Zetizen

Kala Korban Perundungan Pilih Melawan

Batampos.id – DARI sekian banyak kisah manis di sekolah, nyatanya masih kerap terjadi aksi perundungan. Permasalahan itulah yang diangkat AlRawabi School for Girls, serial drama bahasa Arab yang rilis pada 12 Agustus kemarin di Netflix. Serial tersebut terdiri atas enam episode dengan menyuguhkan konflik kehidupan remaja di sekolah khusus perempuan di Jordania. Serial yang diproduksi Filmizion Productions itu kental dengan vibes Mean Girls dan balas dendam ala Girl from Nowhere.

Berkisah tentang Mariam (Andria Tayesh), remaja sederhana kutu buku, dan murid lainnya yang menjadi sasaran bullying. Awalnya, nggak ada seorang pun di antara mereka yang berani melawan trio penguasa sekolah, Layan (Noor Taher), Raina (Joanna Arida), dan Ruqqaya (Salsabiela A.). Mariam biasanya juga hanya mengabaikan Layan.

Namun, masalah memburuk ketika Mariam bersinggungan dan menjadi target utama bullying dari trio tersebut. Merasa hidupnya dihancurkan, Mariam menyusun strategi untuk melawan Layan dan kawanannya agar jera. Dengan bantuan murid baru, Noaf (Rakeen Saad), Mariam siap melakukan balas dendam.

Perkembangan karakter di serial ini cukup bikin penasaran dengan kepribadian setiap tokoh dan bagaimana mereka bertindak di berbagai situasi. Kita juga bisa melihat sikap pihak sekolah yang lalai dalam menyelidiki kasus perundungan dan dampak orang tua yang arogan terhadap pendidikan moral anak. Menariknya, kamu akan banyak tahu perspektif baru mengenai budaya yang ada di sana.

AlRawabi School for Girls berhasil menyampaikan pesan terkait dampak bullying dengan baik. Pesan tentang bagaimana bullying bisa melukai seseorang secara mental dan fisik. Luka yang ditimbulkan itu juga akan membekas hingga mampu mengubah perilaku korban dan menjadi mata rantai yang nggak bisa putus. Nggak cuman bullying, terkandung pula pesan lain seputar isu-isu yang relate dengan kehidupan remaja seperti body shaming, kesetaraan gender, dan kebebasan ruang berekspresi untuk perempuan.

Serial garapan sutradara Tina Shomali dan Shirin Kamal itu sudah dirilis kurang lebih di 190 negara dan 32 bahasa yang berbeda, termasuk bahasa Indonesia. Proses syuting sendiri dilakukan di ibu kota Jordania, Amman. AlRawabi School for Girls juga menjadi debut internasional pertama Andria Tayeh, Noor Taher, Joanna Arida, Yara Mustafa, dan Rakeen Saad. Belum ada kabar mengenai penayangan season kedua. Semoga saja secepatnya agar bisa meng­obati rasa penasaran penonton, ya. (elv/c12/lai) Tidak ada salahnya menjadi kutu buku. Kamu berpendirian teguh serta berani memperjuangkan hal yang kamu sukai dan sayangi. Sebagaimana Mariam yang penuh perencanaan, kamu juga selalu berpikir panjang dan mencari solusi terbaik. Meski terlihat tidak mudah didekati, kamu bisa memberikan rasa nyaman kepada orang terdekat.

You’re the lit girl! Kamu mudah akrab dengan siapa saja dan populer di mana pun kamu berada. Sama halnya dengan Layan yang populer karena menawan dan bakatnya dalam menyayi. Well, meski kadang dianggap arogan, kamu sangat berani menyampaikan pendapat dan tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kamu maupun temanmu.

Kamu nyaman menghabiskan waktu sendirian dan recharge energy di rumah. Noaf selalu menggunakan earphone-nya karena memilih untuk tidak mendengarkan perkataan orang lain. Terkesan acuh tak acuh dan pendiam, tetapi kamu adalah orang pertama yang akan memikirkan cara yang tepat untuk membantu teman.

 

“Bullying di Sekolah”

Reporter : Sonia Novi
Editor : Agnes Dhamayanti

Suka nonton film di aplikasi netflix? Filmnya keren-keren ya. Nah, ada film baru film bergenre Arab. Asyik loh untuk ditonton. Yuk simak review filmnya dari anak millenial! (*)

F. Dok. Pribadi

Nina Tasha Dira
Stikes Mitra Bunda
@diraantsh

FILM ini menceritakan kisah murid-murid perempuan yang ada di Sekolah Perempuan AlRawabi.
Di sekolah itu, ada satu gadis yang paling ditakuti serta dihormati oleh teman-temannya. Tentu dengan popularitasnya yang naik, ia memiliki beberapa teman yang siap membelanya. Namun, ada beberapa gadis yang tidak menyukai perilakunya yang selalu semena-mena. (*)

F. Dok. Pribadi

Muhammad Triresha Anjasta
Universitas Panca Budi
@mhdnjass

DARI film yang saya tonton ini saya mengambil kesimpulan bahwa sekolah ini menyimpan cerita yang biasa terjadi di sekolah-sekolah pada umumnya, yaitu perundungan atau pembully. Ada satu gadis yang memiliki ”power” dan ditakuti serta dihormati oleh teman-temannya.
Ia memiliki beberapa teman yang akan siap sedia untuk membelanya karena ia memiliki popularitas.
Seorang gadis akhirnya merencanakan balas dendam kepada si gadis perundung itu karena ia tak tahan dirundung secara terus-terusan. (*)