Metropolis

Jalan Masuk Ditutup Paksa, Anak-Anak Ponpes An Nur Menangis

Puluhan anak-anak pondok pesantren An Nur di pantai Melur, Kelurahan Sijantung, Galang di jalan akses ke ponses yang ditutup

batampos.id-Puluhan anak-anak pondok pesantren An Nur di pantai Melur, Kelurahan Sijantung, Galang menangis histeris, Rabu, (1/9) pagi tadi. Mereka sedih sebab satu-satunya akses jalan masuk mereka ditutup paksa oleh salah satu perusahaan pengelola pantai yang klaim sebagai pemilik lahan akses jalan tersebut.

BACA JUGA: Izin Belum Lengkap, KUA Minta Hentikan Sementara Aktivitas Pesantren Nurul Aulia Al Muhklasin di Kundur

Puluhan anak-anak bersama pengasuh mereka sempat melakukan aksi penghalangan di lokasi penutupan akses jalan, namun pihak perusahan tetap bersikeras menutup akses jalan tersebut.

“Pakai hatilah pak, ini tak ada lagi jalan kami. Ini satu-satunya akses jalan masuk. Kalau ini ditutup mau lewat mana lagi kami,” ujar Erna, pengurus pondok pesantren An Nur.

Meskipun memohon dengan tangis pilu anak-anak, namun penutupan jalan tetap dilakukan. Pihak pengelola wisata pantai tetap mengerahkan alat berat untuk menimbun akses jalan masuk yang sudah berpuluh tahun ada tersebut. Siang kemarin, Selasa (31/8) jalan tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Aksi anak-anak ponpes ini menarik simpati masyarakat sekitar sehingga masyarakat juga bergabung bersama anak-anak tadi untuk menghalau aksi penutupan jalan tersebut.

Suyanti, warga yang anaknya pondok di Ponpes An Nur menuturkan, sangat tidak beralasan jika akses jalan tersebut ditutup dengan dalil sebagai pemilik lahan. Akses jalan tersebut sudah ada sejak lama bahkan jauh sebelum pantai Melur di kelola oleh pihak perusahaan. Jika pihak perusahaan klaim sebagai pemilik lahan yang sah, surat mana yang dipegangnya sebab setahu Suyanti, lahan di pulau Galang masih berstatus quo.

“Jangan mengada-ada. Ini jalan sudah ada sejak dahulu kala. Jangan main klaim dan tutup seperti ini. Kasihan masyarakat dan juga anak-anak di pondok pasantren ini. Kalau terisolasi seperti ini bagaimana anak-anak ini bisa bertahan karena mereka juga bergantung dengan lingkungan luar,” ujarnya. (*)

REPORTER : EUSEBIUS SARA
editor: tunggul