasi, Mendaftar Pun Tidak Perlu Lagi Mengarungi Lautan, Inovasi Dropbox Elektronik dari BPJS Kesehatan

Kanal pendaftaran peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan berupa Dropbox Elektronik sangat membantu masyarakat di pulau-pulau atau hinterland di Batam. Dengan Dropbox, menjadi peserta BPJS Kesehatan menjadi lebih mudah, tanpa perlu mengantri lagi. Layanan Dropbox mampu menjangkau hingga pulau-pulau terluar di Batam, yang berbatasan langsung dengan dunia internasional, contohnya Pulau Amat Belanda.

***

Warga Amat Belanda tengah mengangkat rengkam dari perahunya, Senin (30/8/2021). F.Rifki

Alkisah, ada sebuah pulau tanpa nama yang berlokasi di barat Pulau Batam. Pulau yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Singapura ini, dulu ditempati oleh seorang pria baik hati bernama Amat. Karena perawakannya mirip bule dari Belanda, seperti berkulit putih, berbadan tinggi dan berhidung mancung, orang-orang yang mengikutinya tinggal di pulau tersebut, kemudian menamai pulau tersebut sebagai Pulau Amat Belanda.

Cerita tersebut diungkapkan oleh RT Pulau Amat Belanda, Calak Bin Sajan, Senin (30/8/2021) saat berangkat dari Pulau Belakangpadang menuju Pulau Amat Belanda. Secara administratif, pulau ini masuk dalam RT 03 RW 04 Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakangpadang, Kota Madya Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Untuk tiba di pulau ini, maka harus mencarter perahu motor dari Pulau Belakangpadang. Ongkosnya Rp 50 ribu. Dari Pelabuhan Kuning, Belakangpadang butuh waktu 15 menit untuk tiba di Amat Belanda.

Dari kejauhan, pantai pulau ini diisi oleh rumah-rumah panggung khas rumah nelayan yang fondasinya berupa kayu-kayu kokoh yang tertanam kuat di dalam laut. Dermaganya sendiri hanya bisa dinaiki dari laut dengan tangga kayu. Di sepanjang pelantar menuju pemukiman warga pulau, terdapat banyak rumput laut berjenis sargassum sp atau rumput laut coklat yang tengah dikeringkan warga.

Rumput laut coklat ini atau biasa disebut rengkam oleh warga setempat merupakan salah satu komoditas yang menopang perekonomian Pulau Amat Belanda.

Pulau yang berlokasi dekat dengan perbatasan antara Indonesia dan Singapura ini memiliki kisah yang cukup menarik. Pada medio 1990-an, Amat Belanda merupakan lokalisasi favorit pelaut yang singgah di Pulau Sambu atau warga negara Singapura di sekitar Selat Malaka.

“Disini merupakan tempat hiburan. Begitu ramai, tapi sekitar 15 tahun lalu makin sepi, dan terus ditinggalkan masyarakat,” tutur Calak di rumahnya.

Menurut Calak, lokalisasi tersebut mencakup rumah-rumah panggung di sepanjang pantai Pulau Amat Belanda. Tidak heran lagi, karena masing-masing rumah nelayan tersebut memiliki cukup banyak kamar yang berjejer panjang saling berhadap-hadapan. Satu rumah ada yang memiliki sekitar 20 kamar.

Bahkan ada mini bar dan karaoke, tempat untuk menikmati minuman keras dan berkaraoke ria di sejumlah rumah penduduk. “Disini lokalisasi menyeluruh, pelaut sering singgah kesini. Makanya dulu sangat ramai, banyak yang pindah kesini baik itu dari Kalimantan, Jawa, dan lain-lain, karena pelaut biasanya bawa dolar,” ungkap Calak.

Namun, seiring berkembangnya Batam, pelan-pelan Amat Belanda mulai ditinggalkan oleh para pencari surga dunia.Tempat rekreasi orang dewasa tersebut pun seakan-akan mati suri. Kini, warga di Amat Belanda banyak didominasi oleh warga usia tua. Sementara itu, perekonomiannya kini ditopang oleh rengkam. Nelayan rengkam dari Amat Belanda biasanya menjala rengkam hingga ke luar wilayah Belakangpadang.

Rengkam ini bisa dipanen selama tiga bulan dalam setahun. Hasilnya diekspor ke China dan Vietnam. Pulau Amat Belanda bisa menghasilkan rengkam kering sebanyak 200 ton per bulan. Jika diambil rata-rata, maka penghasilan warga dari kegiatan menjala rengkam ini sekitar Rp 260 ribu per hari. Karena sifatnya musiman, pendapatan seperti ini pun tidak bisa terus dipertahankan. Ketika rengkam mulai kosong, maka menjadi nelayan pencari ikan pun menjadi pilihan. Mereka menjala ikan-ikan kecil untuk dimakan sehari-hari.

Meski pelan-pelan telah menata kembali fondasi ekonominya, warga pulau ini masih dihadapkan pada persoalan lainnya, berupa akses kesehatan yang kurang memadai. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, warga lansia banyak terdapat di pulau ini. Sementara itu, pusat kesehatan yang ada hanya sekelas puskesmas pembantu (pustu). Puskesmas utama sendiri berada di Pulau Belakangpadang

Sejatinya, jarak terdekat dari Amat Belanda ke Belakangpadang hanya 300 meter. Sehingga ketika air laut surut, ada jalan pasir membentang yang bisa diseberangi warga Amat Belanda yang mau beraktivitas di Belakangpadang, biasanya selalu dimanfaatkan kalangan pelajar atau warga yang ingin berobat ke Belakangpadang.

“Kalau sedang tidak surut, mau tak mau kami mengarung laut. Karena baik itu saat sakit, melahirkan atau meninggal, semuanya ke Belakangpadang. Kami sudah ajukan ke pemerintah agar dibuat jembatan ke Belakangpadang, agar bisa mempermudah masyarakat kami,” paparnya.

Kondisi geografis Amat Belanda yang terpisah oleh laut dengan pulau lainnya, memang menjadi suatu problem bagi warga Amat Belanda yang ingin berobat baik itu ke Belakangpadang atau Batam. Ketika laut sedang pasang, maka harus mencarter perahu boat agar bisa pergi ke Belakangpadang, maupun ke Batam. Ongkosnya sebesar 150 ribu sekali jalan, jika ingin pergi ke Batam.

Sebagai informasi, 90 persen penduduk Amat Belanda yang terdiri dari 128 Kepala Keluarga (KK) dan jumlah penduduk mencapai 317 jiwa ini merupakan peserta BPJS Kesehatan, yang termasuk dalam kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah, sehingga biaya perobatannya disubsidi pemerintah. Sementara, warga lainnya yang perekonomiannya cukup mampu menjadi peserta mandiri. Namun, belum semua warga di pulau ini menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Adapun alur yang digunakan agar bisa berobat ke Batam, yakni warga Amat Belanda datang ke Puskesmas Belakangpadang. Jika penyakitnya tidak bisa ditangani, maka akan dirujuk ke Batam, biasanya ke Rumah Sakit Badan Pengusahaan (BP) Batam yang berlokasi di Sekupang, Batam.

“Di tengah pandemi seperti saat ini, perekonomian warga Amat Belanda memang agak terganggu. Apalagi ketika berobat keluar Amat Belanda, ada keluarga yang mendampingi, sehingga biaya pun makin besar,” ungkapnya.

Ketika dirujuk ke Batam dari Belakangpadang, maka warga yang sakit belum tentu bisa ikut dalam perahu boat yang membawa penumpang. “Lagi pandemi, penumpang lain pada takut kalau ada penumpang yang naik sambil bawa infus dan oksigen. Apalagi biasanya ditemani oleh perawat yang pakai faceshield dan lain-lain. Jadi mau tidak mau, memang harus carter kalau mau ke Batam,” tuturnya.

Lalu, ketika di Batam, memang ada ambulans yang akan membawa ke rumah sakit. Tapi, tentu saja masih ada persoalan lainnya yakni persoalan antrian. Jika penyakitnya ringan, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi jika kondisinya berat, belum tentu bisa ditangani dengan cepat, lantaran saat pandemi, Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSBP sering penuh, serta bagi pasien rawat inap tentu akan menambah biaya perobatan lebih besar lagi.

Selain perobatan, persoalan lainnya yang mengemuka yakni ketika mau mendaftar. Bagi warga Amat Belanda yang hendak mendaftar menjadi peserta mandiri, harus mengarungi laut, menuju Kantor BPJS Kesehatan Cabang Batam yang berlokasi di Batamcentre. Tapi sudah menjadi rahasia umum, kalau kantor BPJS selalu ramai antrian, sehingga bagi yang tidak kedapatan antrian, maka harus kembali datang esok hari.

Lalu, saat pandemi seperti sekarang ini, tentu saja berkerumun merupakan hal yang diimbau tidak dilakukan, untuk mencegah penyebaran Covid-19. Terkadang warga dari pulau-pulau yang datang jauh-jauh harus menelan pil pahit, lantaran antrian dibatasi dan jam buka kantor BPJS Kesehatan juga turut dikurangi, yakni hanya melayani hingga pukul 14.00 WIB. Sehingga mereka pun pulang dengan tangan hampa dan hati yang nestapa.

Berbagai persoalan tersebut akhirnya tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan solusi, saat BPJS Kesehatan Cabang Batam memperkenalkan layanan Dropbox. Dropbox sebenarnya telah diperkenalkan sejak 2018, yang pada awalnya merupakan salah satu upaya perluasan kanal pendaftaran. Tapi, sayang belum tersosialisasikan secara baik hingga ke pulau-pulau terluar di Kota Batam.

Bagi masyarakat yang enggan pergi ke kantor cabang BPJS karena jarak yang cukup jauh, pendaftaran melalui dropbox tentu sangat memudahkan. Karena dropbox tersedia hampir di seluruh kantor camat di Kota Batam.

Dropbox dikatakan sangat efektif karena masyarakat yang ingin mendaftar cukup meletakkan berkas pendaftaran ke dalam box dan menunggu sampai proses pendaftaran selesai. Di dekat kotak juga sudah dicantumkan informasi mengenai berkas apa saja yang perlu dilampirkan untuk pendaftaran peserta BPJS Kesehatan.

Kemudian, setiap seminggu sekali, petugas BPJS Kesehatan akan mengambil berkasnya. Konfirmasi mengenai kelengkapan, proses pembayaran, sampai sukses pendaftaran akan disampaikan melalui telepon.

Meskipun begitu, Dropbox kurang termanfaatkan dengan baik. Tampak dari minimnya berkas pendaftaran yang masuk ke dalam dropbox. Seiring digitalisasi yang merambah ke berbagai sektor, maka Dropbox pun bertransformasi menjadi Dropbox Elektronik yang memanfaatkan scan barcode untuk memudahkan pendaftaran peserta BPJS Kesehatan.

Scan barcode yang diakses lewat Dropbox Elektronik akan mengarahkan pengguna untuk mengisi link berupa data nomor kartu keluarga (KK), E-KTP, fasilitas kesehatan (faskes) dan juga kelasnya. Setelah diisi, kemudian akan terkirim lewat nomor Whatsapp yang ada di link tersebut.

Calak mengetahui bahwa saat ini, BPJS Kesehatan Cabang Batam tengah menggalakkan program ini hingga ke pulau-pulau terluar Indonesia, seperti Amat Belanda. Adapun informasi mengenai Dropbox Elektronik disebarkan melalui perangkat kelurahan, yang kemudian mensosialisasikannya kepada masyarakat. Ia ingin membantu program tersebut agar bisa dinikmati oleh warga Amat Belanda.

Dropbox ini juga berdampingan dengan aplikasi mobile Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). JKN-KIS ini berfungsi sebagai kartu KIS digital yang bisa dibawa ke faskes untuk berobat, mengubah data, pendaftaran peserta mandiri, antrian online dan juga screening riwayat kesehatan.

“Bagi yang ikut peserta mandiri, memang diuntungkan,” imbuh Calak.

Menurut Calak, tidak semua warga Pulau Amat Belanda paham mengenai aplikasi digital dari BPJS Kesehatan tersebut, apalagi memiliki smartphone yang canggih. Amat Belanda hanya diuntungkan dari sinyal seluler yang cukup bagus.

Tapi, ia yakin dengan kerja keras dan upaya berkesinambungan, maka sistem Dropbox akan mampu melakukan penetrasi hingga tengah-tengah masyarakat Amat Belanda.

Calak kemudian mengungkapkan bahwa sebelumnya, warga Amat Belanda yang merupakan peserta BPJS Kesehatan kategori PBI, mendaftarkan diri lewat kelurahan. Dari kelurahan, kemudian berkas diantar menuju Dropbox di kecamatan. Lalu setelah itu, petugas BPJS datang mengambilnya dan mengurus kepesertaan warga di Batam. Dan terakhir, setelah selesai, maka kartu JKN-KIS akan dibagikan lewat kelurahan.

Program BPJS ini dianggap akan sangat membantu mengurangi beban warga Amat Belanda maupun warga pulau lainnya saat berobat keluar dari pulaunya. Melalui pendaftaran online lewat Dropbox, maka bisa menghemat waktu dan uang, serta tidak perlu lagi mengarungi laut untuk mendaftar langsung atau konsultasi ke kantor BPJS di Batam. Lewat antrian online yang terdapat di aplikasi JKN-KIS, maka hanya perlu datang tepat sebelum waktu berobat, sehingga menghemat waktu dan biaya seoptimal mungkin.

Calak berharap agar BPJS Kesehatan terus berupaya untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan, agar menjangkau warga-warga Batam yang tinggal di pulau-pulau terluar, yang berbatasan langsung dengan dunia internasional. “Selain itu, saya berharap kepada pemerintah agar segera merealisasikan pembangunan jembatan penghubung antara Amat Belanda dan Belakangpadang untuk memudahkan akses kami, dan juga memajukan Amat Belanda,” harapnya.

Terpisah, Kasi Pemerintahan dan Pelayanan Umum Kelurahan Sekanak Raya, Belakangpadang, Supriati mengungkapkan perekonomian masyarakat di Kecamatan Belakangpadang banyak terdampak pandemi, sehingga bagi yang ingin menjadi peserta BPJS Kesehatan, menuntut masuk dalam kategori PBI.

“Ya, karena disini rata-rata berprofesi sebagai nelayan, tukang becak, tekong pancung (sejenis perahu tradisional bermesin,red) dan lain-lain. Di Sekanak Raya, ada empat pulau termasuk Amat Belanda, dan banyak yang belum paham mengenai BPJS. Jadi, kami sering meminta kepada RT dan RW untuk mengirimkan data masyarakat tidak mampu yang belum punya BPJS,” jelasnya.

Ia mengapresiasi langkah BPJS yang memperkenalkan layanan Dropbox Elektronik yang berguna untuk pendaftaran peserta baru, hanya lewat smartphone. “Kami akan sosialisasikan kepada perangkat RT dan RW agar mengedukasi warganya menggunakan layanan baru ini,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Belakangpadang, Yudi Admajianto mengatakan dari literatur yang pernah ia baca, Amat Belanda merupakan lokasi pertama penyakit AIDS yang pertama di Batam, imbas dari posisinya sebagai salah satu lokalisasi di Batam di masa lampau. Ketika lokalisasi mulai ditinggalkan, maka berimbas pada perekonomian warga secara keseluruhan.

Untuk mengangkat taraf hidup masyarakat, selain tentu saja dengan menggalakkan ekspor rengkam, ia juga memang mengupayakan agar jembatan penghubung bisa segera dibangun, supaya akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan semakin terjamin

“Warga Amat Belanda bisa dilayani puskesmas di BLP, tapi banyak biaya yang harus ditanggung. Dari segi biaya perobatan, Alhamdulillah sudah ditanggung BPJS Kesehatan, tapi dari mobilitas menuju ke Belakangpadang banyak keluar biaya,” ungkapnya.

Mengenai Dropbox Elektronik, ia akan segera memberikan edukasi kepada perangkat masyarakat hingga tingkat RT RW agar bisa tersosialisasikan dengan baik. Layanan ini penting, karena mempermudah masyarakat dalam memperoleh akses kesehatan.

“Di Kecamatan Belakangpadang ini, penyakit yang rutin dialami itu paru-paru dan diabetes. Paru-paru itu karena banyak warga merupakan nelayan. Mereka terkena angin laut, dan juga banyak merokok saat menjala ikan. Sedangkan diabetes itu, karena warga disini hobi ngopi, apalagi kalau tidak sedang melaut,” jelasnya.

Ia berharap BPJS Kesehatan terus berupaya berinovasi, agar program yang dimiliki tersiar hingga ke pulau-pulau yang jauh. “Saya berharap BPJS lebih banyak lagi menjangkau pulau-pulau terluar di Batam, misalnya Pulau Kasu, Amat Belanda, Terung dan lain-lain,” harapnya.

Komitmen BPJS untuk Terus Berinovasi

Kondisi masyarakat Batam yang belum sepenuhnya melek digital, memang membuat Gedung BPJS Kesehatan Batam masih diserbu oleh warga yang memiliki keperluan yang terbilang ringan.

Misalnya, menanyakan keaktifan kartu, mendaftar layanan BPJS secara mandiri, mengubah data dan lain-lain. Pantauan Batam Pos, ratusan orang terlihat mengantri untuk mendapatkan pelayanan di samping Kantor BPJS Kesehatan Batam di Batam Centre, Selasa (24/8/2021).

Kabid Kepesertaan dan Kepelayanan Peserta BPJS Kesehatan Batam, Neneng Indira mengatakan BPJS sebenarnya sudah lama mensosialisasikan layanan digital untuk mempermudah peserta dalam mengurus keperluannya. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang ini, diimbau jangan berkerumun.

“Lewat handphone sudah bisa. Misalnya layanan online Pandawa. Pandawa ini lewat nomor Whatsapp. Disini bisa ubah data dan juga bisa mendaftar. Nanti ada petugas akan membalas chatnya. Kalaupun datang ke kantor, maka masyarakat peserta PBI yang handphonenya jadul, amak akan diterima untuk diedukasi, sedangkan yang bisa menggunakan Whatsapp, akan kami arahkan lewat Pandawa ini,” kata Indira.

Kemudian, ada juga aplikasi Mobile JKN-KIS. Dari aplikasi ini, peserta bisa membuat kartu digital. “Tinggal tunjukin kartu digital ini saja ketika berobat. Lewat aplikasi ini juga bisa melakukan perubahan faskes, yang sebulan setelahnya baru berlaku. Bisa juga ubah data, alamat, telepon dan lain-lain. Ada juga layanan screening kesehatan, dimana peserta bisa cek kesehatannya, sebelum dibawa lebih lanjut berobat. Ada juga antrian online, sehingga tidak perlu antri. Cukup antri lewat HP, dan kemudian tinggal datang sesuai jamnya,” tegasnya.

Selanjutnya ada Cika yang merupakan kepanjangan dari Chat Assistant JKN. “Ini robotik. Lewat layanan ini bisa menanyakan jumlah tunggakan dan keaktifan kartu, lewat nomor layanan Whatsapp. Ketika dihubungi, maka yang balas adalah robot,” jelasnya.

Dan terakhir ada Voice Interactive JKN (Vica) di nomor layanan 1500 400. “Ini buat cek status peserta dan tagihan, karena ini yang paling banyak ditanya peserta. Bisa juga untuk ganti faskes,” ungkapnya.

BPJS Kesehatan, kata Indira, selalu berupaya semaksimal mungkin agar layanannya bisa menjangkau seluruh masyarakat Batam, termasuk menggunakan media massa, media sosial serta menggalakkan Tenaga Kesehatan Kesejahteraan Sosial (TKSK) di Kelurahan dan Kecamatan.

“TKSK ini seperti petugas relawan, orang yang terlibat di masyarakat yang mengurusi masalah sosial terkait BPJS,” jelasnya.

Untuk saat ini, kendala yang masih diupayakan untuk dibenahi yakni informasi mengenai program BPJS belum menjangkau ke perangkat RT dan RW masyarakat di hinterland. “Makanya kami ingin kerja sama dengan kader posyandu, agar bisa menyampaikan informasi dan berinteraksi dengan keluhan masyarakat, kemudian mengedukasikannya ke RT dan RW. Sehingga jika ada masyarakat yang bertanya, maka langsung bisa dijawab,” jelasnya.

Digitalisasi yang sudah merambah segala aspek layanan BPJS Kesehatan, memang masih harus diimbangi penetrasi informasi ke tengah-tengah masyarakat yang belum sepenuhnya melek digital. Indira sadar hal ini menjadi tantangan bagi tim BPJS, sehingga lewat layanan Dropbox Elektronik, BPJS Kesehatan ingin menjangkau pulau-pulau yang jauh.

“Kami lagi coba galakkan di Pulau Karimun. Masyarakat yang ingin daftar tapi handphone-nya jadul, bisa dibantu lewat Dropbox oleh perangkat setempat atau TKSK. Dropbox merupakan inovasi dari BPJS Kesehatan Cabang Batam buat menjangkau pulau-pulau terluar,” pungkas Indira. (*)

Reporter: RIFKI SETIAWAN
editor: tunggul